Komunikasi Publik dan Pengertian Media: Kunci untuk Menjadi Narasumber Berkualitas

[Reading Time Estimation: 3 minutes]

Rian Mohamad Yusuf, Konsultan Humas dari URALA IndonesiaKomunikasi Publik dan Pengertian Media: Kunci untuk Menjadi Narasumber Berkualitas

Marketing.co.id – Berita Marketing | Baru-baru ini, sering kali kita melihat tokoh publik yang menjabat di instansi pemerintah memberikan pernyataan yang tidak akurat kepada media massa, yang kemudian harus diklarifikasi berkali-kali.

Atau, bahkan ada insiden di mana seorang pejabat daerah tersinggung dengan pertanyaan wartawan dan memberikan respon yang tidak pantas. Meskipun pejabat tersebut akhirnya meminta maaf, namun di era media sosial yang tak terbatas, perilaku negatif ini dengan cepat menyebar dan merusak citra mereka di mata publik.

Ternyata, tidak hanya di sektor pemerintahan, kecerobohan seperti ini juga terjadi di sektor swasta. Contohnya, beberapa waktu yang lalu ada perusahaan teknologi yang memproduksi gadget meluncurkan serangkaian produk terbarunya. Lalu, saat narasumber perusahaan tersebut memberikan wawancara eksklusif kepada media, ia secara tidak sengaja mengungkapkan informasi tentang produk yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh publik. Akibatnya, produksi produk tersebut mengalami penurunan yang berdampak negatif pada reputasi merek perusahaan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa masih banyak instansi dan perusahaan yang memberikan tanggung jawab kepada narasumber yang kurang memiliki keterampilan dalam komunikasi publik dan berinteraksi dengan media dan jurnalis. Kelalaian dari para narasumber ini tentu saja dapat berdampak fatal pada reputasi instansi atau perusahaan tempat mereka bekerja.

Ketidaktahuan, atau menganggap ringan pentingnya keterampilan komunikasi publik dan berinteraksi dengan media adalah faktor yang menyebabkan kelalaian dari para narasumber ketika berhadapan dengan media.

Rian Mohamad Yusuf, Konsultan Humas dari URALA Indonesia, menyampaikan hal ini saat mengadakan pelatihan tentang pemahaman media dan jurnalis kepada perusahaan FMCG di Pondok Indah. Menurutnya, ketika seseorang ditunjuk sebagai narasumber oleh suatu instansi atau perusahaan, ia membawa tanggung jawab atas reputasi dan citra instansi atau perusahaan tersebut.

“Menjadi narasumber adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, dapat meningkatkan kredibilitas narasumber, tetapi di sisi lain, bisa menjadi senjata tajam yang merugikan instansi atau perusahaan yang ia wakili. Setiap tindakan dan perkataannya akan dianggap oleh publik sebagai cerminan citra dan reputasi organisasi,” ujar Rian.

Salah satu dampak dari kecerobohan para narasumber dalam berinteraksi dengan media adalah munculnya krisis. Banyak instansi dan perusahaan yang harus menghadapi krisis yang disebabkan oleh kelalaian narasumber. Dalam pelatihan tersebut, Rian juga menjelaskan pentingnya bagi narasumber untuk memahami cara kerja media sebagai langkah mitigasi krisis.

“Selain menguasai komunikasi publik, narasumber juga harus memahami bagaimana jurnalis bekerja, sehingga mereka dapat menunjukkan empati ketika berinteraksi dengan jurnalis. Dengan demikian, setiap komunikasi verbal dan non-verbal yang keluar akan memberikan dampak positif. Dengan pemahaman ini, celah untuk terjadinya krisis yang disebabkan oleh narasumber dapat diminimalisir,” kata Rian.

Manajemen reputasi dan citra adalah investasi jangka panjang bagi suatu instansi atau perusahaan. Salah satu langkah investasi tersebut adalah melalui pelatihan media (Media Training) bagi para pemegang posisi strategis yang juga ditunjuk sebagai narasumber.

Pelatihan media memberikan banyak manfaat, seperti cara menjalin hubungan baik dengan media serta pemangku kepentingan lainnya. Manfaat berikutnya adalah untuk menjadi narasumber yang dapat dipercaya, dan mampu mengatasi manajemen krisis dan PR di perusahaan. Pelatihan ini merupakan investasi yang penting bagi pimpinan perusahaan dan reputasi bisnis. Peserta juga akan mendapatkan simulasi wawancara media dan review untuk mengetahui bagaimana intonasi dan gerakan tubuh yang tepat saat melakukan wawancara dengan media.

Ada banyak organisasi, baik formal maupun informal, yang menawarkan layanan pelatihan media. Salah satunya adalah URALA Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang Public Relations dan Marketing Digital. URALA aktif dalam mensosialisasikan pentingnya berkomunikasi secara aktif untuk menjalin hubungan baik dengan media melalui layanan pelatihan media dan workshop untuk instansi pemerintah, swasta, dan sektor pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here