Perlukah Pengusaha dan Eksekutif Indonesia Mencemaskan Perlambatan Ekonomi?

[Reading Time Estimation: 3 minutes]

Marketing.co.id – Berita Marketing | Zurich Insurance Group baru-baru ini merilis hasil Survei Opini Eksekutif 2023 (Executive Opinion Survey, EOS), yang dilakukan bekerja sama dengan World Economic Forum (WEF). Survei ini memberikan gambaran risiko-risiko utama yang dihadapi oleh Indonesia dan negara-negara lain dalam dua tahun ke depan.

Zurich Asuransi Indonesia
(Kiri ke kanan) Chief Risk Officer PT Zurich Asuransi Indonesia Wayan Pariaman bersama dengan Chief Financial Officer PT Zurich Asuransi Indonesia Musi Samosir dalam sesi diskusi media terbatas Zurich di Jakarta, (4/12). Zurich menyampaikan hasil Survei Opini Eksekutif 2023 (Executive Opinion Survey, EOS) yang disusun oleh Zurich Insurance Group bekerja sama dengan World Economic Forum (WEF).

Menurut hasil survei, kemerosotan ekonomi, mulai dari resesi hingga stagnasi, menduduki peringkat risiko tertinggi yang dapat menimbulkan ancaman bagi Indonesia. Temuan serupa juga terlihat di tingkat Asia Tenggara hingga secara global. EOS 2023 melibatkan lebih dari 11.000 pemimpin bisnis dari 110 negara, termasuk Indonesia, yang memberikan tanggapan mereka mengenai risiko-risiko yang mungkin dihadapi oleh negara mereka.

Salah satu sorotan utama dari survei ini adalah fokus pada risiko pelemahan ekonomi. Meskipun Indonesia diperkirakan akan menutup tahun 2023 dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,1%, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia menyatakan bahwa perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian dapat menjadi tantangan pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024.

Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global, terutama setelah masa pemulihan dari dampak pandemi COVID-19, pelaku industri, terutama industri asuransi, diharapkan memainkan peran yang lebih besar dalam memberikan perlindungan keuangan kepada masyarakat. Chief Risk Officer PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Wayan Pariama, menekankan pentingnya mengenali potensi risiko dan menjadi adaptif terhadap perubahan dinamis di masyarakat.

“Sebagai elemen penopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia, pelaku bisnis harus bisa mengidentifikasi potensi risiko dan bersiap untuk perubahan yang dinamis. Peranan industri asuransi dapat memberikan dampak positif yang signifikan agar masyarakat terlindungi dari ketidakpastian tersebut,” ungkap Wayan.

Selain risiko ekonomi, risiko lingkungan juga menarik perhatian besar pengusaha dan eksekutif di Indonesia. Isu cuaca ekstrem menduduki posisi kedua dalam risiko-risiko yang paling diwaspadai. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa tahun 2023 menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah perubahan cuaca di Indonesia. Ini menjadi perhatian serius, terutama karena isu ini tidak mencapai 5 besar risiko global.

Risiko ketiga tertinggi yang dihadapi Indonesia adalah dari penyakit menular. Ini sejalan dengan sentimen Asia Tenggara dan mencerminkan fokus masyarakat Indonesia terhadap kewaspadaan terhadap penyakit menular. Kementerian Kesehatan baru-baru ini mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia, menanggapi peningkatan kasus infeksi bakteri di saluran pernapasan, terutama pada anak-anak di Tiongkok Utara.

Selain ketiga risiko tersebut, survei ini juga mencatat bahwa kekurangan pasokan energi dan pengangguran menempati urutan keempat dan kelima sebagai risiko paling dikhawatirkan oleh pemimpin bisnis di Indonesia.

“Dari perspektif global, termasuk Indonesia, tantangan ekonomi tetap menjadi isu utama dalam lima risiko tertinggi. Namun, kekhawatiran atas risiko terkait cuaca ekstrem dan penyakit menular di Indonesia telah meningkat, berpotensi berdampak ke berbagai sektor,” tambah Wayan.

OS 2023 diselenggarakan oleh World Economic Forum untuk Pusat Ekonomi dan Masyarakat Baru. Marsh McLennan dan Zurich Insurance Group adalah mitra dari seri Pusat dan Laporan Risiko Global. Dalam menghadapi risiko-risiko ini, Zurich menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan kolaborasi dengan pemangku kepentingan, pelaku bisnis, dan pihak terkait lainnya guna mengelola risiko dan mengurangi dampak bagi masyarakat, sebagai bagian dari komitmen mereka dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here