Portal Lengkap Dunia Marketing

LIFESTYLE

Asyik Berkuliner Jangan Sampai Lupa Kecukupan Gizi si Kecil

Marketing.co.id – Berita Lifestyle | Salah satu yang sering di-posting para netizen di media sosial, yakni aktifitas kuliner. Mereka kerap men-share foto – foto makanan di warung kaki lima, kafe, sampai restoran terkenal. Sering pula para netizen dengan bangga berbagi foto makanan olahan hasil kreasi sendiri. Dunia kuliner memang selalu mengasyikan bagi siapapun, mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua.

Namun di balik keasyikan kita menyantap hidangan dan berbagi informasi seputar kuliner, sebagian masyarakat Indonesia masih menghadapi masalah mendasar terkait asupan makanan. Masalah tersebut yakni malnutrisi atau kondisi gizi yang tidak seimbang.

Riset The South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS) menunjukkan, bahwa angka malnutrisi di Indonesia masih cukup tinggi. Masalah ini tidak bisa dianggap remeh, karena kondisi malnutrisi akan menciptakan stunting. Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh balita atau anak-anak. Berdasarkan Riskesdas 2018, sebanyak 2 provinsi mempunyai prevalensi stunting di atas 40%, yang tergolong sangat tinggi; 18 provinsi mempunyai prevalensi stunting antara 30-40 % yang tergolong tinggi.

Baca juga: Cegah Stunting, Telkomsel Luncurkan aplikasi eHealth SIMPATI

Masa emas tumbuh kembang anak berada pada 1.000 hari awal kehidupannya. Otak mengalami perkembangan paling cepat di fase tersebut. Maka dari itu, anak butuh asupan nutrisi yang tepat berkualitas dalam mendukung perkembangan otak dan jaringan tumbuh kembang lainnya.

Salah satu asupan penting yang dibutuhkan anak di masa awal pertumbuhannya adalah protein hewani dengan kandungan 9 asam amino esensial (AAE) guna mendukung pertumbuhan linier dan perkembangan otak untuk modal kesehatan anak di masa depan.

Dokter Anak Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik pada Anak, Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), mengatakan kandungan 9AAE berperan besar dalam membantu pertumbuhan dan kecerdasan otak anak, termasuk dalam kondisi malnutrisi.

“Jika anak kurang mendapat asupan 9AAE di masa emas pertumbuhannya, maka pembentukan otaknya pun bisa tidak maksimal,” jelas Prof. Damayanti saat pemaparan di Media Scientific Session yang diselenggarakan oleh PT Frisian Flag Indonesia secara daring, Kamis (15/4).

Stunting merupakan salah satu penyakit paling ditakuti di seluruh dunia karena dapat merusak generasi suatu bangsa. Pasalnya, anak dengan kondisi stunting dapat mengalami gangguan fungsi kognitif dan penurunan sistem imun serta obesitas dan hipertensi saat dewasa. Di Indonesia, per 2018, terdapat 18 provinsi dengan prevalensi stunting 30-40%. Angka tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus stunting terbesar di Asia Tenggara.

Lebih jauh Prof. Damayanti menegaskan, stunting harus dicegah sedini mungkin, karena jika anak mengalami stunting akan tertinggal dari anak-anak lain dan sulit untuk ditanggulangi. Karena itu dia menyarankan sebaiknya anak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan, yang kemudian diikuti dengan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) bergizi tepat.

Bicara MPASI kandungan 9AAE perlu mendapat perhatian besar karena mampu memaksimalkan tumbuh kembang anak. Protein hewani dengan 9AAE bila dikonsumsi dalam jenis yang lengkap dan jumlah yang tepat dapat membantu mencegah stunting.

Berbagai studi menunjukkan, bahwa protein hewani menjadi sumber 9AAE yang lebih baik dari protein nabati. Pasalnya, protein hewani memiliki 9AAE dalam jenis yang lengkap, berbeda dengan protein nabati yang memiliki limiting amino acids (hilangnya salah satu kandungan dari 9AAE).

