Hoax Marketing

www.marketing.co.id – Pemerintah dibikin kalang kabut oleh sebuah kabar. Seorang dokter relawan Indonesia bernama Aisha Wardana dikabarkan diculik di Somalia. Aisha memang sering bercerita di Twitter soal kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya. Bahkan dia pernah bercerita dirinya tertembak di Kenya. Kisah-kisah heroik ini menarik banyak follower ke dalam akunnya.

Namun, Aisha kemudian menghilang dan mengabarkan dirinya diculik oleh gerilyawan di Somalia. Pemerintah Indonesia terlihat begitu sibuk dalam menanggapi berita ini yang ternyata hanya hoax. Pemilik nama (yang ternyata bukan dokter itu)  sedang bersantai-santai di rumahnya di Karawang dan bukan berada di Somalia. Jadi? Masyarakat Indonesia tertipu, termasuk pemerintah Indonesia yang cemas bahwa salah seorang warga negaranya mengalami missing in action.

Hoax atau berita palsu adalah konsekuensi dari kemerdekaan bicara yang ada di social media. Konsumen yang “iseng” selalu ada dan mereka percaya bahwa hoax akan selalu sukses diluncurkan. Hoax akan selalu menyelip di antara pesan-pesan motivasi, cerita-cerita lucu, sampai gambar efek Photoshop yang Anda terima setiap hari. Konsumen Indonesia yang kebanyakan punya “semangat berbagi” dengan mudahnya selalu menyebarkan hoax tersebut. Alhasil, jarang sekali hoax tidak sukses di Indonesia, kecuali kontennya benar-benar tidak masuk akal!

Kapokkah masyarakat mendapatkan cerita-cerita bohong? Ternyata tidak. Masyarakat masih saja asyik terbuai dengan berbagai cerita bohong. Mengapa? Karena cerita-cerita tersebut selalu menarik dan sensasional. Hoax akan selalu ada dalam berbagai bentuk cerita lain yang menarik. Seperti misalnya pesan lewat BBM soal dokter di Bandung yang ahli di bidang kanker. Tulisannya sungguh meyakinkan bahwa dia benar-benar dokter yang top. Bahkan pesan tersebut menyebutkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Banyak orang (termasuk saya) menyimpan nomor telepon tersebut, siapa tahu dibutuhkan sewaktu-waktu. Ternyata itu cuma hoax. Sang pembuat berita barangkali tertawa terpingkal-pingkal melihat hasil perbuatannya.

Mattinbrooklyn, seorang pemuda iseng, pernah mem-posting video revolusioner tentang shaving helmet, sebuah helm yang bisa mencukur rambut Anda. Di dalam helm yang memiliki empat pisau cukur di dalamnya itu, Anda bisa memangkas rambut Anda tidak lebih dari 1 menit. Sebagai percobaan di film itu dia mempergunakan temannya yang memasukkan kepalanya di helm tersebut. Terbukti, dalam beberapa detik rambutnya sudah botak!

Penemuan revolusioner itu menarik perhatian banyak orang. Videonya di YouTube ditonton oleh lebih dari 1,2 juta orang. Sampai-sampai CNN pun ingin meliputnya.

Namun, Mattin akhirnya membuka rahasia bahwa video tersebut hanyalah trik kamera. Orang yang tadinya berambut dan kemudian botak itu ternyata dua orang kembar. Ketika helm dipasang, orang yang berambut yang disorot; sementara ketika helm dilepas, orang yang botaklah yang disorot.

Konsumen akhirnya cuma bisa geeer belaka. Sekalipun banyak yang tertipu, pemerintah tidak perlu turut campur. Ini hanya keisengan belaka dan tidak menimbulkan kerugian finansial bagi siapa pun.

Karena hoax begitu efektif bekerja, tidak jarang seorang marketer tergoda untuk menggunakan strategi hoax marketing. Hoax bisa dipakai untuk mendeskreditkan merek tertentu, tetapi juga bisa dipakai sebagai strategi komunikasi merek. Cara ini pernah dilakukan oleh Sony PlayStation yang ingin mempromosikan permainan baru mereka, yaitu dengan cara membuat website palsu tentang seorang arkeolog.

Menswear sebuah merek fashion juga pernah menjalankan hoax marketing dengan cara mengunggah video seorang wanita yang ingin mencari pria yang tertinggal jaketnya saat bertemu dengannya di café. Si wanita, karena lupa menanyakan alamat dan nomor kontak pria tersebut akhirnya mengumumkannya di YouTube dan berharap di empunya jaket melihat. Video tersebut berhasil menarik 60.000 audience, khususnya pria-pria yang ingin menjadi man in the jacket. Ternyata itu hanya video promosi jaket belaka dan wanita tersebut hanyalah seorang model.

Anda bisa berkreasi tak terbatas dalam membuat hoax. Namun, etika dalam soal hoax ini masih menjadi perdebatan. Konsumen bisa terhibur, namun bisa juga merasa jengkel.  Memang, antara keisengan dengan berbohong dalam soal hoax ini akhirnya terasa tipis bedanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here