LTC Glodok Masih Jadi Primadona Berburu Perkakas

[Reading Time Estimation: 3 minutes]

Pamor Glodok sebagai pusat perdagangan produk elektronik  terbesar di Indonesia memang semakin meredup seiring dengan sepinya pembeli dan hengkangnya para pedagang dari mal-mal di kawasan tersebut. Namun, kondisi ini tidak terasa di LTC Glodok ( Lindeteves Trade Center) yang merupakan pusat perdagangan perkakas di bawah payung PT Agung Podomoro Land.

Pengawas Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS) LTC Glodok, Alex Suharly, mengatakan, Glodok bukan hanya pusat barang-barang elektronik, tapi juga merupakan kawasan perdagangan perkakas, alat-alat teknik, dan alat industrial dengan segmen berbeda-beda.

“Kalau ramai pemberitaan Glodok sepi itu hanya di Glodok City, sedangkan di LTC Glodok pengujungnya masih stabil. Rata-rata pengujung LTC Glodok sekitar 50.000 orang per hari,” bebernya.

Alex menambahkan dari tahun ke tahun Kawasan Glodok semakin berkembang, pusat perbelanjaannya terus bertambah dan pedagangnya semakin banyak, bahkan menjamur di sepanjang jalan di pinggiran Glodok sampai ke Pasar Asemka hingga Mangga Dua.

LTC Glodok sendiri memiliki 3.000 kios dan jumlah pedagang yang mencapai ribuan dengan okupansi diangka 90%. “Kios yang tersedia 100% sudah ada pemiliknya. Kalaupun ada kios yang kosong itu dipakai untuk gudang,” jelas Alex.

Di sini pengunjung bisa berburu aneka ragam perkakas mulai dari perkakas rumah tangga, perkakas mesin, perkakas tangan, perkakas keselamatan, hingga alat industrial dengan harga yang beragam mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah.

“Konsumen tidak perlu khawatir dengan keaslian barang yang dibeli di LTC Glodok. Produk yang dijual pun sangat lengkap dari A-Z, jadi semua yang konsumen mau ada di sini,” sebut Alex.

Manager Advertising and Promotion LTC Glodok, Hendry Trie Asmono, mengemukakan Kawasan Glodok masih menjadi primadona alat-alat teknik dan suku cadang dari berbagai daerah di Tanah Air. Guna mengakomodir pedagang dan pembeli yang datang ke Glodok, Agung Podomoro Land sedang membangun Harco Glodok dengan kapasitas sekitar 2.000 kios.

“Minat pedagang di kawasan ini masih sangat tinggi, terlihat dari unit yang terjual sudah mencapai 70% dan sekitar 30% nya sudah serah terima kunci dan mulai di isi. Padahal baru akan diluncurkan di awal tahun depan,” ungkap dia.

Hendry meyakini Kawasan Glodok masih memiliki prospek yang baik sebagai pusat perdagangan perkakas, alat-alat teknik, dan alat industrial, meskipun perdagangan online bertumbuh semakin masif. Ini dikarenakan perilaku konsumen yang masih ingin melihat langsung dan mengecek barang-barang yang akan dibeli.

“Selain ingin melihat barangnya, masalah terbesar dalam pemasaran online adalah ongkos kirim. LTC Glodok fokus menjual perkakas dan alat industrial, seperti genset, kompresor dan perkakas yang ukurannya cukup besar sehingga mahal diongkos kirim,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Januar, Kepala Toko Teknikmart, konsumen yang membeli online melalui www.teknikmart.com ataupun marketplace biasanya khusus perkakas kecil, sedangkan untuk barang yang berukuran besar dan berat, pelanggan akan datang ke toko terkait masalah ongkos kirim dan umumnya mereka membutuhkan penjelasan dari barang yang dibeli.

“Perlu mengombinasikan antara offline dan online untuk mengikuti tren pasar. Apalagi penjualan offline mulai mengalami penurunan. Dulu omzet rata-rata Rp130 juta per hari di tahun 2016, sekarang turun menjadi Rp100juta di tahun 2017. Untuk online omzetnya Rp30 juta per hari tapi marjinnya lebih tinggi dibandingkan offline,” pungkas Januar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here