Portal Lengkap Dunia Marketing

PR Hype

Philips Fokus Pada Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat

Image positif bagi Philips adalah kesatuan yang bersifat holistik. Ini diwujudkan lewat inovasi produk serta kontribusi kepada masyarakat yang juga inovatif.

Tidak semua perusahaan home appliance menyadari arti penting sebuah coorporate image. Sebagian besar di antaranya hanya fokus pada target penjualan. Padahal image positif sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang.

Demikianlah yang diyakini Philips dalam menggerakkan roda bisnis di Indonesia. Perusahaan yang merangsek pasar Indonesia sejak tahun 1895 ini memang terbilang andal soal mengemas citra positif. Rentang waktu dan pengalamanlah yang menjadikan merek asal Belanda ini mampu mengukuhkan awareness di benak konsumennya selama 123 tahun.

Mampu menjaga citra perusahaan selama 123 tahun bukanlah pekerjaan mudah. Namun, Philips yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup konsumen mampu membuktikannya.

cathrine siswoyoChatrine Siswoyo, Corporate Communications Manager PT Philips Indonesia, mengungkapkan dasar peningkatan image Philips karena tekad untuk berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup 3 miliar manusia di seluruh dunia hingga tahun 2025.

Komitmen tersebut dijalankan pada tiga divisi bisnis di Philips, yaitu Healthcare, Lighting, dan Consumer Lifestyle. Healthcare meliputi suplai alat-alat kesehatan medis. Consumer Lifestyle berupa produk-produk kebutuhan rumah tangga yang inovatif, serta lini bisnis Lighting yang sudah populer di masyarakat.

Chatrine menekankan, peningkatan citra perusahaan menjadi tanggung jawab dari personel internal Philips. Namun, khusus strategi komunikasi merupakan tugas tim korporat perusahaan. Adapun upaya yang dilakukan adalah memastikan agar semua produk atau campaign yang dilakukan sesuai guideline perusahaan, yaitu “innovation and you”.

Philips fokus pada tiga hal untuk mempertahankan dan meningkatkan citra positifnya. Pertama, menghadirkan inovasi yang relevan bagi konsumennya. Kedua, menanamkan “jiwa” pada setiap produk yang dipasarkannya melalui SDM Philips yang berkualitas. Ketiga, membangun komunikasi interaktif dengan masyarakat melalui media digital dan konvensional. Program komunikasi terbaru yang tengah digarap adalah “Bincang Aktif”, melalui Twitter dengan konsumen Philips tentang berbagai hal dan mendatangkan pakar sebagai narasumber.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan jika bicara citra positif Philips yakni program “Inovasi Penuh Makna dari Philips”. Program yang bersifat korporat ini dimaksudkan untuk menjaring ide-ide di masyarakat yang bersifat solutif. Secara garis besar ada tiga ide yang ingin dijaring Philips, yakni inovasi pengembangan daerah pedesaan yang berkelanjutan, peningkatan akses layanan kesehatan, dan pemberdayaan ibu dalam merawat keluarga.

Partisipannya adalah masyarakat umum dari seluruh penjuru Tanah Air. Setelah melalui beberapa tahapan seleksi, didapatlah 12 finalis yang nantinya akan disaring lagi menjadi 2 terbaik. Untuk meraih posisi ini, mereka harus pintar-pintar meraih suara publik melalui voting. Caranya, masyarakat yang menilai harus membuka laman philips.to/inovasi atau Facebook Philips Indonesia. Philips berani menggelontorkan dana sebesar Rp1,5 miliar untuk aplikasi dua ide terbaik.

“Di Philips, kami menerapkan kemitraan dengan komunitas serta pemangku kepentingan yang berpikiran maju agar dapat menyelami perspektif warga, dan berusaha untuk memberikan rekomendasi mengenai cara-cara yang dapat membuat kota-kota lebih hemat energi,” ujar Chatrine.

Jangan dilupakan program CSR (corporate social responsibility) “Kampung Terang Hemat Energi (KTHE)” yang bergulir sejak tahun 2008. Program ini digagas untuk mengurangi pemakaian energi dan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa. Bentuknya berupa donasi lampu “Philips Sitrang”. Dikatakan hemat energi karena lampu Sitrang diklaim mampu menghemat energi hingga 80% dibandingkan lampu konvensional. Program ini terus berkembang dengan menerangi objek-objek terkenal seperti Monas di Jakarta dan Jembatan Ampera di Palembang.

Foto : Lilyanti

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top