Portal Lengkap Dunia Marketing

UMKM

Hasil Inovasi UMKM Bali Datangkan Para Investor

Hasil Inovasi UMKM Bali Datangkan Para InvestorMarketing.co.id – Berita Marketing | Proyek NSLIC/NSELRED bersama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) kembali menjembatani pertemuan antara pelaku usaha asal Buleleng, Klungkung, dan Tabanan dengan para investor di dalam dan luar negeri.

Kegiatan dengan tema “Langkah Awal, Sinergi Besar” ini diselenggarakan selama dua hari di Bali sebagai tindak lanjut atas tingginya antusiasme para investor dan pemangku kepentingan terhadap pertemuan bisnis lada Belitung di bulan Agustus lalu.

Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa salah satu prioritas Kementerian Desa adalah pemulihan ekonomi pedesaan. Hal tersebut dilakukan melalui program Dana Desa yang tepat sasaran untuk pemberdayaan masyarakat dan dilakukan secara swakelola melalui Padat Karya Tunai Desa (PKTD). PKTD dilakukan dengan melibatkan warga desa terutama mereka yang kehilangan pekerjaan, keluarga miskin, Pekka/Perempuan Kepala Keluarga, serta kelompok marginal lainnya.

“Telah banyak inovasi pengembangan ekonomi desa yang lahir dari desa dan menjadi kekuatan desa. Inovasi-inovasi tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pemberdayaan dan pendampingan untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan perdesaan dari hulu ke hilir serta penguatan kelembagaan ekonomi desa yaitu BUMDesa/BUMDesma”, jelasnya lebih lanjut.

Sebagai badan usaha milik desa, sebagian besar kepemilikan modal BUMDesa berasal dari desa tersebut. Untuk mendukung legalitas kelembagaan BUMDesa dan agar leluasa menjalankan usahanya, maka Pemerintah mengeluarkan UU No. 11/2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja. UU tersebut juga memampukan BUMDesa untuk menjalankan usaha operasional dan bertindak sebagai induk dari unit usaha yang berbadan hukum (sebagai Perusahaan Penanaman Modal).

Dengan kata lain, BUMDesa adalah pintu untuk menjaga kemandirian ekonomi dan mengembangkan potensi ekonomi warga menuju Kebangkitan Desa.

Pada prinsipnya BUMDesa tidak mematikan usaha-usaha masyarakat desa yang sudah ada tetapi mengkonsolidasi usaha warga desa. Selain menjalankan peran ekonomi, BUMDesa juga berperan sebagai penjaga aset warisan budaya desa.

“Melalui Pertemuan Bisnis hari ini, Kementerian Desa berupaya lebih memperkuat kerja sama kemitraan dengan seluruh pemangku kepentingan terkait pengembangan potensi ekonomi dan kelembagaan desa lokal. Dengan demikian, tujuan SDGs Desa dapat tercapai dalam hal Pertumbuhan Ekonomi Desa yang Berkeadilan (SDGs 6) dan Kemitraan Pembangunan Desa (SDGs 17)”, tutup Menteri Desa PDTT.

Pada temu bisnis ini, NSLIC dan Kemendes PDTT mengajak Astra Internasional, Elevenia, BNI, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, UKM Mendunia, TaniHub, Tokopedia, SEA Group (Shopee) dan 12 investor lainnya untuk melihat langsung produk-produk yang dihasilkan oleh kurang lebih 500 petani dan pengrajin yang tergabung dalam 25 kelompok usaha di Buleleng, Klungkung, dan Tabanan.

Ketiga daerah tersebut telah menerima dukungan teknis dari NSLIC melalui skema program Responsive Innovation Fund (RIF) untuk pengembangan kualitas komoditas unggulan dan produk turunannya, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kapasitas SDM dari BUMDES dan BUMDESMA antara lain dalam hal penguatan organisasi (AD/ART, restrukturisasi Bumdesma, SOP, Business plan), pemasaran online dan offline produk-produk Kawasan, dan pelatihan entrepreneurship, literasi keuangan dan management, serta jejaring pasar.

Melalui skema RIF, beberapa produk dari Nusa Penida telah lahir di masa pandemi seperti Coconut Chips yang menyediakan rasa caramel gula aren dan tepung mocaf (singkong) yang 100% halal dan sehat karena kadar indeks glikemiknya yang rendah, bebas gluten, dan kaya serat, kalsium dan fosfor.

