Fenomena Triple Disruption di Jagat Bisnis

Marketing.co.id Berita Marketing | Tanpa terelakkan, “triple disruption” yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir, yaitu digital disruption, millennial disruption, dan pandemic disruption telah melakukan seleksi terhadap merek-merek lokal yang ada di pasar.

Selama satu dekade terakhir–bahkan 5 tahun belakangan, bermunculan merek-merek nasional yang sebelumnya tidak terkenal, namun kini begitu mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Sejumlah nama muncul seperti GoTo, Traveloka, MsGlow, RANS, Sayurbox, Brodo, Never Too Lavish, Blibli, SiCepat, Warung Pintar, Ajaib Sekuritas, Bank Jago, dan Sociolla. Merek – merek ini bukan hanya kian populer, namun makin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kiprah perusahaan tersebut memang berbeda satu sama lain. Namun mereka menyeruak di industrinya masing-masing, mampu bersaing, bahkan tak sedikit yang menggoyang keberadaaan pemain lama yang telah mapan. Valuasinya pemain-pemain baru ini pun terus membesar dan diperkirakan kian membesar pada tahun-tahun mendatang seiring tingkat penerimaan serta penggunaan yang makin masif.

Baca juga: Valuasi Start-up

Perkembangan ini merupakan hal yang natural terjadi. “Triple disruption” telah melakukan apa yang disebut sebagai “pembilasan” terhadap mereka yang ada di panggung bisnis. Seperti halnya proses mencuci, triple disruption memilah serta memilih mana yang layak dan relevan dengan situasi sekarang: mereka yang tak lincah beradaptasi –termasuk pemain-pemain mapan sekalipun –   akan tergilas, atau tergantikan pemain-pemain baru.

Perusahaan-perusahaan yang disebutkan di atas adalah para penunggang yang berhasil berselancar di atas triple disruption. Bahkan bisa dikatakan mereka adalah “anak kandung” dari disrupsi yang muncul, terutama disrupsi digital dan milenial. Mereka hadir memanfaatkan kemajuan teknologi digital serta munculnya kaum milenial. Malah tak sedikit dari perusahaan tersebut yang memang dilahirkan serta dikembangkan oleh kaum milenial itu sendiri.

Warung Pintar - Bon Pintar 2

Ciri khas para penunggang yang sukses berselancar di atas triple disruptions ini adalah pola pikir dan perilaku para founder serta pengelolanya yang digital minded dan digital savvy. Mereka lincah memanfaatkan teknologi digital dan preferensi milenial. Karena lahir serta dibesarkan di tengah gonjang-ganjing disrupsi, mindset berikut DNA-nya adalah cepat mengadopsi kemajuan digital, piawai melakukan digitization dan adaptation seperti pentingnya menerapkan omnichannel dalam strategi bisnisnya. Tak heran jika mereka lebih resilien dan lebih piawai mengelola disrupsi sehingga produk serta mereknya berkembang dalam 5 tahun terakhir. Mereka berhasil membalik disrupsi dari ancaman menjadi peluang untuk tumbuh eksponensial.

Baca juga: Memanfaatkan Disrupsi Teknologi untuk Tetap Unggul

“Merek-merek lama mesti waspada perkembangan ini. Mereka mesti menyadari zaman sudah berubah. Agar tetap relevan, tak terbilas perkembangan, bukan hanya mindset yang harus disetel ulang, tapi juga pendekatan terhadap strategi dan taktik bisnis,” ungkap Yuswohady, Managing Partner Inventure.

Fenomena tiga disrupsi yang membilas merek-merek lokal ini akan dibahas dalam ajang Indonesia Brand Forum (IBF) 2021 yang berlangsung pada 2-4 November 2021. Dalam ajang ini, sejumlah merek lokal yang melewati masa-masa pembilasan ini terpilih memaparkan kinerja merek berikut strategi bisnisnya masing-masing.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Bisnis

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here