Harsha Edwana Joesoef: Pekerjaan Sampingan yang Bawa Untung

Pekerjaan sampingan atau side job, dari sisi finansial bisa menguntungkan dalam artian bisa menambah pemasukan uang belanja. Sisi lainnya, jika pekerjaan itu berhubungan dengan hobi, dapat membantu Anda menekuni hobi tersebut. Atau malahan ada di antara Anda yang pada akhirnya rela melepas first job, dan kemudian menjadikan kerja sampingan sebagai pekerjaan utama.

Pilihan inilah yang  kemudian diputuskan oleh Harsha Edwana Joesoef, President PT RPX Indonesia. Perusahaan yang pada awalnya bergerak dalam bidang antar jemput kargo, berupa berbagai macam barang untuk keperluan pekerjaan pengeboran minyak. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bisa diceritakan awal karier Anda?

Saya pada awalnya bergerak di bidang perminyakan sebagai ekspatriat di perusahaan pengeboran minyak asing. Kami melakukan usaha pengeboran untuk daerah-daerah terpencil. Peralatan yang berat yang dipergunakan, diangkut dengan menggunakan helikopter. Jadi kami menggunakan rig yang bisa dipindah-pindahkan dengan cara dismantled into small pieces. Untuk mendatangkan komponen-komponen tersebut, kami banyak menggunakan jasa Federal Express. Dari sanalah saya lihat adanya kesempatan meng-create usaha baru. People willing to pay in any cost untuk jasa tersebut. Marginnya tinggi.

Kapan Anda mendirikan perusahaan tersebut?

Sejak tahun 1985. Ini setelah saya mendapatkan keagenan dari Federal Express. Seperti yang saya katakan tadi, saya merupakan ekspatriat di perusahaan asing yang menyuplai alat-alat pengeboran minyak. Kerja saya sebulan di Indonesia, sebulan kemudian di Amerika. Sewaktu di Amerika-lah, saya mengusahakan principle (lisensi) dari Federal Express untuk usaha baru yang akan saya kelola ini. Pada saat itu memang FedEx sendiri masih memusatkan diri di North Asia seperti Korea, Jepang, dan Taiwan. Kenapa? Karena pada saat itu, negara-negara tersebutlah yang menghasilkan teknologi yang high value added. FedEx pangsa pasarnya adalah produsen yang menghasilkan barang-barang yang value added, seperti komputer. Karena memang konsentrasinya di Asia Utara, maka di Indonesia itu asal ada saja.

Proses mendapatkan lisensi itu berapa lama?

Hampir satu tahun. Memang saat itu ada beberapa orang yang mengajukan hak untuk mendapatkan lisensi Federal Express di Indonesia. Perusahaan ekspedisi tersebut masih terbatas di wilayah Pasifik Bagian Utara. Sesuai dengan visi dasar FedEx, yang mengkhususkan diri pada angkutan barang memiliki high value added (nilai tambah tinggi) dan life cycle yang pendek. Negara-negara Jepang, Taiwan dan Korea yang merupakan produsen teknologi komputer berada di wilayah tersebut.

Tetapi akhirnya, perusahaan tersebut memberikan kepercayaannya kepada pria kelahiran tahun 1959 ini. Menurut Harsha, kepercayaan itu diberikan lantaran ia tamatan sekolah di Amerika dan bisa berkomunikasi dengan baik.]

Apakah ada hubungan pendidikan Anda sebagai magister teknik sipil dengan usaha jasa antar barang ini?

Ya, ada sekali. Saya adalah seorang insinyur sipil, salah satu bidangnya adalah product management. Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa saya yang waktu itu sudah menjadi “ekspat” di perusahaan asing terus menjadi agen? Saya sebenarnya ingin developing business in Indonesia. Pada saat itu pemikiran saya, apakah saya hanya terus bolak-balik begini saja? Apakah saya terus bekerja di Amerika? Apakah saya tidak ingin bekerja di Indonesia, dan kalau ingin bekerja di sini bagaimana caranya? Nah, usaha saya dimulai dengan bermodalkan sebuah garasi di rumah orang tua saya dan gaji saya sebagai ekspat tadi mendapat US$ 5,000 sebulan. Saya pikir mampu sustaining a new business with my salary.

Berarti Anda mempunyai dua pekerjaan saat itu?

Bahasa gampangnya, usaha sampingan.

Sebenarnya apa yang membuat Anda tertarik dengan usaha ini?

