Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Digital

Mengamati CAPRES 2014 di Media Sosial

Tidak bisa dipungkiri, bahwa media sosial telah menjadi pengganti ruang publik fisik, khususnya bagi anak muda. Pada pemilu 2014, kabarnya ada sekitar 30% pemilih muda yang akan ikut berpartisipasi. Tentu saja hal ini harus diperhatikan.

mengamati capres 2014, kandidat

Perbincangan mengenai tokoh yang layak menjadi pemimpin bangsa pun tak luput dari pengamatan publik dunia maya. Mengabaikan perbincangan di dunia maya, bisa saja malah jadi bumerang bagi partai politik yang mengusung tokoh tertentu.

Berikut adalah data yang didapatkan Politica Wave dalam mengamati capres 2014 di media sosial.

  1. Distribusi Percakapan Digital

Mengamati CAPRES 2014, distribusi percakapan

Percakapan para netizen terkait para tokoh yang digadang-gadang menjadi calon presiden Indonesia ditampilkan di sini. Menurut hasil pantauan, capres yang memperoleh percakapan tertinggi dipegang oleh Jokowi, Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, dan Anies Baswedan.

Sementara itu, tokoh yang banyak dibicarakan sesuai dengan isu-isu terkini adalah Jokowi, Gita Wirjawan, Hatta Rajasa, Dahlan Iskan, Megawati, dan Yusril Ihza Mahendra.

  1. Distribusi Media Digital

mengamati capres 2014, distribusi media digital

Di samping percakapan, Politica Wave juga membahas tentang persentase para tokoh yang tampil di media digital. Hasilnya, Jokowi masih memimpin di seluruh media, baik Twitter, Facebook, Blog, Forum, Youtube, dan News.

  1. Elektabilitas Kandidat

elektabilitas kandidat, mengamati capres 2014

Meski Jokowi kerap jadi bahan pembicaraan, namun namanya tidak bisa mengalahkan Dahlan Iskan dalam hal elektabilitas. Menurut survei, perbandingan nilai sentiment positif dan negatif Dahlan Iskan masih yang paling unggul dari semua kandidat.

Menurut prediksi, faktor yang paling memengaruhi besarnya elektabilitas menteri BUMN ini adalah dukungan relawan dalam berbagai debat konvensi dan sikap bertanggung jawab Dahlan dalam kasus LPG.

Berlawanan dengan itu, Jokowi justru menjadi kandidat dengan nilai elektabilitas terendah. Hal ini dipengaruhi oleh anggapan bahwa dirinya tidak berhasil mengatasi banjir Jakarta. Tidak hanya itu, isu duetnya dengan Rhoma Irama dalam acara Jakarta Night Festival juga membuat namanya jadi bahan pergunjingan dunia maya.

Tidak hanya Jokowi, keputusan Aburizal Bakrie membeli saham Path, tudingan keterlibatan dalam kasus penggelapan pajak, serta kasus Lumpur Lapindo yang tak juga usai membuat pria yang akrab di sapa ARB ini mendapat persentase tanggapan negatif (sentiment negatif berbanding sentiment positif) terbanyak dari netizen.

  1. Sentiment Analysis

mengamati capres 2014, sentiment analysis

Meski nama Jokowi menjadi sorotan dunia maya dan mendapatkan banyak tanggapan positif, tapi ternyata tidak sedikit pula yang menjelekkannya. Berbeda dengan Dahlan Iskan yang lebih banyak berita positif ketimbang negatifnya.

Sementara ARB, bisa dikatakan yang paling bangkrut. Sentiment negatifnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan sentiment positif.

mengamati capres 2014, sentiment analysis 1

Tentu saja pemilihan presiden tidak bisa diputuskan dari hasil sentiment-nya di media sosial. Hanya saja, kita sebagai publik wajib mengamati capres 2014 agar tidak salah dalam memilih nantinya.

 

Sumber: Politica Wave sepanjang Januari 2014

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top