Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Riset

Industri Tekstil: Redup atau Tidak?

shutterstock_42885319Kalangan perbankan menengarai bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masuk kategori industri redup. Namun di lain pihak, pemerintah menganggap industri ini masih menjanjikan.

Berbasis pada portofolio sekitar tahun 1980-an, pinjaman bank terhadap sektor industri tekstil dan produk tekstil dapat mencapai kisaran 30% sampai 40%. Namun memasuki dekade tahun 2010-an, besaran kucuran kredit yang diberikan sektor perbankan menurun cukup drastis hingga ke kisaran 10%.

Puncak kejayaan industri tekstil dianggap sudah terjadi pada tahun 1980-an, kemudian mulai tahun 1995 industri tekstil mulai kalah bersaing dengan China. Oleh sebab itu, bank harus menakar risiko dan memperhitungkan industri yang dianggap kalah bersaing. Tolok ukur “kalah bersaing” dilihat dari margin keuntungan yang minim dan risiko gagal bayar yang tinggi.

Benarkah tuduhan tersebut? Pastinya, isu itu sempat mengemuka saat negara ini membuka lembaran baru pada Januari 2014. Menanggapi tudingan tersebut, Presiden Direktur APAC Inti Corpora Benny Soetrisno membantahnya. Dia menyatakan bahwa industri tekstil dan produk tekstil termasuk salah satu sektor industri yang sangat menjanjikan (indotextiles.com, Januari 2014).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mendukung pernyataan Benny Soetrisno dengan memberikan contoh kemajuan pesat PT Sritex dan PT Sari Warna. Presiden SBY juga mengajak para pelaku usaha sektor industri tekstil dan produk tekstil beserta masyarakat untuk saling mendukung demi memajukan daya saing dalam menghadapi persaingan era pasar bebas (indotextiles.com, Januari 2014).

Sebenarnya, bagaimana cara mendefinisikan industri yang sudah memasuki masa redup? Apa ciri-ciri industri yang sudah masuk kategori redup?

Industri redup dapat didefinisikan sebagai industri yang sedang memasuki masa penurunan dan telah melewati masa puncak atau masa keemasannya. Industri tersebut juga tidak lagi dapat menjanjikan pertumbuhan jangka panjang. Ciri-ciri spesifik industri redup antara lain pangsa pasar subsektor industri jauh lebih kecil dari rerata seluruh industri sekaligus memiliki pertumbuhan di bawah rerata industri. Sebagai contoh, industri minyak dan gas dipandang sebagai industri redup oleh para pelaku bisnis eksternal dan bahkan oleh para pelaku bisnis internal (Globe and Mail, 2003).

Nah, dalam kenyataannya, sektor industri tekstil dan produk tekstil nasional memang menikmati masa-masa terbaiknya pada tahun 1980-an, kemudian memasuki dekade 1990-an, sinarnya meredup perlahan. Sebagai contoh, pada awal dekade tahun 2000, terdapat ratusan industri TPT di wilayah Jawa Tengah mengalami kondisi memprihatinkan. Berita pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi hal yang biasa. Dua penyebab yang biasa dijadikan alasan oleh para pengusaha TPT adalah tingginya biaya operasional dan lesunya pasar ekspor.

Kelesuan tersebut berawal dari krisis ekonomi yang sempat melanda Indonesia. Lemahnya nilai rupiah secara tiba-tiba sementara sebagian besar bahan baku masih diimpor, telah menyebabkan kerugian yang besar. Sementara di saat yang sama, harga jual ekspor tetap. Hal tersebut diperparah oleh naiknya biaya komponen seperti bahan bakar minyak (BBM), listrik, serta upah tenaga kerja.

Jika pasar ekspor dianggap lesu, bagaimana dengan pasar dalam negeri? Sayangnya pasar dalam negeri memiliki kerentanan terhadap serbuan impor produk sejenis. Akibatnya, ancaman kebangkrutan massal pun ada di depan mata. Melihat berbagai faktor tersebut, tidak mengherankan jika sektor perbankan memiliki anggapan bahwa industri TPT memasuki masa redup.

Untunglah pemerintah menunjukkan komitmen meningkatkan daya saing industri TPT, antara lain melalui program restrukturisasi mesin tekstil. Di saat yang sama, masih ada pemain-pemain industri TPT nasional yang memiliki resiliensi yang sangat baik. Sebagai contoh, Ricky Putra Globalindo, sang raja bisnis pakaian dalam dengan merek andalan GT Man memiliki pasar internasional dan berniat membuka pabrik produksi baru di luar Indonesia. Kahatex Group, perusahaan tekstil terintegrasi terbesar di Indonesia juga telah berekspansi ke luar Indonesia.

Memang saat ini Indonesia hanya mengontrol sekitar 1,8% bisnis tekstil global yang bernilai US$750 miliar. Bahkan, pemain relatif baru seperti Vietnam berhasil melewati Indonesia dengan besaran pangsa pasar 3,6%. Melalui pasar ekspornya, Vietnam berhasil membukukan pendapatan sebesar 21 miliar dolar per tahun 2012. Sementara Indonesia hanya berhasil mendapatkan 12 miliar dolar.

Bagaimanapun, angka 12 miliar dolar meski terlihat kecil, berhasil mematahkan stigma industri redup. Jika menilik perolehan ekspor industri TPT yang sempat menurun dari 10,1 miliar dolar di tahun 2008 ke 9,4 miliar dolar di tahun 2009, jelas angka 12 miliar dolar pada tahun 2012 menunjukkan keberhasilan industri TPT nasional untuk bangkit kembali.

Salah satu contoh terbaik masih kuatnya perputaran uang di industri TPT nasional adalah Pasar Tanah Abang. Jika kita berkunjung ke Pasar Tanah Abang, kita dapat mengetahui bahwa seluruh bank yang ada di dunia ini membuka cabang di sana. Hal tersebut jelas mustahil terjadi jika perputaran uang di sektor perdagangan tekstil dan garmen dianggap kecil.

Kini, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang termasuk dalam kategori tertinggi di dunia benar-benar harus dimanfaatkan dengan jeli. Jika memang masih berat untuk bersaing dengan negara-negara seperti China, Vietnam, atau Sri Lanka, industri TPT kita harus mampu menguatkan pasar dalam negeri. Beberapa cara menguatkan pasar dalam negeri tersebut antara lain dengan kreativitas dan inovasi yang lebih tinggi serta dukungan kuat pemerintah dalam aspek regulasi dan tentunya infrastruktur.

Lebih jauh lagi, industri TPT juga harus dilihat sebagai industri strategis yang menjadi salah satu industri penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Dengan sifat yang sangat padat karya, industri TPT dan turunannya harus dilihat sebagai bagian signifikan dari peta industri nasional. Jadi, mari bersama-sama memajukan industri TPT nasional dan hentikan memandangnya sebagai industri redup.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top