Lazada, E-Commerce yang Humanis

[Reading Time Estimation: 2 minutes]

Maraknya perdagangan elektronik atau yang biasa disebut e-commerce tentu sangat memudahkan konsumen. Bagaimana tidak, belanja digital dinilai dapat menghemat waktu dan biaya (transportasi).

Meski begitu, ternyata tidak sedikit dari mereka yang tidak suka berbelanja lewat sistem e-commerce karena dirasa ribet atau ada beberapa yang masih tidak percaya.

E-Commerce Indonesia Lazada
E-Commerce Indonesia Lazada

Ya, pengalaman seperti barang tidak dikirim setelah melakukan pembayaran, cacat produksi, dan sebagainya, membuat sebagian masyarakat masih kurang percaya dengan belanja online.

Menanggapi hal tersebut, situs jual-beli online Lazada mengaku lebih humanis agar tidak ada konsumen yang merasa dirugikan. “Lazada adalah e-Commerce yang lebih mengutamakan unsur humanisme,” ucap Rizki Suluh Adi, VP Marketing & Business Development Lazada.co.id.

Apa maksudnya?

Pengertian e-commerce sendiri adalah proses transaksi jual-beli yang terjadi lewat web. Mulai dari memesan barang dan pembayaran, sementara proses pengiriman barang langsung diantar ke alamat yang dituju.

Lazada
(kiri-kanan): Aditya Jamaludin (Head of Online Marketing Lazada Indonesia) Rizki Suluh Adi (VP Marketing & Business Development Lazada Indonesia)

“Menurut kamus, e-commerce adalah perubahan proses jual-beli ke dunia digital,” papar Rizki.

Sementara konsumen, banyak yang ragu mengikuti prosedur karena takut barang tidak sampai ketika sudah mengirim uang. Ada pula yang lebih suka transfer, yang juga dianggap belum e-commerce karena pembeli tetap harus beranjak dari kursinya. Kendati demikian, Lazada tidak mempedulikan hal tersebut.

“Kami memberikan semua layanan yang disukai oleh konsumen. Mau lewat kartu kredit, klik-klikan (klik BCA, Mandiri, dsb), transfer, ataupun COD (Cash on Delivery). Terserah cara pembayaran apa yang mereka inginkan,” ucap Rizki.

“Kami menganggap ini lebih humanis ketimbang memaksa mereka untuk memilih salah satu metode pembayaran,” tambahnya.

Memang tidak semua orang mengerti dan mau melakukan pembayaran di awal transaksi, ketakutan barang tidak sampai, tidak sesuai, atau ada cacat produksi membuat publik memilih sistem COD untuk meminimalisir risiko.

Meski begitu tetap saja, semua tergantung pada pilihan konsumen. Jika hal seperti di atas terjadi pada mereka yang melakukan sistem pra-bayar, Lazada mengaku punya langkah antisipasi.

“Lazada memberikan garansi full refund selama 14 hari pembelian. Jika dalam jangka waktu itu barang yang dikirim tidak sesuai pesanan, kami akan mengembalikan semua biaya pembayaran. Tentunya syarat dan ketentuan berlaku,” terang Rizki.

Hasilnya, Lazada berhasil menjadi toko online terbesar dengan jumlah pesanan rata-rata sebanyak 8.000 order per harinya.

Tidak peduli apa yang dikatakan kamus, teori, atau buku besar, bisnis adalah ilmu terapan yang membutuhkan pengalaman untuk memaksimalkannya. Dan Lazada berhasil mengubah teori e-commerce untuk memberikan layanan yang diinginkan konsumen.

“Dalam e-commerce, layanan adalah segalanya,” jelas Aditya Jamaludin, Head of Online Marketing Lazada Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here