Jaga Keberadaan Merek Melalui TVC

MARKETING.co.id – Konsumen lebih yakin jika iklan terus ditayangkan berulang kali. Hasilnya, selain meningkatkan omzet, keberadaan merek pun tetap terjaga.

Sebut saja iklan Antangin yang berisi pesan bahwa Indonesia kaya akan seni dan budaya. Iklan tematik bernuansa kekayaan Indonesia ini mengingatkan bahwa produk tersebut pun berasal dari kekayaan tanaman obat yang ada di Indonesia, seperti jahe, ginseng, dan lainnya.

“Bisa dikatakan, merek Antangin tumbuh dan berkembang sejak lama dan memiliki sejarah panjang. Dalam iklan tersebut, kami menampilkan bintang iklan Happy Salma sebagai endorser Antangin. Rasanya tepat jika menyampaikan iklan bernuansa Indonesia dan lantas dibawakan oleh endorser yang juga memiliki komitmen terhadap kebudayaan Indonesia,” kata Mulyo Rahardjo, Managing Director PT Deltomed Laboratories.

Sebagai perusahaan yang bermula dari usaha herbal rumahan di Kalimantan tahun 1976 lalu, kini PT Deltomed Laboratories tetap menjaga komitmen untuk menggali potensi khasiat tanaman obat herbal yang berasal dari sari tumbuhan alami. Kemudian, mereka mengolahnya menjadi obat tradisional yang dikemas secara praktis dan modern.

Tak heran jika selama berkarya, Deltomed telah menjadi produsen obat tradisional (herbal) bermutu. Berbagai jenis obat-obatan herbal telah mendapat pengakuan—baik dari tingkat nasional maupun internasional karena terbukti dapat membantu penyembuhan secara alami. Dari sinilah, Deltomed percaya bahwa rahasia kesehatan yang baik berasal dari alam.

“Sama halnya dengan perjalanan panjang Antangin, pembuatan materi iklan pun merupakan sebuah proses yang panjang. Ini dimulai dengan melakukan diskusi, baik di tim internal kami dan diskusi dengan agensi periklanan. Dari kedua diskusi tersebut, barulah hasilnya disatukan untuk menciptakan suatu iklan yang menarik,” kata dia.

Ya, iklan tersebut pun dimulai dari analisis konsumen, target market, dan kekuatan merek yang dapat diangkat secara bersamaan sehingga terlihat benang merah. Pada iklan TVC Antangin yang dibintangi Happy Salma, Mulyo mengungkapkan, pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat bahwa Antangin sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia sejak dahulu. Artinya, Antangin ingin menanamkan persepsi di benak khalayak bahwa Antangin merupakan produk yang dipercaya masyarakat.

Selain itu, ada juga proses FGD terkait penentuan iklan sebelum siap edar. Biasanya, poin utama yang menjadi tolok ukur adalah iklan tersebut harus menarik, memorable, memiliki recall terhadap iklan maupun merek, serta pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh target market dan masyarakat pada umumnya.

Soal pelaksanaannya di lapangan, tentu ada banyak pihak yang terlibat, sebut saja sutradara, fotografer, maupun agensi periklanan untuk mewujudkan konsep iklan menjadi sebuah iklan yang siap dinikmati oleh masyarakat. Untuk waktu penayangannya, diatur berdasarkan jam tayang, media, serta faktor lain yang ikut memengaruhi.

“Biasanya, iklan yang kami keluarkan bertujuan untuk memelihara keberadaan merek di tengah maraknya produk sejenis. Konsumen pun akan lebih yakin jika iklan tersebut tetap tayang. Lebih dari itu, iklan pun menjadi salah satu cara guna meningkatkan market share dan awareness,” ujar Mulyo.

Pada iklan Antangin sendiri, ada beberapa versi iklan yang telah dirilis. Iklan utama diperankan oleh Happy Salma dengan tema mengusung seni dan budaya Indonesia. Sementara versi iklan lainnya bersifat testimonial dari beberapa komunitas yang mewakili target market Antangin, seperti komunitas sepeda dan sebagainya. Total iklan Antangin berjumlah tujuh versi, termasuk iklan utama Happy Salma.

Dari semua versi iklan yang diluncurkan Antangin, tiap-tiap iklan memiliki keunikan tersendiri—baik dari segi pesan maupun konsep. Namun, dia menekankan bahwa yang paling penting adalah standarisasi pembuatan iklan tersebut. Ditambah, iklan pun harus mampu menciptakan awareness serta mengikuti aturan dalam pembuatan iklan di Indonesia.

Sedangkan untuk mengetahui hasil yang bisa dicapai dengan adanya iklan Antangin yang diluncurkan, biasanya dilakukan pengukuran terhadap efektivitas iklan. Dalam hal ini, pihak Antangin mengukur berdasarkan omzet penjualan yang didapat. Hanya saja, sulit memprediksi berapa persentase yang didapat dengan adanya dampak iklan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here