TPS Food: Keller Ingatkan Lagi Strategi Marketing yang Terlupakan

Keller saat menjelaskan tentang POP & POD pada seminar Indonesia Brand Summit 2014
Keller saat menjelaskan tentang POP & POD pada seminar Indonesia Brand Summit 2014

Persaingan yang semakin ketat di pasar membuat merek kerap berlomba-lomba menampilkan diferensiasi pada produk-produk terbarunya. Strategi marketing ini bertujuan untuk memberikan nilai dan konsep yang sama sekali berbeda dari yang ditawarkan kompetitor.

Sangat baik memang memberikan ragam pilihan produk, tapi menurut Kevin Lane Keller pada seminar Indonesia Brand Summit 2014 di Hotel Mulia, Senayan, strategi marketing seperti itu bisa menjadi bumerang tersendiri.

Hal itu diakui oleh TPS Food, produsen penganan seperti Taro dan Mie Kremez itu mendapat semacam reminder bahwa ada dua strategi marketing yang bisa diterapkan dalam berekspansi. Pertama adalah menerapkan POP (Point Of Parity) dan yang kedua adalah POD (Point Of Differentiation). POP inilah yang sering dilupakan oleh pelaku marketing.

POP sendiri merupakan strategi marketing di mana si produsen menelurkan produk yang tak banyak berbeda dari kompetitor, namun memberikan satu nilai lebih sebagai pembeda. Sementara POD, produknya benar-benar berbeda dari kompetitor.

“Ada beberapa pesan dari Kevin Keller yang menarik. Misalnya pada diferensiasi, dia ngingetin bukan hanya poin of differentiation yang ada dan perlu digunakan, tapi juga point of parity,” ucap Tani Sulaeman, Marketing Director Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk, ketika ditemui pada acara yang bertajuk “How to Build Great, Powerful and Profitable Brands”, Senin, 3 Februari 2014 lalu.

tps food logoTani juga menjelaskan bahwa menerapkan POD itu terlalu berisiko bagi para marketer muda. “Sering kali ketika sebuah brand fokus pada differentiation, brand itu malah jadi aneh sendiri,” tambahnya.

Ia juga memberikan contoh yang terjadi di pasar makanan ringan, “Misalnya snack, ketika akan menelurkan produk baru, packaging-nya harus terlihat seperti makanan ringan, nggak boleh kalau kayak kacang, itu kan jadi aneh. Begitu juga dalam hal desain, ikon, dan warna, semuanya harus tetap mencirikan merek utamanya.”

Nah, jika Anda ingin menelurkan sebuah produk, lebih baik perhatikan dulu identitas merek Anda dan apa yang beredar di pasaran.

Sebagai contoh adalah ketika Anda akan berekspansi ke produk pasta gigi, usahakan agar merek Anda tetap tampak seperti pasta gigi kebanyakan, jangan sampai produk Anda terlihat seperti cat minyak misalnya. Warna, ikon, desain, dan jenis hurufnya juga harus bisa mencirikan bahwa itu adalah turunan produk dari merek Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.