Kedai Unik, Rumah Pohon

Bambang_Sudewo_Kedai_Rumah_PohonMarketing.co.id – “Semakin banyak cinta yang kita berikan dengan tulus untuk kebaikan orang lain, semakin besar pula kehidupan penuh cinta akan hadir dalam batin kita.” Itulah sebait filosofi manajemen Adiluhung Bambang Sudewo, Pemilik Kedai Rumah Pohon Mas Dewo di Kampung Blunyahrejo, Yogyakarta. Rumah makan unik ini telah menjadi pilihan favorit bagi masyarakat Yogyakarta.

Bermula dari memanfaatkan sebidang tanah yang banyak ditumbuhi pohon besar seperti pohon asem, sawo, kelapa, jati Belanda, dan alpukat. Oleh pria yang akrab disapa Dewo ini lahan disulap menjadi kedai yang tidak hanya menjual makanan-minuman, tetapi juga suasana (experience). Alhasil, berdirilah Kedai Rumah Pohon Mas Dewo sebagai tempat rekreasi keluarga dan ruang meditasi untuk menenangkan diri.

Rumah makan yang berdiri sejak November 2009 ini pembangunannya dilakukan secara bertahap dengan modal Rp 50 juta. Dewo menggunakan material utama bambu petung yang disusun bertingkat hingga 6 lantai, menyerupai sebuah rumah pohon dengan ketinggian mencapai 25 m.

Ia mengaku, di Indonesia belum ada kedai rumah pohon setinggi ini dan menggunakan bahan utama bambu yang ditopang beberapa pohon besar.

Bangunan paling atas adalah “Gardu Pandang“ yang berfungsi untuk menikmati pemandangan kota Yogyakarta dan sekitarnya. Di saat cuaca cerah, dari Gardu Pandang, para pengunjung dapat melihat Gunung Merapi, Merbabu, Gunung Sumbing, dan sederet pegunungan Menoreh, pegunungan Wonogiri, Gunung Kidul, Monumen Yogya Kembali, area kampus UGM, dan area Malioboro.

Untuk makan di Kedai Rumah Pohon, pengunjung harus melewati beberapa tangga dan beberapa lantai, setiap lantai memiliki keunikan tersendiri.

Kedai_Rumah_PohonLantai 1–2 adalah tempat lesehan untuk makan, lantai 3–4 tempat pembibitan tanaman hias herbal sirih merah dan homestay (tempat istirahat), lantai 5 (Pesanggrahan Sangga Buana) adalah ruang meditasi, dan lantai 6 adalah Gardu Pandang.

“Saya menawarkan konsep yang berbeda dibanding rumah makan lain yang ada di Yogyakarta, saya menjual suasana, yaitu keunikan bangunannya yang artistik. Seluruh unsur bangunannya terbuat dari bambu yang ditopang beberapa pohon besar yang memang sudah tumbuh sebelumnya. Sangat terasa suasana alaminya, nyaman dan menimbulkan perasaan rileks yang mengesankan pengunjung,” ujar Dewo.

Karena unsur pembedanya jelas, banyak pihak yang penasaran untuk mengunjungi, termasuk dari kalangan media. “Sehingga saya tidak perlu capek-capek berpromosi gencar untuk memberi tahu keberadaan Kedai Rumah Pohon ini. Yang saya lakukan sekarang, menjaga hubungan baik dengan para stakeholder, termasuk teman-teman wartawan,” jelas pria yang tampil bersahaja ini.

Data pengunjung Kedai Rumah Pohon Mas Dewo, pada Senin sampai  Kamis tercatat 200–300 orang per hari. Pada akhir pekan atau hari libur nasional lebih banyak, kurang lebih 350–600 orang per hari. Terlebih pada bulan puasa, pengunjung penuh, bisa mencapai 600–800 orang tiap hari. Tak jarang, pejabat dan artis Ibukota pun terlihat nongkrong di sini.

Tidak heran bila rata-rata omzet rumah makan ini bisa mencapai Rp 250 juta–Rp 275 juta per bulan. Menu favorit Kedai Rumah Pohon Mas Dewo adalah Nasi Guendheng, Es Teller 21, Iga Bakar, Gulai Goreng, Gurameh Rica-Rica, Jus Cantik, Wedang Kraton, dan Wedang Wedhus Gembel.

Ditanya soal resep bisnis kuliner, Dewo punya konsep sederhana, yakni melayani dengan hati, memberikan suasana aman dan nyaman, harga tak terlalu mahal, tidak ekspansif, membangun dan menjaga komunikasi yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan, memerhatikan mutu dan kualitas, sabar, telaten, kreatif dan senantiasa bersyukur dan berdoa untuk menjadi tidak serakah. Prinsip ini ia pegang teguh hingga sekarang, dan menjadi kekuatan di saat menjumpai tantangan.

Misalnya ketika awal membuka Kedai Rumah Pohon, pria yang memiliki hubungan khusus dengan angka 19 ini bercerita, lontaran kata-kata sinis menghujam ke dirinya. Seperti, “Di tengah kampung kok buka rumah makan, terus siapa yang mau beli, buang-buang modal dan kurang kerjaan.“

Akan tetapi, berkat filosofi manajemen Adiluhung, seperti yang sudah disampaikan di atas, perkataan sinis tersebut tidak lantas menyurutkan Dewo untuk melangkah. Hasilnya, seperti yang dituai sekarang.

Soal rencana membuka cabang Kedai Rumah Pohon di tempat lain, Dewo menandaskan, untuk sementara hanya ada satu Kedai Rumah Pohon Mas Dewo dengan konsep bangunan setinggi enam lantai, karena memang tidak mudah mencari lahan yang adem yang ada pohon-pohon yang besar.

Jadi, sementara tidak dibuka cabang Kedai Rumah Pohon. Namun, belakangan ia membeberkan bahwa sebentar lagi akan dibuka rumah makan baru dengan konsep yang unik dan berbeda dengan Kedai Rumah Pohon Mas Dewo.

Areanya lebih luas; ±8.000 m², jauh dari kota, udaranya sejuk dengan sumber air yang melimpah. “Sekarang ini baru akan diurus hak paten nama rumah makannya,” terang dia.

Foto: Istimewa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here