Portal Lengkap Dunia Marketing

Lifestyle

Serat Tencel Untuk Fashion Ramah Lingkungan

Marketing – Menurunnya kualitas lingkungan menuntut masyarakat untuk menggunakan produk-produk ramah lingkungan, termasuk fashion. Industri tekstil pun dituntut untuk memproduksi benang dan kain ramah lingkungan dengan menggunakan serat alami. Serat tencel merupakan bahan baku yang ramah lingkungan karena terbuat dari serat kayu (Lyocell).

PT Lakumas (Laksana Kurnia Mandiri Sejari) adalah perusahaan tekstil yang memproduksi benang tencel. Lakumas memiliki pabrik di Tegal dan Bandung dengan kapasitas mencapai 400 metrik ton per bulannya. Erick Halim, Director PT Lakumas mengatakan, pihaknya menggunakan serat tencel karena ramah lingkungan, penyerapan airnya lebih bagus, dan hemat penggunaan air.

“Kita terjun langsung ke pengrajin, kita melihat kondisi mereka secara langsung, sebagian besar mereka untuk ekspor.  Tapi saya miris melihat kampung mereka, karena selokan mereka berwarana hitam, merah, biru,” tutur Erick yang ditemui usai diskusi ‘New Age Fiber for Sustainable Textile”, di Jakarta, Sabtu, 23 Maret 2019 lalu.

Erick menegaskan, serat seperti poliester atau sejenisnya akan mencemari lingkungan, karena setelah dicuci akan melepaskan mikro plastik. “Begitupun karena tidak digunakan lagi, terurainya membutuhkan waktu ratusan tahun,” tuturnya.  Selain ramah lingkungan, serat tencel membuat bahan lebih lembut, lentur, dan adem di kulit. “Kapas masih banyak diimpor, sehingga mengurangi ketergantungan akan impor kapas,” imbuhnya.

Lakumas

(kedua dari kiri ke kanan) Merdi Sihombing – Designer; Erick Halim – Direktur PT Lakumas; Winston A Muljadi – Commercial Head SEA Lenzing Group; Dr Abdul Wahib Situmorang – UNDP berbincang bersama dalam talkshow “New Age Fibre For Sustainable Textile by Lakumas” di Pameran Adi Wastra Nusantara 2019 di Jakarta (23/03/19). Foto: Majalah MARKETING/LL.

Untuk pasokan bahan baku tencel, Lakumas sudah bekerja sama selama 10 tahun dengan produsen serat tencel, SEA Lenzing Group. Namun fokus pada kerja sama pasokan serat tencel baru dalam 2 tahun terakhir ini. Selama 2 tahun terakhir Lakumas menjalin kerjasama denan perajin kain tradisional di Jawa dan Bali.

“Sebelumnya tencel banyak digunakan untuk sprei, Sekarang kami akan memperkenalkan tencel ke perajin kain tradisional. Target kita memperkenalkan tencel bukan hanya ke perajin kain tapi juga pecinta kain,” katanya lagi.

Winston A. Muljadi, Commercial Head SEA Lenzing Group mengatakan, dari serat tencel bisa digunakan untuk beragam produk tekstil seperti sprei, denim, pakaian dalam, kain tenun tradisional, karpet, batik, dan handuk.

“Mengapa kita perkenalkan serat tencel? Agar konsumen sadar bahwa ada alternatif lain untuk bahan baku tekstil selain katun, poliester, sutra, yang kualitasnya tidak kalah dengan serat lainnya,” jelas Winston.

Winston mengatakan, keunggulan serat tencel memiliki kemampuan untuk menyerap warna dengan sangat baik, terlebih jika dikombinaskan dengan pewarna alami. “Kainnya jadi cerah. Berkali-kali dicuci warna tidak akan pudar,” tuturnya. Dia mengklaim, limbah serat tencel bisa diurai di tanah dalam waktu sekitar 22 minggu. “Coba bayangkan, plastik terurai dalam ratusan tahun,” imbuhnya.

Tidak berlebihan jika Merdi Sihombing, Fashion Designer & Community Development menyebut tencel sebagai serat masa depan untuk industri fashion. Sayangnya masyarakat Indonesia sudah melupakan sustainbale fashion. Padahal sustainable fashion sudah dipraktekkan perajin kain tradisional Indonesia dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan.

Merdi, yang selama 15 tahun berkecimpung di sustainable fashion sangat mendorong perain kain tradisional agar beralih menggunakan tencel. Dia sendiri pernah memproduk kain tenun Badui dari serat tencel di tahun 2006 . “Tahun 2007, saya ditunjuk Lenzing sebagai duta tencel untuk perajin kain tradisional agar mau menggunakan serat tencel modern,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, serat tencel banyak digunakan untuk produk sprei premium, pakaian dalam olahraga, popok anak-anak, dan baju untuk operasi di rumah sakit. “Mengapa tencel dibilang the new age fiber karena ramah lingkungan, tidak mengandung toksin. Jika berkeringat badan tidak gatal dan tidak bau,” tuturnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top