Nomor satu dan utama, waktu itu saya dalam kondisi transisi. Sedang bingung. Kerja di Amerika atau di Indonesia. Kalau kerja di sini, mesti melamar pekerjaan terlebih dahulu ‘kan? Atau bisnis sendiri. Saya menemukan ada bisnis yang orang sangat membutuhkannya, yaitu antar jemput barang. Anda bayangkan, saat itu untuk mengantarkan sebuah dokumen door to door saja, dibayar sehingga US$ 50. Saya tertarik dengan profit yang tinggi tersebut. Tetapi kalau saya saat itu memutuskan berhenti dari pekerjaan utama, konyol juga namanya. Terlebih lagi dengan gaji yang sudah tinggi. Kemudian saya ambil jalan tengah, usaha sampingan ini saya jalankan dengan menggunakan gaji sebagai cash flow-nya dan pengelolaannya diserahkan kepada profesional.

Berapa modal awal Anda waktu itu?

Saya lupa harus melihat akte dulu, tetapi dengan 3 buah mobil L-300 dan beberapa sepeda motor. Jadi saat itu saya pikir tidak mungkin quit my job. Maka saya biarkan usaha ini berjalan pelan-pelan. Pada awalnya hanya dengan beberapa amplop sehari, sekarang berkembang hingga 2000 shipment a day. Jadi sudah tidak bicara jumlah amplop lagi, tetapi kirimannya.

Bisa diceritakan bagaimana trik-triknya memulai usaha ini?

Awalnya saya memang bingung bagaimana memulainya. Saya ambil ilustrasi, untuk mengantarkan satu surat dari Amerika ke rumahnya Andry, misalnya, perlu melewati enam tahap. Pertama, pengambilan surat tersebut. Kedua, packaging. Ketiga, penerbangan. Keempat, custom clearance-nya. Kelima, pergudangannya. Dan terakhir, antaran atau delivery-nya. Ini merupakan rangkaian proses surat tadi hingga sampai ke rumah Andry. Kiriman-kiriman seperti itu, bukan hanya satu saja. Perkembangan selanjutnya kiriman dari hari ke hari semakin banyak saja. Pada awalnya hanya several envelopes, lalu berkembang hingga 600 volume pengiriman. Jumlah itu jika dihitung beratnya bisa mencapai 2-3 ton. Selain itu kami menyadari, pengiriman barang bukan hanya dalam bentuk ekspres saja. Ada jenis usaha yang lebih murah, seperti air freight dan sea freight.

Ternyata, untuk mengantar suatu barang atau dokumen mencapai ke tujuan tidak semudah yang kita bayangkan –melalui enam tahapan tadi, oleh karena itu diperlukan pengelolaan tersendiri setiap tahapannya.

Tidak cukup mengandalkan keseluruhan, ayah dua orang putra ini, melalui PT Repex Perdana International, meng-created 7 anak perusahaan yang masing-masing mengelola dan mengurus setiap tahapannya, yaitu: PT Sena Satwika (Customs Brokerage), PT Repex Wahana (One Stop Logistics), PT Wahana Dirgantara (Warehouse Services), PT Republic Express (Airlines), PT Senatrans Utama (Air Forwarding), PT Pelangi Semesta (Sea Forwarding), dan PT Antareja Prima Antaran (Domestic Express).

Melihat keadaan seperti itu, di mana “usaha sampingan” yang ia bangun sejak awal ternyata memerlukan penanganan penuh, tahun 1997 suami dari Emilia Joesoef ini memutuskan berhenti dari perusahaan perminyakan asing tersebut. Mulailah ia secara penuh menjalankan usaha jasa antar barang tadi.

Either I grow with logistics business, or I grow in oil and gas business. Sementara itu di usaha perminyakan ini butuh modal yang besar,“ ungkap lulusan Master of Science di University of Texas at El Paso, ketika ditanya MARKETING mengapa memfokuskan diri ke bisnis ini. Lompatan demi lompatan bisnis fenomenal ia lakukan. Dan hanya dalam tempo beberapa tahun ia mampu mengubah usaha bisnisnya yang hanya satu perusahaan, menjadi sebuah grup perusahaan RPX Grup dengan 1.400 karyawan hingga.

Masing-masing anak perusahaan yang ada mengurus setiap tahapan, dalam proses delivery suatu barang atau dokumen hingga mencapai tujuannya dalam waktu yang singkat. Intinya, usaha RPX tidak hanya sebatas pengiriman barang tetapi telah meluas ke bidang pergudangan, pengepakan, hingga administrasi ekspor. Ini dilakukan oleh penyuka permainan golf tersebut agar brand awareness FedEx yang lisensinya ia pegang tetap ada dan dikenal masyarakat.

Bagaimana cara Anda menjaga brand awareness yang selama ini ada?

Federal Express merupakan perusahaan besar, jadi sudah ada brand awareness sendiri. Pada perjalanannya, kami menyadari bahwa customer tertarik kepada kami karena perusahaan ini punya unique selling point. Awal-awalnya adalah reliability. Kenapa kami mengadakan bahwa kami reliable, karena menggunakan pesawat sendiri. Perusahaan lain tidak ‘kan? Mereka menggunakan commercials flight ‘kan? Basically it’s for commercial passenger. Sekarang bagaimana caranya, jika dalam flight tersebut there’s no space for cargo? Sebagai contoh, Anda pasti akan mencak-mencak jika koper tertinggal hanya karena kargo pesawat sudah dipenuhi oleh barang-barang orang lain. Namun, jika kargonya dibawa keesokan harinya, tidak apa-apa ’kan? Itu yang namanya tidak reliable.

