Saat Para Kartini Masa Kini Berbagi Inspirasi

[Reading Time Estimation: 2 minutes]

April memiliki keistimewaan tersendiri bagi wanita Indonesia. Apa lagi kalau bukan diperingatinya Hari Kartini, yang jatuh pada tanggal 21, sebagai tonggak emansipasi? Nah, menyongsong perayaan menumental tersebut, Sabtu (07/04), Synthesis Development menggelar bincang siang bersama tokoh wanita inspiratif Indonesia, dalam tajuk Jelita Berkarya di Prajawangsa City.

Pendiri Yayasan Belantara Budaya, Diah K. Wijayanti, tampil membuka perbincangan di hari Wanita yang juga seorang fotografer dan jurnalis ini mengadakan sekolah tari dan musik tradisional yang dapat diikuti secara gratis. “Saya berharap banget semua golongan bisa belajar tari dan musik tradisional Indonesia,” Diah mengungkapkan alasannya.

“Karena awalnya saya merasa budaya Indonesia, kok, kurang disukai generasi muda?,” kenangnya heran. “Mereka lebih bangga menarikan modern dance. Bukannya itu tidak bagus, tapi tarian dan budaya warisan leluhur kita yang lainnya begitu kaya, begitu kerennya, dan begitu cantiknya.”

Hari itu di Prajawangsa City juga kehadiran Dhara Wyardhiati, fashion designer dan pemilik label clothing “Dhara” yang kerap mengangkat kain Nusantara, dalam bentuk batik maupun tenun, pada karyanya. Dhara menegaskan bahwa, “Wastra Nusantara, kain tradisional Indonesia, merupakan warisan budaya zaman dahulu kala yang harus kita pelihara, harus kita jaga.”

Pada kesempatan ini Dhara pun menggelar fashion show mini yang menampilkan beberapa karyanya. Dari situ terpaparkan alasan mengapa wastra Nusantara, seperti ia imbau, “Jangan sampai punah, atau bahkan dicuri negara lain.” Ya, kain tradisional Indonesia tak hanya cantik, tapi juga mampu tampil berkelas.

Tidak ketinggalan, Fianty R. Gosal, Project and Operational Director Synthesis Development, turut membagi inspirasi lewat pengalamannya berkarier di dunia konstruksi properti yang notabene didominasi kaum Adam. “Awalnya saya sempat merasa dipandang sebelah mata,” Fianty bercerita. “Tapi seiring berjalannya waktu, itu bisa teratasi dengan bukti kinerja kita, yakni konsisten, tekun, disiplin, dan tegas.” Dan baginya, ditambah kemauan untuk terus belajar, stigma mengenai wanita yang tidak cocok atau kurang ahli di dunia konstruksi dapat lenyap dengan sendirinya.

Selain berbagi cerita, para wanita pendukung acara ini pun mengungkapkan rasa suka citanya atas digelarnya event seperti ini. Tidak hanya dari sisi emansipasi yang amat menginspirasi, namun juga karena turut menyuarakan usaha para wanita dalam melestarikan budaya Indonesia yang tercermin lewat karya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here