Di Buleleng, pendampingan ditargetkan untuk perbaikan kualitas produk kerajinan bambu dan gula aren. Para pengrajin bambu kini mampu menciptakan produk-produk dengan desain baru yang sesuai dengan permintaan pasar.

Selain itu, ada juga produk lainnya yang menarik para investor. Dari Tabanan antara lain Beras Organik Pertiwi dan Kopi Leak, lalu ada garam ‘Uyah’ Kusamba dan sabun Kella asal Klungkung, juga produk-produk dari Buleleng seperti kopi robusta Kejapa, mangga Amplem Sari, minyak kayu putih Prani, anggur laut Bali, dan buah strawberry beku.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Cameron MacKay menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap upaya-upaya Pemerintah Indonesia untuk mendukung pengembangan usaha mikro dan kecil melalui program NSLIC yang didanai Kanada.

“Program ini telah memberikan hasil nyata untuk masyarakat lokal dan masyarakat lain di Indonesia, khususnya di Bali. Melalui pelatihan dan dukungan konsultasi teknis, petani lokal dan pemilik usaha dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas komoditas, diversifikasi produk, pengelolaan keuangan, keterampilan penjualan, dan bantuan untuk mendapatkan izin dan sertifikat yang diperlukan bahkan dalam menghadapi pandemi COVID-19”, jelasnya.

MacKay lebih lanjut menjelaskan bahwa kegiatan hari ini menandai langkah penting bagi usaha lokal untuk berkembang dan memperluas karena NSLIC telah memfasilitasi kerja sama dengan pengusaha besar yang tidak hanya membeli produk lokal, namun juga terus memberikan dukungan bagi usaha-usaha kecil bagaimana mengembangkan produk-produk dan bisnis mereka. Ia mendorong para pemangku kepentingan yang hadir pada pertemuan hari ini untuk membantu usaha-usaha lokal ini untuk tidak hanya masuk ke pasar lokal dan domestik, namun dapat masuk ke pasar internasional.

Dalam acara Temu Bisnis tersebut, Pemerintah Kanada melalui Program NSLIC juga meluncurkan Buku Resep Tradisional Masyarakat Bali Aga Buleleng. Selain bertujuan untuk melestarikan resep tradisional masyarakat Bali Aga yang belum pernah tercatat sebelumnya, buku juga bertujuan untuk mendukung kelompok – kelompok usaha perempuan di Buleleng untuk membangun usaha kulinernya guna meningkatkan pendapatan terutama di masa pandemi COVID19. Hal ini sangat penting karena pandemi Covid19 sangat memukul sektor informal/sektor lain yang mempekerjakan banyak pekerja perempuan misalnya perdagangan, hotel, restoran dan jasa terutama di Provinsi Bali yang sangat bergantung pada pariwisata dan bisnis jasa terkait lainnya.

Selain itu buku juga digunakan sebagai alat promosi pangan lokal yang sehat dan terjangkau guna mengurangi angka stunting dan meningkatkan gizi ibu dan anak,

Pada acara Temu Bisnis, beberapa investor yang telah berkomitmen untuk mengadakan kerja sama dengan pelaku UMKM menandatangani Kesepakatan Kerjasama, seperti Elevania yang akan bekerjasama dalam peningkatan akses pasar, BNI dalam dukungannya pada pendampingan dan pemberdayaan serta penyediaan produk layanan perbankan bagi UMKM, Paxel yang akan memfasilitasi akses distribusi pasar domestik dan internasional, UKM Mendunia pada pelatihan untuk mengekspor produk UMKM, dan PT. Usaha Perdagangan Indonesia yang membuka akses pasar produk hasil pelaku usaha tani secara berkelanjutan.

Astri Purnamasari, Director of Corporate Affairs TaniHub Group mengatakan pihaknya mendukung penuh kerja sama pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan unsur masyarakat dalam Program RIF di Bali ini.

“TaniHub Group melihat pentingnya pertanian dan perekonomian desa di Bali dibangun dengan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, agar petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat menjangkau pasar nasional dan global. TaniHub Group berharap dapat berperan aktif dalam penciptaan inovasi di kalangan perdesaan karena kami berangkat dari wirausaha sosial yang ingin membawa perubahan di ekosistem pertanian Indonesia,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan kunjungan para investor ke beberapa lokasi UMKM untuk melihat produk dan berdiskusi secara langsung dengan perwakilan kelompok UMKM guna membahas peluang kerja sama berikutnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top