Portal Lengkap Dunia Marketing

CONSUMER GOODS

Garap Pasar dengan Strategi Multibrand

Marketing.co.id – Artikel Consumer Goods | Bicara kapas kecantikan, merek Cinderella bisa dikatakan cukup melegenda di Indonesia. Merek ini sudah berusia sekitar 34 tahun. Perjalanan perusahaan yang memproduksi kapas Cinderella dimulai sejak tahun 1986 sebagai home industry.

Seiring waktu, perusahaan terus berkembang. Pada tahun 1993 berdiri perusahaan baru bernama PT Tarunakusuma Purinusa dengan fokus utama memproduksi dan mendistribusikan kapas kecantikan modern. Dalam proses produksinya, perusahaan ini sudah dilengkapi dengan mesin yang menggunakan teknologi modern. Adapun produk pertama yang diluncurkan yakni kapas kecantikan dengan merek “Selection”.

Selanjutnya di tahun 2003, PT Tarunakusuma Purinusa membangun pabrik baru di Bawen, Ungaran. Pada fase ini perusahaan sudah menggunakan teknologi tinggi dari Jerman. Dengan teknologi ini perusahaan memproduksi bleach cotton, cotton roll, cotton sliver, facial cotton, cotton bud, dan cotton ball.

“Tahun 1986 kami memulai usaha sebagai perusahaan tradisional, lalu tahun 1983 melakukan mekanisasi dengan mesin-mesin dari Asia. Sekarang kami sudah menggunakan mesin-mesin dari Jerman,” jelas Heryanto Tanaka, Direktur Utama PT Tarunakusuma Purinusa.

Baca juga: Menilik Strategi Branding Produk Kecantikan Korea

Kapas Selection, Kapas, Selection

Heryanto Tanaka, Direktur Utama PT Tarunakusuma Purinusa.Foto: Dok. Pribadi.

Lebih jauh, Heryanto yang diwawancarai secara virtual mengatakan, merek Cinderella merupakan legacy ketika perusahaan masih berproduksi secara tradisional. Sementara merek Selection menjadi penanda bahwa perusahaan sudah memasuki era modernisasi. Merek Cinderella sendiri masih dipertahankan dengan segmen pasar menengah bawah.

Ia mengungkapkan, kondisi persaingan di pasar kapas kecantikan cukup ketat, dengan hadirnya banyak pemain, termasuk pemain baru dari luar negeri.“Sekarang banyak kompetitor adalah hal biasa karena bisnis tanpa persaingan hampa. Dengan persaingan kita terpacu untuk terus meningkatkan kinerja,” kata pria kelahiran Semarang ini.

Agar tetap diminati pasar, perusahaan menggunakan kapas yang halus dan bebas dari bahan kimia. Selain itu, perusahaan juga terus berinovasi dan menjaga kualitas. “Komitmen untuk menjaga kualitas dan memuaskan konsumen selalu kami jaga,” imbuhnya.

Dalam menghadapi kompetisi, selain bersikap inovatif dan menjaga kualitas, perusahaan juga memiliki lini produk dan merek beragam. Lini produk yang dimiliki yakni kapas kecantikan, cotton bud, dan cotton ball. Adapun merek-merek yang digunakan yaitu Cinderella, Selection, dan Modis, Medisoft, Kharisma, Rona.

“Kami menggarap semua segmen pasar. Istilahnya sekali tepuk semuanya kena, mulai dari kelas bawah, menengah, sampai atas. Tapi, kami kuat di segmen menengah bawah,” terang Heryanto.

PT Tarunakusuma Purinusa menggantungkan pasarnya pada semua segmen, termasuk segmen B2B. Perusahaan ini menjadi pemasok private label di banyak perusahaan ritel besar seperti Carrefour, Hero, Guardian, Giant, Alfamart, Indomaret, Superindo, Matahari, dan merek-merek lainnya.

Selain itu, PT Tarunakusuma Purinusa mengumpulkan pundi-pundi pendapatan dari menjual bahan setengah jadi berupa cotton roll dan cotton sliver. Meski nilainya belum signifikan, kapas kecantikan Selection sudah berhasil menembus pasar ekspor ke negara-negara Asia, seperti Taiwan, China, Korea Selatan, dan Vietnam.

“Nilai ekspornya masih kecil. Kami berhasil menembus pasar ekspor karena menjalin relasi dengan perusahaan-perusahaan lain yang juga sudah ekspor dan mencari mitra bisnis di luar negeri melalui internet,” tuturnya.

Masuk e-Commerce

Menurut Heryanto, untuk menggarap segmen milenial, kita perlu memahami kebutuhan dan keinginan segmen ini terhadap kapas kecantikan serta cara mereka berbelanja. Tentunya segmen milenial terbiasa berbelanja secara online. Produk kapas kecantikan dari PT Tarunakusuma Purinusa sudah bisa dibeli di beberapa e-commerce seperti Bibli dan Lazada.

“Penjualan di kanal digital belum terlalu signifikan. Meski masih kecil kita tetap membuka kanal penjualan digital, karena era sekarang susah kalau tidak menggunakan kanal digital,” jelasnya lagi.

Baca juga: Mempertahankan dan Meningkatkan Market Share Saat dan Pascapandemi

Di masa pandemi, kanal digital memang menjadi penolong, karena banyak modern outlet yang tutup atau membatasi operasinya karena kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Seperti diakui Heryanto, penjualan kapas kecantikan PT Tarunakusuma Purinusa juga sedikit terpengaruh di masa pandemi karena banyak modern outlet yang tutup.

Ke depan, PT Tarunakusuma Purinusa akan terus melakukan diversifikasi produk agar penetrasi pasarnya makin kuat. Mengenai pemanfaatan teknologi digital lebih jauh, akan dilihat terlebih dahulu sejauh mana dampaknya pada penjualan. Menurut Heryanto, salah satu hal yang mesti diperhatikan ketika akan mengoptimalkan teknologi digital adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM).

Artikel ini pernah dimuat di Majalah MARKETING edisi Agustus 2020

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Berita Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top