Portal Lengkap Dunia Marketing

PROPERTY & RETAIL

Elektronik City Inovasi Ritel Berkonsep Pameran

”Lebih dari sekadar pameran”, Elektronik City berupaya menawarkan value kenyamanan berbelanja pada konsumennya.

Apa yang harus kita gali, guna meningkatkan value added bagi konsumen? Di dunia bisnis, inovasi adalah hal wajib yang harus dicermati. Jika tidak, siap-siap gigit jari melihat konsumen berpindah ke lain hati ke kompetitor.

Bicara soal inovasi, agaknya bidang elektronik jagonya, dan tidak ada habis-habisnya inovasi di bidang yang satu ini terus digali dan dikembangkan. Itu sebabnya, banyak kita jumpai produk-produk elektronik modern yang semakin canggih, menggoda perhatian konsumen.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan konsumen akan produk elektronik, inovasi di bidang produk elektronik pun semakin gencar bermunculan. Gairah konsumen seakan tak ada habis-habisnya memburu produk elektronik yang semakin tipis dan menawan fitur-fiturnya.

Jika dulu, orang memandang produk elektronik sebagai barang mewah, kini produk elektronik tidak lagi dipandang sebagai barang mewah. Bahkan saat ini elektronik sudah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari masyarakat.

Seiring dengan meningkatnya inovasi dan permintaan konsumen, ritel-ritel penjual elektronikpun kini semakin menjamur. Hiruk pikuk itu juga diramaikan dengan munculnya Electronic City, yang memosisikan diri sebagai toko elektronik modern, dan terlengkap di kelasnya.

Electronic City pertama kali hadir November 2001 di daerah Sudirman Central Bussiness Distrik (SCBD). Toko elekrtonik modern ini hadir dengan konsep baru, yaitu konsep pameran. Hingga kini, Electronic City terus berkembang dengan menggunakan konsep yang konsisten. Setelah depalan tahun berdiri, Electronic City sudah memiliki sepuluh cabang. Tujuh cabang tersebar di Jabodetabek, tiga lagi di Bandung, Bali, dan Medan.

Menurut Wiradi, Corporate Affair PT. Electronic City Indonesia, Electronic City masih melakukan ekspansi yang konservatif. Bagi Elektonik City, lokasi mempunyai peran yang cukup vital. Dalam memilih lokasi, Electronic City mencari tempat yang strategis, paling cocok dan dekat dengan konsumen.  Apabila kami memilih lokasi pameran di mal, kita juga harus melihat karakter, dan segmen di mal tersebut.

Electronic City sangat memperhatikan segmen dari lokasi yang dibidik. Untuk melihat apakah sudah pasar sudah siap menerima konsep tokonya atau belum. Electronic City mengusung konsep pameran. Konsep yang berbeda ketika masyarakat masih berbelanja produk-produk elektronik di toko-toko tradisional seperti di Glodok dan toko-toko lain. Di pasar tradisional konsumen menggunakan sistem tawar menawar. Sedangkan di Electronic City mengusung konsep open price. Harga yang ditawarkanpun fair, sesuai dengan harga yang ada di pasaran.

Electronic City menempatkan ritelnya di mal-mal dan juga membangun gedung sendiri di kawasan SCBD. Selain itu, Electronic City juga menggandengn kerjasama dengan mal-mal, dengan tujuan untuk meraup konsumen yang berkunjung di mal.

Sedangkan dengan membangun gedung sendiri, Electronic City berusaha lebih ekstra untuk menarik pengunjung. Keuntungan lain dengan berpameran di gedung sendiri, Electronic City bisa membuat inovasi-inovasi sesuai dengan kebutuhan dan kreativitas mereka. Sebagai contoh Electronic City di Sudirman menambahkan foodcourt di area gedungnya.

Alasan Electronic City mengusung konsep pameran, supaya mampu menarik konsumen lebih banyak. Dengan konsep pameran, lebih mudah menggundang perhatian konsumen untuk datang berbondong-bondong berbelanja di Electronic City.

Konsep yang ditawarkan Electronic City lebih dari sekadar pameran biasa. Karena, Electronic City juga menawarkan kenyamanan berbelanja. Nyaman di sini berarti kenyamanan secara keseluruhan, ya urusan parkir, penataan barang, dan harga yang ditawarkan pun juga mengundang minat konsumen untuk berbelanja. Electronic City menawarkan banyak value yang tidak ditawarkan di pasar tradisional elektronik lainnya.

