Lifestyle

Usung Konsep Sociopreneur, Cottonology Sukses Berdayakan Masyarakat Bandung

Marketing –  Banyaknya pengusaha-pengusaha UKM yang berorientasi pada pertumbuhan nilai sosial merupakan hal yang patut diapresisasi dan didukung. 

Menurut Ketua Umum Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (Hipmikindo) Syahnan Phalipi, sangat bagus jika ada UKM, apalagi yang dimotori anak muda, bisa melibatkan masyarakat sekitarnya baik untuk produksi maupun pemasaran.

“Apalagi kalau produknya tersebut bisa menyasar segmen masyarakat menengah ke bawah, yang secara potensi lebih besar daripada menengah atas. Ini yang harus digarap anak-anak muda, jangan sampai orang asing yang mengambil peluang ini,” tuturnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (3/2).

Syahnan menambahkan, produk fesyen merupakan industri yang sangat diminati masyarakat luas di samping produk-produk makanan dan minuman. Tidak heran jika pengusaha milenial banyak yang terjun di bidang ini khususnya di kota-kota yang memang dikenal sebagai surganya fesyen.

“Bandung, Jakarta, Jogjakarta adalah kota-kota di mana industri fesyen tumbuh pesat. Menyusul lainnya seperti Bali, Surabaya dan Semarang. Rata-rata semuanya di Jawa dan Bali. Sedangkan di luar itu, seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi belum terlalu menggeliat. Ini tantangan pemerintah daerah setempat,” imbuhnya.

Syahnan pun mengajak pelaku UKM di bidang fesyen ini untuk bisa membuat mereknya mengglobal dan dikenal pasar yang lebih luas.

“Produk lokal kita harus bisa dikenal pasar dunia. Salah satunya dengan mensponsori acara-acara yang digelar di tingkat global,” sarannya.

Salah satu merek UKM lokal asal Bandung di industri fesyen yang berkonsep social entrepreneurship adalah Cottonology. Menurut pendiri sekaligus CEO Cottonology,  Carolina Danella Laksono, sejak awal didirikan tahun 2017, ia memang memfokuskan usahanya pada pemberdayaan masyarakat sekitar.

“Kami melibatkan banyak sekali penjahit-penjahit lokal  di sekitar Bandung. Mereka terdiri dari perajin rumahan, individu atau lepasan.  Kami bersyukur kerja sama dengan mereka masih terus berlangsung sampai sekarang. Sebuah kebanggaan tersendiri bisa menjadikan bisnis ini sebagai jalan rezeki buat mereka,” tuturnya.

Menurutnya, dengan kolaborasi dan dukungan dari penjahit lokal, Cottonology sukses membuka 60 top-up store di 30 kota.  Sejauh ini merek lokal tersebut telah berhasil menjual lebih dari 400 ribu item pakaian pria di seluruh Indonesia. 

“Salah satu keunggulan Cottonology adalah usaha ini kami lakukan dari hulu ke hilir, dari mulai produksi sampai pemasaran. Jadi harga kami memang jauh lebih murah dengan bahan seratus persen katun.  Dengan kisaran harga 50 sampai 200 ribu, cukup terjangkau untuk semua kalangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa brand lokal tersebut berhasil masuk top selling ranked di platform e-dagang Indonesia seperti Shopee, Lazada, BliBli, Tokopedia dan Zalora.

Dalam menjalankan usahanya, Olin menekankan pentingnya eco-green bagi keberlangsungan kesehatan lingkungan di sekitarnya.

Sebelum benang dipintal, benang yang tak berwana dicelup untuk mendapatkan warna yang sesuai. Limbah dari celupan ini lalu didaur ulang sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi lingkungan disekitar.

Olin menargetkan Cottonology tidak hanya dikenal di Indonesia tapi seluruh dunia. “Target kami ke depannya adalah bagaimana Cottonology bisa memperluas pasar global, minimal di kawasan Asia terlebih dulu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top