Bollywood Sebagai Pendongkrak Rating

Setelah sempat vakum sekitar satu dasawarsa, Bollywood kembali mendominasi tayangan televisi di Indonesia. Salah satu stasiun TV berhasil memberdayakan hiburan India, sehingga kembali diperhitungkan di industri televisi nasional.

bollywood

Setelah demam K-Pop mereda, masyarakat Indonesia terjangkiti demam India. Drama serial India ditayangkan nyaris di semua stasiun televisi. Mereka berebut pemirsa yang memang  sedang gandrung pada serial negeri Taj Mahal tersebut. Serial India disukai banyak kalangan, terutama wanita.

Ina, jurnalis yang tinggal di Depok, mengaku menggemari serial drama India karena banyak menampilkan konflik keluarga. Dia juga tertarik pada tradisi yang diselipkan dalam serial India dan kostum yang digunakan para pemerannya. Tia, ibu rumah tangga yang tinggal di Cempaka Putih, menyukai serial Navya dan Mahabharata. Dia sering menonton Navya, karena terpukau dengan ketampanan pemeran utamanya, Shaheer Sheikh. “Saya suka Mahabharata karena menceritakan sejarah,” kata ibu muda ini.

Lain lagi pengakuan, Debby, wanita pekerja asal Tanah Abang. Debby mengaku penggemar berat serial India. Nagin, Ranveer, Ishani, Lonceng Cinta, dan Gangga adalah beberapa serial India yang kerap ditontonnya. Selain pemeran utama yang tampan, cerita bersambung membuat dia makin penasaran menanti kelanjutan serial India. ”Ceritanya seru dan drama banget,” tutur Debby.

Otis Hahijary, Vice President Director ANTV. (Foto Hernawan)
Otis Hahijary, Vice President Director ANTV. (Foto Hernawan)

Mengapa orang Indonesia begitu menggemari film-film asing? Amalia Irfani, dalam paper berjudul “Demam India di Indonesia”, mengatakan fenomena kegemaran masyarakat Indonesia pada film-film luar negeri tidak lepas dari preferensi hiburan kelas menengah di Tanah Air. Dengan tingkat pengetahuan dan koneksi sosial yang semakin luas, konsumsi hiburan (entertainment) mereka semakin mengglobal dan modern.

Booming K-Pop adalah fenomena gaya hiburan muda. Sementara demam India mewabah di berbagai kalangan usia, terutama di kalangan perempuan muda. Lebih jauh Amalia mengatakan, ada empat faktor yang membuat serial India digemari masyarakat Indonesia. Keempat faktor tersebut mencakup kemiripan dengan sinetron Indonesia; sulih suara (dubbing) yang bagus; tema cerita sejarah dan dongeng; serta kostum dan tata panggung yang unik.

Dari semua stasiun TV yang menyajikan serial drama India, ANTV yang paling getol menayangkannya. Saat ini beberapa serial India yang sedang tayang di ANTV antara lain Mohabbatein, Anandhi, Lonceng Cinta, Geet, dan Janji Suci Vidya. Serial India mendatangkan berkah sendiri bagi ANTV. Karena setelah menayangkan serial India, stasiun TV ini kembali diperhitungkan dalam kancah pertelevisian nasional.

Sejak menayangkan serial India pada September 2013, posisi ANTV dalam hal kepemirsaan dan pendapatan iklan meningkat signifikan. Memasuki tahun 2015, posisi ANTV di kepemirsaan maupun pendapatan iklan selalu bercokol di posisi kedua. Bahkan, posisi pertama yang selama ini ditempati RCTI, pernah tergeser ANTV di akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017. Pendapatan iklan ANTV pun cemerlang, mencapai Rp200 miliar per bulannya (Mix.co.id).

Mengenai strategi menayangkan serial India, Vice President ANTV Otis Hahijari menjelaskan, Industri televisi di Indonesia merupakan salah satu yang terketat di dunia, kalau tidak mau dikatakan paling ketat di dunia. Karena itu, jika ingin survive harus punya diferensiasi.  “Salah satu diferensiasi kami di foreign series, seperti drama India dan Turki. Tapi, tetap jumlah tayangan foreign series sesuai dengan regulasi dari KPI,” tutur Otis yang ditemui usai jumpa pers perayaan HUT ANTV ke-24.

Otis mengatakan, seperti di industri fashion dimana tren bisa berulang, hal yang sama juga bisa dialami industri televisi. Hiburan atau tayangan yang dulu pernah tren, bisa tren kembali di masa sekarang. “Sejak dulu masyarakat Indonesia menyukai serial India, TVRI pernah menayangkan Mahabharata dan TPI  pernah sukses menayangkan film-film India,” tuturnya.

