Microsoft: 100% Software Bajakan di Indonesia Terinfeksi Malware

[Reading Time Estimation: 2 minutes]

software bajakanDari tahun ke tahun tingkat aksi pembajakan software di Indonesia sangat memprihatinkan. Global Software Piracy Study dari Business Software Alliance (BSA) mengungkapkan bahwa tingkat pembajakan software di Indonesia mencapai 86%. Persentase tersebut mengantarkan Indonesia sebagai peringkat pertama pembajakan software se-ASEAN.

Akibatnya, nilai kerugian  yang dialami berbagai pihak juga terus membengkak. Sampai dengan akhir tahun lalu saja, jumlahnya diperkirakan mencapai US$ 1.467 miliar atau sekitar Rp 16,7 triliun. Kerugian ini tidak hanya ditanggung oleh perusahaan yang menjadi korban, namun juga menjadi beban negara.

Menurut BSA dikutip Okezone, sekitar 59% pengguna komputer di Indonesia mengaku membeli software bajakan untuk kepentingan pribadi.

Hal senada disampaikan oleh Microsoft Indonesia. Lucky Gani, Business Group Head, Windows Division, Microsoft Indonesia mengatakan, tingkat pembajakan software di Indonesia memang masih sangat tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa software bajakan yang ada di Indonesia itu 100% terinfeksi malware.

Tingginya harga komputer menjadi salah satu pemicunya. Sering kali, mereka membeli PC tanpa sistem operasi atau diinstal software bajakan, sehingga menimbulkan kerentanan terhadap risiko keamanan.

Untuk itu, Microsoft Indonesia melakukan berbagai kampanye, salah satunya CERMAT. CERMAT, atau singkatan dari Cerdas dan Hemat ditujukan untuk menjawab kebutuhan konsumen terhadap perangkat komputasi yang terjangkau.

“Kampanye CERMAT memberi kemudahan bagi keluarga Indonesia untuk memiliki perangkat komputer sesuai kebutuhan, sekaligus membuka pintu gerbang ke ekosistem dan pengalaman yang benar-benar baru.” terangnya.

Menurutnya, pengalaman ini memungkinkan mereka melakukan berbagai hal dan memperoleh keterampilan baru, kemampuan digunakan bersama secara aman, kompatibel dengan banyak hardware maupun software, koleksi aplikasi bermutu, serta kemampuan sosialisasi.

Hadirnya teknologi di tengah keluarga, orang tua perlu menetapkan aturan bersama anak-anak tentang bagaimana menggunakan produk teknologi secara bertanggung jawab, mengambil manfaat semaksimal mungkin, sekaligus meminimalkan risiko akibat penggunaan yang salah.

Untuk itu, Microsoft memberikan edukasi cyberwellness kepada para konsumen tentang tentang penggunaan teknologi secara bijak.

“Saat anak mulai berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman atau orang lain menggunakan PC, mereka perlu mulai memahami privasi, bagaimana menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri,” terangnya.

Menurutnya, dengan perlindungan keamanan standar tinggi dari Microsoft, keluarga dapat berfokus pada kegiatan belajar, bekerja, atau bermain, tanpa merisaukan keamanan dan privasi mereka.

Editor: Wahid, Sekar Ayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here