Inilah Cara Brodo Berbisnis

Bisnis itu ibarat menjalin sebuah hubungan, Anda harus kenalan, PDKT, berani buat nembak, dan membuat hubungan asmara tidak membosankan. Semua itu harus ditumbuhkan secara bertahap dari waktu ke waktu.

Begitu juga dengan memulai sebuah bisnis, Anda harus kenalan dengan bisnis yang akan digeluti, seperti apa produknya, bagaimana persaingannya, hingga siapa saja target market yang akan digarap. Kemudian mulai ke tahap PDKT, yakni mendalami karakter produk, merek, target pasar, dan kebutuhan khalayak.

sepatu brodo
Salah satu produk keluaran Brodo

Setelah itu masuk ke inti, yaitu berani “nembak”. Percuma PDKT lama-lama tapi nggak berani “nembak” alias terjun ke dunia bisnis. Terakhir, jaga supaya konsumen tidak merasa jenuh dengan produk yang Anda tawarkan.

Sepertinya merek Brodo menganut prinsip di atas. Terbukti dengan gayanya yang langsung terjun ke lapangan setelah menemukan industri apa yang sekiranya cocok, siapa target pasarnya, dan bagaimana memproduksinya.

“Saya dan teman kuliah saya, Putera Dwi Karunia kerap berdiskusi tentang peluang bisnis. Namun setelah kejadian saya mencari sepatu dan tidak ada ukuran yang pas, serta harganya terjangkau, saya mulai mencari tahu tentang industri sepatu di Bandung,” terang Yukka, founder Brodo.

“Kami pikir, nggak ada salahnya mencoba menjajaki ide men-design sepatu yang sesuai dengan keinginan kami dan coba menjualnya dengan harga yang cocok dengan kantong mahasiswa,” tambahnya lagi.

Muhammad Yukka Harlanda, salah satu founder brodo
Muhammad Yukka Harlanda, salah satu founder brodo

Meski demikian, memberanikan diri untuk memulai sebuah bisnis memang bukanlah hal yang mudah. Itu juga diakui oleh Yukka, namun ia memiliki pertimbangan sendiri hingga berani menjadi seorang pebisnis.

Pertama, prospek market. Kedua, kepuasan batin. “Indonesia ini negara yang akan punya masa depan cerah. Kekuatan ekonomi kita salah satunya didorong oleh konsumsi domestik. Dalam beberapa tahun ke depan, kelas menengah Indonesia akan mencapai atau mungkin melebihi angka 50%. “Kuenya” akan bertambah besar,” kata Yukka.

“Pertanyaannya, siapa yang akan mengambilnya? Sudah banyak merek luar negeri yang berlomba-lomba masuk ke sini. Potensinya sudah sangat obvious, buat apa menunggu dan menjadi penonton?” lanjut Yukka.

Di samping itu, kepuasan batin juga menjadi pendorong bagi Yukka dalam memulai usahanya. “Saat mengambil keputusan akan bekerja full time atau ambil perkerjaan lain, saya berpikir saat nanti saya berumur 60 tahun. Apakah nantinya keputusan itu akan saya sesali? Setelah beberapa hari berpikir saya memilih untuk serius di Brodo. Mumpung masih muda (saat itu 22 tahun), kalaupun gagal saya masih bisa cari pekerjaan,” jelasnya.

Jadi, kenapa harus nunggu tua kalau mau buka bisnis??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here