Hanya saja perbedaannya dari stasiun TV yang dulu pernah menayangkan serial India dan stasiun TV yang saat ini masih menayangkan serial India, ANTV berani “memberdayakan” bintang-bintang India yang sedang ngetren untuk menjadi bintang tamu di program-program ANTV lainnya dan membintangi sinetron-sinetron lokal.

“ANTV tidak cuma beli series India lalu kita tayangkan. Sehabis menayangkan Mahabharata, apa yang kita lakukan? Bintangnya, Shaheer, kami ajak main di Eat Bulaga. Setelah selesai di Eat Bulaga, dibuat seri Panah Asmara Arjuna, lalu kita buat Cinta di Langit Taj Mahal,” ungkap Otis.

Otis tidak khawatir terlalu sering menayangkan serial India akan berdampak kurang baik pada citra ANTV. Maklum saja, masih ada sebagian kalangan yang mempersepsikan film India sebagai hiburan untuk masyarakat kelas bawah. Penonton serial India di ANTV katanya berasal dari segmen upper-middle dengan gender kebanyakan ibu rumah tangga.

Kontribusi serial India terhadap kenaikan rating dan sharing ANTV secara keseluruhan sangat signifikan, yakni sekitar 40%. Siklus hidup (life cycle) serial India katanya juga masih panjang selama stasiun TV bisa mengemasnya dengan baik. “Mohabbatein pernah tayang di stasiun TV lain sebanyak 20 episode, tapi gagal. Saya pindahkan ke ANTV langsung meledak. Sekarang Mohabbatein jadi program nomor satu secara nasional,” jelas Otis.

Zee Bioskop

Bukan hanya stasiun TV swasta yang memanfaatkan tren India. Stasiun TV berbayar DensTV juga mencoba peruntungan di kancah hiburan India dengan meluncurkan kanal Zee Bioskop pada 1 Maret 2017 lalu. DensTV adalah layanan digital entertainment dengan kualitas High Definition Television (HDTV). Kanal Zee Bioskop menayangkan film Blockbuster Bollywood dan berbagai hiburan India lainnya nonstop selama 24 jam. DensTV mengklaim Zee Bioskop sebagai satu-satunya kanal India Bollywood yang sudah dubbing ke dalam bahasa Indonesia.

bollywood
Ario B. Widyatmoko, Chief Content Officer PT Digdaya Duta Digital DensTV. (Foto: Wicaksono)

Ario B. Widyatmoko, Chief Content Officer PT Digdaya Duta Digital DensTV, mengatakan pihaknya meluncurkan Zee Bioskop setelah melihat booming tayangan drama India di stasiun TV. Bahkan ada sinetron yang menggabungkan aktor dari India dan Indonesia. Ini, katanya, menjadi indikasi antusiasme masyarakat Indonesia sedang tinggi dan terus meningkat pada hal-hal terkait India.

Demand terhadap Bollywood tentu semakin tinggi, jadi kami melihat pasar sedang bagus dan potensi juga masih besar. Maka kami mencoba memenuhi kebutuhan pasar dengan menghadirkan Zee Bioskop ini,” tutur Ario.

Ario menegaskan, yang ditampilkan Zee Bioskop bukanlah sinetron India yang ditayangkan di televisi swasta, melainkan film layar lebar. Konten filmnya mencapai 70%, sisanya berupa musik, lifestyle, dan berita. “Zee Bioskop ini termasuk konten premium dan mereka juga sudah masuk di operator TV-TV berbayar lainnya. Jadi, sudah tidak diragukan lagi konten mereka,” imbuh dia.

Dalam sehari, Zee Bioskop menayangkan 5 sampai 6 film India dengan durasi tiap film sekitar 2 jam. Untuk bisa menikmati tayangan premium film India di DensTV tentu tidak gratis. DensTV menawarkan dua pilihan langganan berbayar, yaitu melalui kabel internet (fiber connection) dengan biaya Rp65.000 per bulan dan membeli paket di OTT-over the top (website DensTV) dengan harga Rp49.900 per bulan.

Kehadiran Zee Bioskop diharapkan bisa menambah jumlah pelanggan DensTV. Kini DensTV tengah giat berekspansi ke Medan, Palembang, Bandung, dan Bali. “Saat ini kami sudah di angka 10.000. Target kami tahun ini ingin mencapai angka 25.000-30.000 pelanggan,” pungkas Ario.

Tony Burhanudin

Liputan: Wicaksono

MM.04.2017/W

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here