Portal Lengkap Dunia Marketing

Marketing

PMF dan Growth Hacking

Kata growth hacking sangat erat dengan bidang usaha rintisan berbasis teknologi informasi. Istilah growth hacking pertama kali diperkenalkan oleh Sean Ellis, seorang growth hacker, pada tahun 2010. Tujuan growth hacking adalah pertumbuhan bisnis yang cepat pada tahap awal fase peluncuran produk. Salah satu syarat growth hacking yaitu product-market fit (PMF). Artinya, produk yang diluncurkan harus fit dengan pasar yang menjadi sasaran. Dengan kata lain, produk secara fungsional dan emosional superior dibanding produk sejenis yang sudah ada. Growth hacking tidak akan berhasil bila produknya tergolong mediocre. Superior dapat dicapai melalui beberapa pilihan, antara lain produk benar-benar baru (new to the world) atau produk merupakan peningkatan dari yang ada dengan penambahan fitur-fitur baru yang menjadi solusi bagi masalah konsumen. Masalah yang disadari ataupun tidak disadari. Pada tahap ini riset yang tepat sangat dibutuhkan dalam proses pengembangan produk.

PMF dan Growth Hacking

Sering kali pemasar mengalami dilema antara “kesempurnaan” produk dan kecepatan waktu memasuki pasar (time to market). Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan mencapai minimum viable product (MPV). Selanjutnya, perbaikan dan peningkatan terus-menerus akan menyempurnakan produk. Dengan MPV tidak berarti produk diluncurkan secara ala kadarnya. Sekurang-kurangnya produk memiliki diferensiasi yang jelas dan memang dibutuhkan pasar sasaran. PMF adalah syarat pertama upaya melakukan growth hacking. Growth hacking lebih pada mindset dibanding toolset. Artinya, prinsip yang sama juga bisa dilakukan pada bisnis konvensional, khususnya dalam hal menciptakan PMF.

Masih ingat BlackBerry (BB)? Sebelum masa kejayaannya dulu, BB sudah eksis cukup lama di Indonesia tetapi tidak menarik. Fitur push mail-nya tidak membuat konsumen memburu produk tersebut. Akhirnya BB mencapai kriteria PMF ketika memasukkan killer apps. Aplikasi media sosial yang saat itu sedang digandrungi dapat dengan mudah digunakan melalui BB. Tanpa repot. Sementara jika menggunakan Nokia—yang waktu itu market leader, konsumen harus masuk dulu ke website media sosial tertentu. Ditambah lagi dengan messenger apps BBM yang sangat keren karena unik (satu device satu ID). Dengan cepat BBM menjadi sangat tenar dan menggantikan Nokia sebagai market leader di kategori smartphone. Pada puncak kejayaannya, penjualan BB di Indonesia memberi kontribusi sekitar 30% penjualan BB di luar negara asalnya. Eksekutifnya datang dari Kanada ke perusahaan konsultan marketing di mana saat itu saya bergabung. Mereka ingin tahu mengapa penjualan BB di Indonesia sangat luar biasa, padahal mereka tidak mengalokasikan bujet promosi yang besar.

Contoh lainnya adalah Meikarta yang penjualan awalnya juga sangat memukau. Meikarta menawarkan produk hunian yang sangat murah dibanding hunian sekelasnya dari pengembang lain. Sederhana. Itu saja. Bukan karena pengembang lain mengambil untung terlalu besar. Tetapi, karena kelompok Lippo mampu membangun dengan harga lebih murah melalui cara-cara tertentu.

PMF adalah langkah pertama dalam strategi growth hacking. Tanpa PMF, strategi tidak akan berjalan. Dan sesungguhnya growth hacking tidak hanya dibutuhkan pada fase awal peluncuran produk baru (introduction). Growth hacking juga dibutuhkan pada rentang fase maturity sesaat sebelum masuk fase declining dalam daur hidup produk (product life cycle).

 

*) Tanggapan atau pertanyaan dapat dikirim ke MarketingSparks@yahoo.com.   

 

Suhartono Chandra

Presiden Asosiasi Manajemen Indonesia

Dosen Marketing Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara

 

MM.12.2017/W

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top