Penyakit Saraf yang Sering Disalahpahami

[Reading Time Estimation: 3 minutes]

Marketing.co.id  –  Berita Lifestyle | Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia suka “mendiagnosa” sendiri gejala penyakit yang dirasakan. Sedang tidak badan, masuk angin, atau kecapean adalah rangkaian kata-kata yang sering diucapkan orang ketika tiba-tiba sakit. Untuk mengatasinya tidak jarang mereka mengonsumsi obat warung, dikerok, atau dipijit.

Rasa sakit kepala, nyeri tengkuk, nyeri pinggang bawah, kesemutan, atau kebas adalah beberapa gejala yang sering dirasakan banyak orang. Kita sering mengatasi gejala ini dengan pemijatan, membaluri bagian yang sakit dengan obat gosok atau menempeli dengan koyo atau dikerok.

Captain Neuro Care by Klinik Pintar dr. Zicky Yombana, Sp.S mengatakan, masyarakat sebaiknya tidak menganggap remeh gejala-gejala tersebut karena bisa saja itu penyakit gangguan saraf. dr. Zicky  yang berbicara dalam sesi talkshow peresmian Neuro Care by Klinik Pintar, Kamis (8/2/23) menuturkan, banyak kalangan masih memiliki persepsi yang salah tentang gangguan saraf.

Baca juga: Nyeri Sendi Dapat Dicegah Dengan Cara Ini

Lebih jauh dia mengatakan, rendahnya kesadaran untuk segera melakukan konsultasi ke dokter spesialis saraf dan cenderung melakukan pengobatan mandiri seperti mengkonsumsi obat penghilang nyeri atau pijat dan urut. “Akibatnya, keluhan sakit bisa kembali kambuh atau bertambah parah,” tandasnya.

dr. Zicky mengatakan, saat ini profil pasien dengan gangguan saraf tidak lagi didominasi oleh orang tua, melainkan sudah bergeser ke usia produktif mulai dari rentang 20 sampai 30 tahun ke atas. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan dan gaya hidup anak-anak muda. Contohnya, terlalu lama bekerja menggunakan laptop, kurang gerak, atau malas berolah raga.

Gejala yang muncul juga kerap tidak disadari sebagai gangguan saraf dan seringkali dihubungkan dengan penyakit dalam (internis) atau penyakit otot dan tulang. Ada juga yang berpikir sebagai gejala penyakit kolestrol atau asam urat. Banyak pemahaman-pemahaman yang salah tentang gangguan saraf sehingga penanganannya terlambat.

“Padahal, gangguan saraf memiliki spektrum yang sangat luas mulai dari hal ringan seperti kesemutan, sakit kepala, hingga yang hal kronis seperti stroke. Self-diagnosed bisa memicu salah penanganan dan justru tambah parah. Hal ini lah yang membuat kami melahirkan Gerakan Sadar Saraf di Usia Produktif,” ujarnya.

Klinik Pintar
dr. Zicky Yombana, Sp. S, Capt of Neuro Care, dr. Eko S. Nugroho, MPH, C, CMO Klinik Pintar, dan Wangsit Firmantika, Content Creator berdiskusi di acara Gerakan Sadar Saraf di Usia Produktif dan Peresmian Neuro Care by Klinik Pintar

Menurut dr. Zicky, masyarakat umumnya harus segera konsultasi ke dokter spesialis jika merasakan keluhan mendadak, intensitasnya semakin sering, diikuti rasa sakit yang berat, dan berulang.

“Memang pada akhirnya screening dan konsultasi itu sudah menjadi dasar yang harus dijalani. Kami para dokter bukan hanya membantu masyarakat untuk sadar risiko, namun juga memprediksi seberapa besar risiko yang mereka miliki sehingga dapat kami bantu mengidentifikasinya lebih awal sebelum menjadi gangguan yang mematikan dan menghabiskan banyak kerugian finansial,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Chief Medical Officer Klinik Pintar dr. Eko S. Nugroho, MPH mengatakan Neuro Care by Klinik Pintar dirancang sebagai pintu masuk masyarakat mengetahui dan mengerti dengan baik keadaan saraf dengan gejala seringan apapun.

Baca juga: Gunakan AI, Meditech+ Bantu Diagnosa Dengan Tepat

“Kami bekerja bersama dokter-dokter spesialis saraf, dilengkapi dengan alat diagnosa yang lengkap setara standar Rumah Sakit dan demi kenyamanan masyarakat kami mengadopsi konsep layanan Unreasonable Hospitality dengan ciri khas adanya health concierge yang secara proaktif membantu kebutuhan pasien di fase pra-klinik, saat di klinik, hingga penanganan pasca berobat, misalnya rujukan ke rumah sakit khusus untuk treatment lebih lanjut,” kata dr. Eko

Harya Bimo, CEO Klinik Pintar, menuturkan, Klinik Pintar akan terus mengembangkan jaringan melalui klinik pratama dan klinik utama spesialis. Menurutnya, Neuro Care akan menjadi bagian dari healthcare ecosystem Klinik Pintar dengan dan memegang peranan penting sebagai Center of Excellence (CoE) yang akan memperkuat jaringan klinik lainnya dengan sistem rujukan dan delivery layanan secara online dan offline.

“Tujuannya selaras dengan misi pemerintah untuk memperkuat sektor primary care melalui digitalisasi klinik dan memudahkan masyarakat dalam mendapat kualitas pelayanan kesehatan secara merata,” terang Bimo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here