Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Belanja Iklan Digital Jauh Lampaui Media Cetak

Marketing.co.id Berita Marketing | Total belanja iklan periode Januari – Juli 2020 mencapai Rp122 Triliun. Hasil ini didapatkan dari layanan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel). Memasuki masa transisi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kedua di Jakarta, para pemilik brand terlihat lebih percaya diri untuk kembali beriklan, hal ini terlihat dari meningkatnya belanja iklan di bulan Juli 2020 vs Juni 2020 sebesar 17%, mencapai angka Rp 18, 3 Triliun.

Periode Januari – Juli 2020, televisi masih mendominasi 72% porsi belanja iklan dengan angka lebih dari Rp 88 Triliun. Disusul belanja iklan digital 20% dengan total belanja iklan Rp 24, 2 Triliun. Sementara itu total belanja iklan media cetak mencapai lebih dari Rp9,6 Triliun dan total belanja iklan radio mencapai Rp604 Miliar.

Dari sisi kategori produk yang beriklan di TV dan Digital di bulan Juli 2020, kategori Layanan Online masih menjadi penyumbang iklan terbesar, dengan total belanja iklan Rp 2,5 Triliun (meningkat 73% vs Juli 2019). Disusul  kategori perawatan wajah dengan total belanja iklan Rp1,4 Triliun, meningkat bahkan dua kali lipat dan selanjutnya adalah Perawatan Rambut dengan total belanja iklan Rp 1,1 Triliun (meningkat 51%).

Baca juga: Pertimbangan dalam Memilih Media Periklanan

Belanja Iklan

Hellen Katherina, Executive Director Nielsen Media Indonesia.

Untuk TV, iklan di segmen jeda iklan (commercial break) bukanlah satu-satunya cara untuk menjangkau konsumen. Ada bentuk iklan lain, yaitu iklan yang terintegrasi di dalam program (seperti running text, digital embed, superimpose, dll). Tipe iklan ini menjadi salah satu pilihan bentuk iklan yang dianggap lebih kreatif dan lebih tidak “disadari” oleh konsumen. Nielsen telah memonitor tipe iklan ini sejak 2017 dan terlihat kategori produk yang berbeda memilih tipe iklan ini. Khususnya di bulan Mei 2020, tipe iklan di dalam program mencapai titik tertinggi, dimana iklan di segmen jeda iklan (commercial break) program mengalami kondisi yang stagnan.

 

Sedangkan di Media cetak dan Radio, dapat terlihat kategori-kategori produk berbeda yang beriklan dibandingkan dengan TV. Untuk Media Cetak, masih tetap menjadi pilihan tempat beriklan untuk kategori alat kesehatan dan finansial atau asuransi. Sementara Radio memiliki variasi kategori pengiklan yang lebih beragam, mulai dari kategori makanan, minuman hingga kategori obat batuk.

Gaya komunikasi iklan

Kondisi pandemi pada saat ini juga memaksa para pemilik brand  untuk beradaptasi dan menyesuaikan gaya komunikasi yang ada di dalam iklan. Cara yang dilakukan sangat beragam, ada yang menggunakan animasi sebagai bentuk iklannya, mengusung sisi edukasi (tentang hidup sehat dan bersih) ataupun menunjukkan kontribusi brand kepada masyarakat dengan berdonasi (uang ataupun alat-alat kesehatan). Bentuk animasi adalah salah satu bentuk yang relevan, melihat kondisi saat ini, dimana segala sesuatunya sangat terbatas, termasuk waktu dan tempat untuk mengadakan shooting  secara langsung.

Baca juga: Dibalik Suksesnya Kampanye Indahnya Ramadan Permen FOX’S

“Beradaptasi dengan situasi pandemi dan masa transisi ini, membuat iklan dalam bentuk animasi menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi keterbatasan dari segi budget dan ruang syuting iklan dengan tetap mengedepankan isu kesehatan dalam pesan yang disampaikan. Di samping itu beberapa merek lebih memilih untuk beriklan terintegrasi dalam program untuk mendapatkan jangkauan konsumen yang lebih besar mengingat rating program biasanya lebih tinggi daripada rating di commercial break” kata Hellen Katherina, Executive Director Nielsen Media Indonesia.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Berita Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top