Portal Lengkap Dunia Marketing

PR Hype

Pentingnya Edukasi Pengelolaan Sampah di Wakatobi

wakatobiWakatobi kini telah dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang menjanjikan, tidak hanya bagi wisatawan domestik namun juga wisatawan mancanegara. Dan gencarnya promosi wisata petualangan bawah laut Wakatobi turut mendorong peningkatan jumlah wisatawan secara signifikan.

Sayangnya, kerap kali peningkatan okupasi lahan bagi wisatawan tidak dilakukan beriringan dengan kesiapan pengelolaan lingkungan oleh masyarakat setempat. Dan hal ini terkadang diperburuk oleh kebiasaan perilaku hidup sehari-hari masyarakat, mereka tidak sadar akan pentingnya sanitasi lingkungan.

Wakatobi merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar: P. Wangi-Wangi, P. Kaledupa, P. Tomia, P. Binongko, dan termasuk dalam kawasan perlindungan segitiga terumbu karang (coral triangle). Perairan Wakatobi seluas 1,39 juta ha mayoritas didiami oleh masyarakat suku Buton sebagai penduduk asli Wakatobi, dan mereka hidup berdampingan dengan masyarakat suku Bajau atau lebih dikenal dengan Bajo Wakatobi. Sebagai suku pengembara, suku Bajo membangun perkampungan di atas laut sehingga terbangun interaksi secara langsung kehidupan masyarakat Bajo dengan laut.

Sore itu wajah anak-anak masyarakat Bajo tersenyum setiap kali kami melewati depan rumah mereka. Dengan berpupur bedak dingin, sang ibu pun terlihat sedang menyuapi anaknya. Mereka tampak tidak terganggu dengan sampah-sampah di sekitar rumah. Kondisi memprihatinkan tersebut terjadi di sekitar Kampung Bajo Desa Mola, Kabupaten Wakatobi.

Kanal-kanal di sekitar rumah mereka dipenuhi oleh sampah yang menumpuk. Sampah-sampah itu tidak hanya berasal dari sampah rumah tangga Bajo Mola, namun juga dari sampah penduduk yang tinggal di daratan dan sampah dari laut yang terbawa arus hingga mencapai kanal. Oleh karena itu pengelolaan sampah sangat diperlukan di perkampungan masyarakat Bajo.

WWF-Indonesia Program Wakatobi bersama dengan fasilitator dari masyarakat setempat mengembangkan modul kurikulum pengelolaan sampah yang diterapkan pada tiga sekolah di Desa Mola Raya sebagai sarana edukasi. Modul ini diterapkan tidak hanya untuk sekolah, namun juga untuk masyarakat suku Bajo Desa Mola secara keseluruhan. Demikian halnya kaum wanita sebagai garda terdepan terciptanya keluarga sejahtera, mereka pun menjadi sasaran program edukasi. Sehingga pentingnya lingkungan yang bersih tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga di rumah.

Dalam upaya mengedukasi masyarakat Bajo mengenai dampak buruk membuang sampah ke laut, WWF-Indonesia didukung oleh HINO Indonesia, mitra yang memiliki visi menjadi panutan dalam mendorong kesadaran lingkungan. Program edukasi pengelolaan sampah menjadi prioritas utama saat ini, khususnya kepada para siswa dan ibu rumah tangga suku Bajo, sehingga dalam radius 50 meter dari lingkungannya diharapkan bebas sampah.

“Potensi keindahan laut Wakatobi sungguh memikat dan menjadi tujuan pencinta olahraga bawah air. Namun, dapat kita temui permasalahan sampah yang nyata dan bila tidak ditangani dengan baik dapat mengancam sanitasi dan kesehatan masyarakat secara langsung,” ujar Direktur Marketing WWF-Indonesia Devy Suradji.

“Tidak hanya itu, sampah juga dapat mengancam kesehatan kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle), termasuk keberadaan ribuan jenis ikan dan terumbu karang di dalamnya. Ini artinya akan berdampak terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat dunia,” tambah Devy.

“WWF-Indonesia telah menyusun sebuah modul pengelolaan sampah di laut yang akan digunakan sebagai alat penyadartahuan masyarakat. Hal ini kita harapkan dapat menjadi titik awal pengelolaan yang efektif untuk mencapai perlindungan terhadap keanekaragaman hayati sekaligus kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi. Oleh karenanya, kolaborasi berbagai pihak baik sekolah, kepala desa, serta dinas kebersihan dan PKK menentukan kesuksesan program ini,” jelas Project Leader WWF-Indonesia Program Wakatobi Sugiyanta.

Informasi mengenai kegiatan konservasi di Wakatobi dan kerja sama dengan WWF-Indonesia dapat diperoleh melalui corporate_partnership@wwf.or.id.
(oleh: Maya Bellina)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top