Value dan kemudahan yang ditawarkan Electronic City contohnya lokasi parkir yang luas, display produk yang dikelompokkan sesuai dengan brand.  Selain itu, Electronic City juga menyediakan  sales person untuk memberikan keterangan dan bantuan tentang informasi produk kepada konsumen. Dari sisi harga, Electronic City memberikan open price kepada konsumen. Tujuannya supaya orang bisa mengetahui harga secara fair. Electronic City juga memberikan added value kepada konsumen. “Kita memberikan asuransi dan garansi untuk semua produk. Selain itu juga adanya program-program cicilan 0% dan diskon-diskon khusus.” tutur Wiradi

Electronic City menyediakan sebagian besar kebutuhan elektronik rumah tangga. Lengkap dari audio visual, kulkas, mesin cuci, AC, small home appliance, dan ponsel. Walaupun tidak fokus pada salah satu kategori elektronik saja, Electronic  City lebih dikenal untuk kategori visual, televisi, dan LCD. Produk-produk tersebut masih menjadi best seller penjualannya. Electronic City masih menjadi pemain paling besar untuk produk LCD.

Keunggulan Electronic City merupakan ritel pertama yang menggusung konsep pameran untuk menjual produk-produk elektronik. Electronic City adalah ritel asli dari Indonesia, dan pertama di bisnis ini, sehingga mempunyai pengalaman yang lebih baik. “Kita juga mau untuk belajar dan berubah untuk memenuhi keinginan konsumen.” ujar Wiradi.

Itu sebabnya, Electronic City selalu memberikan servis dan inovasi program menarik untuk memberi kemudahan berbelanja bagi konsumen..

Wiradi memandang prospek industri ini sangat bagus. Ketika tahun 2001, Electronic City membuka ritelnya – masih sebagai pemain tunggal dengan format Hypermarket. “Meski di awal-awal tahun kita cukup berat, terutama dalam mengedukasi konsumen untuk berbelanja ke konsep toko elektronik semodern ini.” jelas Wiradi.

Tak lama kemudian muncul ritel asing dengan dan konsep yang sama. Hingga satu-persatu bermunculan pemain baru yang menawarkan konsep bisnis seperti Electronic City, Hal itu merefleksikan bahwa bisnis kami adalah industri yang sehat dan berkembang. “Inilah gaya belanja elektronik di zaman modern, ” papar Wiradi.

 

Kehadiran kompetitor di industri ini tak membuat Electronic City gentar. Kompetitor justru  membantu Electronic City di dalam mengembangkan diri. Keuntungan dengan adanya kompetitor, pertam: Kini Electronic City tidak sendirian lagi untuk mengedukasi pasar. Kedua, Electronic City menjadi semakin terpacu untuk menyempurnakan diri, tidak terlena, dan tidak cepat puas.

Electronic City membidik segmen pasar kelas A dan B walaupun tidak menutup kemungkinan untuk kelas yang lain. Berdasarkan survei yang telah dilakukan, rata-rata konsumen berusia sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun,  dan 65 % adalah laki-laki, domisili Jakarta.

AC Nielsen membagi konsumen Electronic City menjadi dua bagian. Pertama adalah konsumen yang mencari status dan mendapatkan kebanggaan setelah belanja di di Electronic City. Yang kedua adalah orang-orang yang selalu update terhadap merek dan mempunyai fanatisme sendiri terhadap merek.

Menurut survei yang pernah dilakukan, saat ini persentase pasar elektronik modern dan tradisional berbanding 30 % dan 70 %. Sedangkan untuk pasar modern,  Electronic City menguasai pasar elekrtonik modern antara 10% – 20%. Electronic City masih menjadi ritel elektronik modern nomor satu dari sisi top of mind.

Menurut Wiradi, rata-rata konsumen mempunyai mobilitas yang tinggi. Oleh karena itu Electronic City terus mempertahankan dan meningkatkan servis. Dalam konteks ini, servis mencakup pelayanan dan kenyamanan. Selain terus mengembangkan pelayanan ritel ini memastikan konsumen nyaman dalam berbelanja.

“Totalitas servis harus bisa dirasakan sejak konsumen masuk pintu bertemu dengan pelayan toko, melakukan transaksi, sampai barang yang dibeli konsumen itu sampai di rumah mereka. Kami menyediakan servis dari A sampai Z.” ungkap Wiradi.

Bagaimana menjaga hubungan dengan supplier? Electronic City menggunakan hubungan simbiosis mutualisme. Kerja sama yang saling menguntungkan, secara bisnis. “Mereka perlu tempat untuk memasarkan produk, kita perlu mereka untuk memasok barang.” tambah Wiradi. Itu sebabnya hingga kini, kemitraan antara Electronic City dan supplier tetap terjaga dengan baik dan saling bekerja dalam konteks bisnis.

Untuk target kedepannya, Electronic City tetap fokus untuk mencari celah pasar di Jabodetabek. Untuk tingkat kepadatan pasar elektronik, masih fokus di pusat-pusat kota. Selain itu, juga tetap melakukan ekspansi ke kota-kota di luar Jabodetabek. Target  Electronic City yang lain adalah berusaha untuk selalu mendapatkan produk yang berkualitas dan meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pelanggan, agar bisa memenuhi ekspektasi pelanggan. (Leonardus Meta Noven)

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top