Portal Lengkap Dunia Marketing

DIGITAL & TECHNOLOGY

Data eHAC Diduga Bocor, Berikut Beberapa Langkah Antisipasinya

Marketing.co.id – Berita Digital & Techno | Aplikasi kesehatan e-HAC (electronic Health Alert Card) diduga bocor, sehingga mengakibatkan data-data pribadi penggunanya dapat terekspos. Data pribadi tersebut antara lain nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, foto pribadi, nomor induk kependudukan, nomor pasport, hasil tes Covid-19, identitas rumah sakit, alamat, nomor telepon serta beberapa data lainnya.

Perusahaan penyedia layanan keamanan informas global,  ITSEC Asia, mengingatkan bahwa penting bagi seluruh pemilik dan pengembang aplikasi maupun website untuk memiliki standar tinggi keamanan data IT untuk menutup celah keamanan yang dapat dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia, Andri Hutama Putra, menjelaskan masyarakat terutama pengguna akun e-HAC perlu mengantisipasi potensi penyalahgunaan data pribadi mereka akibat dari kebocoran data ini.

“Akibat dari data pribadi yang tersebar, kita perlu waspada terhadap berbagai penyalahgunaan seperti penipuan melalui berbagai media seperti email, SMS, whatsapp dan telepon; penjualan data untuk kepentingan marketing yang menyebabkan ketidaknyamanan, dan berbagai penyalahgunaan data informasi untuk berbagai kepentingan yang beragam,” jelas Andri.

Baca juga: Perlindungan Data Pribadi Mutlak Diperlukan

Menyikapi situasi tersebut, Andri membagikan beberapa tips dalam menjaga keamanan data pribadi yang dapat diaplikasikan dengan mudah oleh seluruh masyarakat.

  1. Bijak dalam menerima informasi, tidak mudah meng-iyakan informasi via telepon atau pesan yang masuk. Meskipun dia sudah memiliki dan mengetahui data kita termasuk rekam medis atau kesehatan, tidak menjadi jaminan hal tersebut bukan merupakan penipuan, selalu lakukan verifikasi. Contoh: pembuatan kartu kredit, penawaran promo, atau asuransi.
  2. Mengganti password email dan PIN untuk akses data dan aplikasi penting secara berkala, maksimal selama 3 bulan.
  3. Gunakan OTP (One Time Password) ataupun 2FA (Two Factor Authentication)
  4. Hati hati dalam menggunakan e-mail, jangan buka email atau tautan yang mencurigakan, dan manfaatkan email secara bijak.
  5. Uninstall aplikasi yang tidak terpakai. Menyeleksi aplikasi yang ada di perangkat kita, dan menghapus aplikasi yang tidak kita pakai, terutama yang sudah tidak aktif / tidak update.
  6. Mulai mengedukasi keluarga dan teman-teman terkait seberapa penting menjaga data dan bijak dalam bertukar informasi dengan pihak manapun.

Andri juga menghimbau para pihak yang memegang data pribadi baik swasta ataupun pemerintah perlu lebih aktif dalam rencana tindakan preventive dan corrective untuk menangani kebocoran data pribadi pada situs atau aplikasi.

Ilustrasi keamanan data di era digital

Roaming free zone text and European Union flag on mobile screen against man using mobile phone while having coffee

“Setiap hari ada 3 sampai 5 celah keamanan baru yang dipublikasikan, dengan fakta ini seluruh pemilik dan pengembang aplikasi harus lebih memperhatikan sistem keamanan dengan cara seperti pengujian keamanan (penetration test) secara berkala untuk meminimalisir celah keamanan baru, meningkatkan kemampuan internal di aspek People, Process & Technology (PPT), dan juga menggandeng perusahaan-perusahaan yang andal dibidang keamanan IT untuk peningkatan keamanan pengamanan situs penting,” ungkap Andri.

Baca juga: Wajib Tunjukkan Sertifikat Vaksin, Ini Tips Jaga Keamanan Data Pribadi

Andri juga menyarakan adanya sikap tanggung jawab dari pihak terkait dengan melakukan notifikasi dan edukasi ke pengguna yang terdampak kebocoran data. Tujuannya agar masyarakat dapat mengantisipasi risiko kerugian yang lebih besar, misalnya dengan mengganti password atau pin, lebih bersikap hati-hati saat mendapat email sms atau telepon yang bisa disalahgunakan karena datanya yang sudah bocor.

“Diharapkan pemilik aplikasi seharusnya sudah mulai diperketat dari sisi regulasi, sehingga dalam pembuatan dan pengembangan aplikasi dapat disesuaikan dengan undang-undang yang memiliki sanksi tegas. Hal ini patut disikapi dengan serius karena ekonomi digital menjadi penyokong revolusi industri 4.0, dimana banyak hal mengarah ke digital, tetapi kita tetap harus memperhatikan keamanan digital maupun pengguna digital,” tutup Andri.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top