Portal Lengkap Dunia Marketing

UMKM

Sempat Terpengaruh Pandemi Covid-19, Sch Mulai Bangkit

Marketing.co.id – Berita UMKM | Pandemi Covid-19 masih terus mewabah hingga saat ini di penjuru Indonesia sejak Maret 2020 lalu. Imbasnya, sektor ekonomi skala kecil dan menengah juga ikut merasakan dampaknya, termasuk brand clothing legendaris asal bandung Ouval Research (Sch).

Baca Juga: Gummo, Street Footwear Urang Bandung

Pemilik merek Rsch Rizki Yanuar mengatakan, dampak pandemi paling berat yang dirasakannya yaitu ketika isu Covid-19 pertama kali mulai masuk, sekitar bulan Maret-April. Saat itu, mungkin orang-orang bereaksi dan takut pergi ke toko yang otomatis memengaruhi penjualan. Dan, ketika PSBB mulai diberlakukan karena toko sama sekali tidak boleh buka. “Saat ini, omzet sudah membaik dibandingkan awal-awal pandemi,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 membuat channel penjualan online menjadi primadona. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa channel penjualan online menjadi penyelamat di era pandemi. Karena, belanja online menjadi alternatif masyarakat untuk mengurangi risiko tertular virus di tempat ramai.

Baca Juga: Media Sosial Membuat Sch Terkenal di Luar Negeri

Beruntung bagi Sch yang sudah lama masuk ke ranah online. Bahkan, sebelum pandemi Rizki mengaku penjualan Sch melalui online sudah sangat bagus.  Lebih lanjut Rizki menjelaskan, ketika pandemi masuk Indonesia yang membuat toko harus tutup, strategi yang digunakannya adalah memindahkan hampir semua stok yang ada ke online. Simpelnya kita scaleup secara stok barang di online.

Selain itu, Rizki juga menambahkan channel penjualan baru di marketplace seperti Tokopedia, Shopee dan Bukalapak. Di luar itu, ia juga membuat akun-akun bayangan (tambahan) untuk membackup penjualan di beberapa toko yang ada di luar Bandung. Misal dengan membuat akun Shopee Sch Malang, Bogor, Makassar dan lainnya. Jadi, setiap toko memiliki akun penjualannya sendiri.

Baca Juga: Kunci Sukses Sch, Konsisten Menjaga Image

Akun tambahan di luar official tersebut dibuat karena banyaknya stok barang. Seperti diketahui, hampir rata-rata produksi ritel fashion sebelum puasa selalu ditingkatkan. Nah, kondisinya saat itu barang sudah tersebar ke setiap toko. Ketika pandemi masuk, ternyata penjualan di toko tidak sesuai yang diharapkan. Karena, orang banyak yang takut datang ke toko.

Baca Juga: Tetap Tumbuh di Tengah Persaingan Bisnis Distro yang Ketat

Jadi salah satu cara untuk membackup penjualan di toko cabang adalah dengan membuatkan akun marketplace. Yang jadi adminnya adalah karyawan yang ada di toko. Strategi yang dijalankannya ternyata membuahkan hasil, Rizki mengaku tetap dapat mengirim ribuan paket selama pandemi.

“Alhamdulilah, saat ini di online penjualannya sangat meningkat, bahkan jauh lebih baik dibandingkan sebelum pandemi. Selama pandemi berlangsung pun kami tidak ada pengurangan pegawai,” pungkasnya.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Berita Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top