Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Riset

Konsumen Masih Melirik Pasar Tradisional

Untuk produk komoditas, konsumen lebih memilih pasar tradisional. Sementara, pasar modern dipilih untuk pembelian produk nonkomoditas seperti susu, vitamin, soft drink, dan lainnya.

Naiklah ke atas jembatan fly over Ciputat Raya, kemudian berhenti tepat di atasnya. Jika kita menuju ke arah jalan Dewi Sartika, tengoklah ke kanan. Tampak deretan lapak beratap plastik warna biru yang sudah koyak-koyak. Lalu, tengoklah ke arah sampingnya. Di sana, terdapat bangunan megah Mal Ciputat. Itulah sebagian wajah pasar Ciputat. Ketika melihat itu semua, kata pertama yang tepat dipilih adalah, kontras.

Jika ada waktu, cobalah untuk sekali-kali mampir ke pasar. Bagaimana keadaan sesak di sana, pasti akan dijumpai. Apalagi saat pagi hari, ketika banyak pengunjung—terutama para ibu—sibuk melakukan ritual belanja untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Kelebihan pasar tradisional di antaranya harga dapat ditawar—ini merupakan kepuasan tersendiri bagi para ibu yang biasa berbelanja. Dalam hal kelengkapan barang dagangan, sebagian besar pasar tradisional sudah lengkap menyediakan aneka keperluan sehari-hari. Mulai dari bumbu dapur, sayuran, sembako, jamu, hingga kemenyan dan bunga-bunga keperluan ziarah ke makam, ada di sana. Hal inilah yang jarang dijumpai di pasar modern, dan menjadi alasan para konsumen lebih memilih untuk sibuk di “pasar becek” ketimbang di pasar modern.

Meski ritel modern tampak terus berkembang, pasar tradisional ternyata masih menjadi pilihan konsumen untuk berbelanja—terutama untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil riset Nielsen di lima kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan, pasar tradisional masih dominan sebagai tempat untuk berbelanja. Tren belanja tersebut terlihat dari frekuensi kunjungan ke channel tradisional—seperti pasar tradisional, pasar becek, dan toko sayuran—yang tetap tinggi dibandingkan frekuensi belanja di channel modern. Frekuensi kunjungan konsumen ke pasar tradisional bisa mencapai 25 kali dalam sebulan, 12 kali untuk pasar becek, dan 19 kali untuk toko sayuran. Sementara kunjungan ke channel modern tidak lebih dari 7 kali dalam sebulan.

Melihat persentase dari frekuensi kunjungan ini, beberapa perusahaan yang menggarap pasar modern pun tak mau ketinggalan. Direktur Retail dan Services Nielsen, Yongky Susilo, mengatakan pertumbuhan pasar modern tahun ini diprediksi lebih pesat dari tahun 2009 karena semua peritel besar melakukan ekspansi. Carrefour misalnya, telah menambah gerainya dari 44 menjadi 48 gerai, Giant dari 55 menjadi 61 gerai. Sementara, pertumbuhan yang paling subur memang terletak di sektor minimarket. Indomaret yang tadinya hanya membangun 3.312 gerai, kini melonjak menjadi 4.110 gerai. Disusul Alfamart yang juga tak mau kalah bersaing, dari 2.975 gerai, bertambah menjadi 3.777 gerai.

Dengan keadaan ekonomi terlihat positif pada paruh pertama tahun 2010 ini, kepercayaan konsumen naik, pertumbuhan volume belanja juga menunjukkan kenaikan positif. Nielsen Shopper Trends melaporkan bahwa tingkat belanja konsumen akan naik tahun ini. Pertumbuhan produk kelontong di Indonesia terhitung sejak Januari–Mei 2009 sampai Januari–Mei 2010 mengalami kenaikan hingga 9persen dengan nilai Rp 44,7 triliun. Apalagi pada Agustus 2010, tingkat belanja konsumen bakal merangsek naik seiring penyambutan hari raya Idul Fitri.

Dalam hal berbelanja, konsumen juga memerhatikan channel yang berbeda untuk melakukan pembelian terhadap kategori yang berbeda juga. Konsumen melakukan pembelian untuk barang komoditas seperti mi instan, minyak goreng, dan kecap pada tempat tradisional. Sedangkan lebih dari 50persen konsumen akan memburu susu, vitamin, dan produk perawatan kulit ke pasar modern.

Sementara mengenai intensitas konsumen berbelanja, mungkin akhir pekan adalah waktu yang paling disukai untuk mengunjungi hypermarket dan supermarket, dengan persentase masing-masing 34 persen dan 45 persen. Hal ini mungkin karena mereka merasa bahwa aktivitas di kedua tempat tersebut bisa dijadikan sebagai ajang rekreasi keluarga—jika melihat dari waktu kunjungan yang dilakukan pada siang hingga sore hari. Untuk minimarket, konsumen biasanya mengunjungi pada malam hari (43 persen). Untuk channel tradisional (toko-toko dan pasar tradisional), konsumen memilih untuk mengunjungi pagi hari dengan sekitar 40 persen konsumen mengunjunginya pada hari kerja.

Pasar tradisional memang masih dominan di antara kalangan raksasa ritel global. Tapi di lain sisi, Yongky menekankan, bukan berarti pasar tradisional menjadi pilihan satu-satunya. Tipe perilaku konsumen Indonesia adalah repertoire atau saling-silang. Mereka yang ke pasar tradisional juga belanja di hypermarket, supermarket, dan minimarket, tergantung urgensi kebutuhan. “Tren belanja di semua kategori tiap tahun juga naik,” ujar dia.

Nielsen juga melakukan riset mengenai kebiasaan konsumen berbelanja. Biasanya, para konsumen juga akan lebih nyaman jika berbelanja bersama orang lain. Sejumlah 45 persen konsumen memilih ke Hypermarket dengan anak, 32 persen memilih ke supermarket bersama pasangannya, sementara 67 persen lebih menyukai kesendirian saat berkunjung ke pasar tradisional.

Lalu bagaimanakah respons konsumen saat ditanya bagaimanakah cara mereka mengalokasikan uang ketika mereka menerima peningkatan pendapatan? Konsumen di Jakarta (74 persen) dan Semarang (53 persen) memilih menyimpannya untuk tabungan; lebih dari 60 persen konsumen di Surabaya dan Medan akan menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga; 52 persen konsumen di Bandung akan mengalokasikannya untuk kebutuhan dasar anak; dan 43 persen konsumen di Makassar akan memakainya untuk pendidikan anak-anak. Secara total, 52 persen konsumen di kota besar akan memasukkan dana tambahan pendapatan tersebut ke dalam tabungan dan 46 persen masih akan menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga. (Merliyani Pertiwi – Majalah MARKETING)

Click to comment

0 Comments

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    To Top