Biaya Operasional Bank untuk Pembiayaan UMKM Masih Tinggi

[Reading Time Estimation: 2 minutes]

Marketing.co.id  –  Berita Financial Services | Pandemi COVID-19 telah membuat cara hidup masyarakat saat ini menjadi serba digital, termasuk dalam digitalisasi pembiayaan untuk pelaku usaha di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di tanah air. Namun demikian, UMKM masih menghadapi masalah dan tantangan terkait pembiayaan.
Salah satu kebijakan pemerintah untuk mengatasi hal ini adalah dengan meningkatkan target rasio kredit ke UMKM yang saat ini berada di angka 20% agar bisa menjadi 30% di tahun 2024. Tak hanya itu, pemerintah juga membentuk holding ultra mikro agar dapat memberikan pembiayaan yang terjangkau dan cepat kepada sektor UMKM.
Head of IFG Progress, Reza Siregar mengatakan, upaya relaksasi dengan subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) memang sangat baik dan berdampak positif membantu pelaku UMKM untuk bertahan dan melanjutkan bisnis. Namun demikian, biaya operasional bagi bank untuk menyasar pembiayaan ke UMKM masih sangat tinggi.
Baca juga: Bagaimana Meningkatkan Akses Pembiayaan Konsumen dan UMKM di Indonesia?
“Disinilah pentingnya peran dari teknologi finansial seperti fintech dan kebijakan pemerintah serta dukungan pihak terkait untuk mengurangi biaya transaksi dan risiko transaksi pembiayaan yang dihadapi oleh UMKM,” kata Reza dalam acara bertajuk “Tempo Financial Literacy Forum 2022: Sinergi Perbankan, E-commerce, dan UMKM Dalam Mendukung Percepatan Pemulihan Ekonomi” yang digelar secara daring, Selasa, 15 Maret 2022.

Beberapa hasil produk UMKM Indonesia telah dikemas dengan baik untuk menarik perhatian konsumen. Foto: marketing.co.id/Lialily.

IFG Progress mengungkapkan, bahwa dalam kurun waktu hampir 10 tahun, kredit terhadap UMKM saat ini masih cenderung stagnan. UMKM yang ada di Indonesia juga masih cenderung non-bankable. Hal ini tentunya membuat institusi keuangan, khususnya bank semakin sulit untuk masuk ke sektor UMKM.
Aspek lain yang menjadi masalah adalah terkait biaya yang harus dikeluarkan untuk memberikan pinjaman, khususnya untuk operasional cost masih relatif tinggi. Hal ini pun membuat effective loan rate pun menjadi tinggi. Tantangan pembiayaan inilah yang menyebabkan masalah di sektor UMKM saat ini.
“Sektor UMKM memiliki kontribusi yang besar dan menjadi penggerak bagi kemajuan ekonomi nasional bila dibandingkan dengan sektor industri lainnya. Dengan kontribusi yang besar bagi industri dan sektor usaha dalam negeri, IFG sebagai institusi non-bank juga akan terus berusaha mendukung dan meringankan beban serta risiko yang dihadapi UMKM di masa kini,” imbuh Reza.
Baca juga: BCA Hadirkan Solusi Pembiayaan Mudah bagi UMKM
Sebagai holding asuransi dan penjaminan, IFG melalui anak usahanya berupaya memperkuat penjaminan untuk mengurangi risiko pinjaman dari pelaku UMKM demi menekan biaya pinjaman. Di sisi lain, hal ini juga akan membuat bank menjadi lebih yakin dan confident dalam memberikan pinjamannya kepada pelaku UMKM.
Dalam mendukung penjaminan dan pemberdayaan UMKM, peran semua pihak tentu saja dibutuhkan, mulai dari pemerintah, lembaga keuangan bank maupun non-bank, dan juga para pegiat UMKM. Diharapkan, sektor UMKM di Indonesia bisa semakin maju dan mendukung ekonomi di tanah air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here