FedEx itu adalah the world largest airlines. Tidak ada perusahaan jasa lain yang melebihinya dalam jumlah armada. Bisnis model seperti itu yang kami buat di Indonesia dengan membuat Republik Express, karena pesawat-pesawat asing hanya boleh terbang sampai Jakarta. PT RPX-lah yang membawanya ke kota-kota lain. Nah, sekarang dalam membawa kargo ke kota seperti Balikpapan atau Makasar, memerlukan sarana penerbangan ‘kan? Kalau saya menggunakan Garuda, berarti saya tidak berbeda dengan perusahaan jasa lainnya.

Jadi bisa dikatakan, RPX merupakan perpanjangan tangan FedEx di Indonesia?

Betul.

Berapa jumlah pesawat yang dimiliki oleh RPX?

Saat ini kami baru punya dua pesawat B-737 200.

Pesawat-pesawat tersebut terbang ke seluruh Indonesia?

Ke kota-kota besar di Indonesia. Untuk angkutan darat, kami memiliki sekitar 200 truk milik sendiri.

Berarti, perusahaan Anda lebih mengunggulkan diri kepada poin reliability tersebut?

Iya, keunggulan dari kami memang itu. Kita tidak terpengaruh kepada jadwal komersial penerbangan. Kami menggunakan pesawat sendiri.

Untuk promosi perusahaan, berapa bujet yang dianggarkan?

Dari FedEx-nya saja, kita punya bujet US$ 400-500,000. Dari RPX-nya sendiri sekitar Rp 2 miliar setahun.

Promosi dilakukan agar brand awareness perusahaan Anda lebih dikenal dibanding kompetitor. Siapa kompetitor utama Anda?

Dilihat dari sisi mana dulu? Express-nya atau segi logistiknya? Kalau untuk segi logistiknya, kami dengan bangga mengatakan, we are the only one that can do one stop logistics at this moment. Selain itu, RPX sendiri sudah mendapat pengakuan sebagai salah satu brand di dalam Superbrands. Superbrands itu melihat kita sebagai leading brand di Indonesia.

Lalu berapa market share yang dipegang oleh RPX?

Nah, batasannya apa dahulu? Kalau dilihat jumlah beratnya, we are the biggest karena tidak ada yang mengangkat lebih dari kita di airport. Setiap hari kami mengangkut barang in and out at least 50 tons everyday. Kami punya dua pesawat B-737 200 dengan daya angkut penuh itu 15 ton. Dikali dua sama dengan 30 ton, dan itu sehari dua kali dari luar negeri kita angkut. Sementara itu, pesawat FedEx saja mampu mengangkut hingga 38 ton.

Apa strategi bisnis perusahaan Anda?

Strategi kami adalah bagaimana service level kita tetap tinggi karena ini adalah service business. Kami menjaga agar jangan sampai pelayanan kam bolak balik masuk kontak pembaca,  hahahaha… Kami berusaha mengurangi keluhan. Strategi itulah yang terus kami pertahankan. Nomor dua, kita harus terus melakukan investasi. Alhamdulillah, kami sekarang sudah independen. RPX is own by local shareholders. Kami membuat investasi agar pelanggan percaya kepada kami, dalam bentuk physical evidence. Why people trust RPX? Karena memang ada secara fisik, ada gedungnya, ada pesawat, ada van-nya maupun pesawat. Kalau sudah melihat bukti-bukti tersebut, orang akan merasa tenang. In order to do that, perlu investasi’ kan?

Nomor tiga adalah, investment on people. Kami kebetulan mengadopsi filosofinya FedEx, yaitu PSP (People, Service and Profit). When you have a good people, they will produce a good service. And when you have a good service, you will have a lot of volume. And when you have that, you will have profit.

Investasi lainnya dalam bentuk apa?

Kami punya teknologi baru yang diberi nama domestic trace and tracking (Delta), mengadopsi sistem di FedEx yaitu Cosmos. Jadi kita bisa tahu, barang atau dokumen sudah sampai di posisi mana dari menit ke menit melalui internet. Ataupun melalui customer service call 24 jam sehari. Itu jelas-jelas memerlukan investasi yang lumayan.

Berarti sistem tersebut juga merupakan unique selling point perusahaan ini?

Company lain mungkin ada. Namun, tidak seakurat milik kami. Hal ini bisa terjadi, karena kami menggunakan peralatan sendiri. Jadi bisa di-tracking dengan mudah dan cepat posisi barang kita berada di mana. We are doing it ourselves. (Majalah Marketing)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here