Hal tersebut menjadi penting, karena kekurangan satu  jenis asam amino dapat menurunkan kinerja hormon pertumbuhan hingga 34%, dan angkanya akan meningkat sampai 50% jika tubuh sama sekali tidak mendapatkan asam amino esensial secara lengkap baik dalam hal jenis dan jumlahnya. Adapun sumber protein hewani dan 9AAE yang terbaik berdasarkan nilai bioavailabilitasnya adalah susu, telur, ikan, ayam  dan daging.

“Di Indonesia, protein hewani justru kalah populer dengan protein nabati sebagai makanan pelengkap atau pendamping ASI. Ini adalah paradigma yang salah dan harus dibenahi bersama-sama. Kita harus memberi asupan dengan kandungan protein yang berkualitas, khususnya asam amino esensial yang yang ada dalam jenis yang lengkap serta jumlah yang cukup pada protein hewani,” pungkas Prof. Damayant.

9AAE dalam segelas susu

Untuk mendapatkan kandungan 9AAE sebenarnya tidak sulit karena PT Frisian Flag Indonesia (FFI) baru saja meluncurkan susu bubuk pertumbuhan “Frisian Flag Primagro 1+ dan 3+”. Produk ini memiliki kandungan 9 Asam Amino Esensial (AAE) lengkap, Omega 3, Omega 6, Minyak Ikan, Tinggi Protein, serta lebih dari 14 vitamin dan 9 mineral yang diformulasikan khusus dengan mempertimbangkan nutrisi lengkap yang dibutuhkan anak utamanya pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Specialized Nutrition Director PT Frisian Flag Indonesia William Lumentut mengatakan, Frisian Flag Primagro hadir sebagai mitra orangtua dalam mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak.

Dia mengingatkan, proses tumbuh kembang anak pada 1000 hari pertama kehidupan merupakan masa emas yang tidak bisa diulang. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian khusus dari orangtua terutama dalam penyediaan asupan gizi yang optimal.

“FFI terus berinovasi dan terus berkomitmen menjadi mitra bagi para orangtua menyediakan kebutuhan gizi yang berkualitas dan terjangkau, sesuai dengan visi perusahaan “Nourishing by Nature”. FFI juga terus berupaya dalam peningkatan status gizi generasi bangsa dan pengentasan isu malnutrisi,” ujar William.

Kandungan 9AAE sangat penting karena tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri, sehingga harus dipenuhi dari sumber protein hewani seperti daging, ikan, ayam, telur atau susu. Menurut studi yang dilakukan oleh National Center for Biotechnology Information, kekurangan satu jenis 9AAE dapat menurunkan kinerja hormon pertumbuhan (IGF-1) sebesar -34% dan sampai dengan -50% apabila keseluruhan 9AAE tidak terpenuhi. Hal ini berarti bahwa kekurangan 9AAE sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Baca juga: Combiphar Bagikan 5 Tips Jaga Anak Tetap Fit

Angelia Susanto, Headof Marketing PT. Frisian Flag Indonesia menambahkan, 9AAE juga berfungsi sebagai building blocks. “Asam Amino, yang sering dianggap sebagai pembentuk blocksoflife, berperan sangat penting dalam perkembangan holistik anak usia pertumbuhan – mulai dari mendukung tulang dan gigi yang kuat, sampai dengan mendukung kesiapan mereka belajar,” jelas Angelia.

PT Frisian Flag Indonesia

Angelia Susanto – Head of Marketing IFT PT Frisian Flag Indonesia (kanan) saat pemaparan Media Scientific Session – PT Frisian Flag Indonesia.

Paula Verhoeven, selebritas yang hadir dalam Media Scientific Session – PT Frisian Flag Indonesia juga mengingatkan pentingnya nutrisi bagi anak-anak. Menurutnya 9AAE bisa menjadi gamechanger untuk para ibu agar lebih ‘melek’ dalam menentukan produk bernutrisi tinggi dan berkualitas untuk anak-anak

“Di tengah derasnya informasi khususnya di kalangan ibu-ibu, kadang membuat kita jadi bingung sendiri. Padahal urusan kesehatan apalagi tumbuh kembang anak harusnya jadi prioritas nomor satu di masa sekarang ini. Aku selalu menjadikan patokan informasi yang dikeluarkan oleh sumber terpercaya seperti dari dokter atau ahli gizi ataupun instansi yang kredibel supaya tidak salah dalam memberikan asupan yang terbaik untuk Kiano,” ujar Paula.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Berita Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top