Portal Lengkap Dunia Marketing

PR Hype

Baby Scots Konsisten pada Diferensiasi Produk

Motif kain kotak-kotak menjadi diferAndi Gunawanensiasi utama Baby Scots. Tak hanya awareness meningkat, tapi juga Top Brand Award berhasil diraih tiga kali berturut-turut.

Dari tahun ke tahun bisnis perlengkapan dan kebutuhan bayi tak pernah sepi peminat. Bahkan, banyak di antara mereka rela merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan produk berkualitas. Faktor lain yang ikut mendukung bisnis tersebut adalah jumlah bayi yang lahir setelah tahun 2000 masih tetap banyak. Berdasarkan Data Statistik Indonesia, tiap-tiap tahun jumlah kelahiran bayi di Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta bayi. Tak heran jika pasar ini terbilang potensial untuk digarap karena memang masih terbuka lebar.

Hal senada juga diungkapkan Andi Gunawan, Presiden Direktur Baby Scots Group, ketika ditemui di acara Top Brand for Kids 2014 di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. “Jika dilihat memang persaingan di pasar ini cukup baik dan positif. Marketnya pun begitu besar karena dari produk bisa dilihat pemakaiannya cukup panjang. Untuk itu, Baby Scots sendiri fokus di segmen bayi saja, antara 1 hingga 2 tahun,” ujar dia.

Ya, Baby Scots menawarkan kebutuhan akan perlengkapan bayi dengan berbagai macam jenis dan variasi produk. Semua produk yang ada dirancang khusus sehingga bisa sesuai dengan kebutuhan ibu dan bayi. Adapun standar produk Baby Scots mencakup nilai comfortable, high quality, cute, fun, dan enjoyable. Saat ini, beberapa jenis produk yang ada terdiri dari tas, gendongan bayi, selimut bayi, tempat tidur bayi, feeding set, pakaian bayi, hingga tas untuk ibu dan anak.

Meskipun di pasar banyak produk dan merek yang beredar, nyatanya Baby Scots mampu mendapat tempat di hati konsumen. Strategi awal yang diluncurkan terbilang cemerlang, yakni menawarkan produk dengan menggunakan kain polos berwarna cerah yang dipadukan dengan kain kotak-kotak menyerupai pakaian kebesaran Scotlandia. Tak heran sebab kata “Scots” pada merek Baby Scots terilhami dari kata Skotlandia. Andi pun mengungkapkan bahwa Baby Scots membidik pasar Indonesia. Lebih rinci, segmen tersebut dikelompokkan menjadi dua, yakni reguler dan platinum. Artinya, segmen reguler adalah kalangan menengah ke bawah sedangkan platinum menyasar segmen menengah ke atas.

Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan baik, memang tak ternutup kemungkinan segmen menengah bawah bergeser ke tengah. Inilah yang dijadikan pertimbangan Baby Scots untuk menghadirkan ragam produk untuk segmen platinum. Hanya saja, produk platinum masih diimpor dari China. Alasan impor lebih didasarkan pada strategi menghalau produk-produk lain masuk ke Indonesia di masa mendatang.TPB

“Terkait produk, tentunya dibedakan dari segi desain, bahan, model, dan juga kualitas antara yang reguler maupun platinum. Pengetahuan konsumen terkait itu pun sudah memadai karena akses internet dengan mudah didapat di mana saja sehingga segala sesuatu bisa diketahui lebih cepat. Untuk itu, kami mengantisipasi kompetitor dari negara lain dengan langsung menghadirkan produk segmen platinum tersebut di Indonesia. Ini menjadi keuntungan sendiri bagi kami karena memang pada awalnya Baby Scots sudah lebih dahulu diterima market melalui produk reguler yang ada,” tegas Andi.

Keberhasilan Baby Scots pun tak terlepas dari jalur distribusi yang diterapkan. Sampai saat ini, ada ribuan channel distribusi di Indonesia yang dimiliki oleh Baby Scots. Bisa dibilang jangkauannya berskala nasional—sama seperti industri-industri lain.
Kantor cabang Baby Scots ada di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Palembang. Sementara distributor dan agen Baby Scots terbagi menjadi tiga region. Region pertama meliputi Bandung, Jakarta, Jawa Barat, dan sekitarnya. Sedangkan region dua adalah Jawa Tengah, Kalimantan, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, Bangka, dan Belitung. Region tiga meliputi Jawa Timur, Sulawesi, Sumatera Utara, Aceh, Bali, Nusa Tenggara, Flores, dan Kupang. Tak hanya itu, produk-produk Baby Scots juga dapat diperoleh di toko-toko, supermarket, maupun toko perlengkapan bagi.

Berkat kematangannya dalam memasarkan produk, Baby Scots berhasil meraih Top Brand Award. Berdasarkan data Top Brand 2014, Baby Scots masuk dalam dua kategori, yakni Matras/Kasur Bayi dan Gendongan Bayi. Pada kategori Tas Perlengkapan Bayi, Baby Scots berhasil meraih Top Brand Indeks (TBI) sebesar 41,3%, jauh meninggalkan kompetitor yang ada di bawahnya. Sementara di kategori Matras/Kasur Bayi, Baby Scots meraih TBI sebesar 33,8%. Ini merupakan tahun ketiga Baby Scots meraih Top Brand Award.

“Kami hadir dengan diferensiasi dan selalu konsisten dengan itu. Hasilnya, awareness mamatrassyarakat terus meningkat dan hingga kini Baby Scots dikenal oleh masyarakat luas, terutama oleh pasangan yang baru memiliki bayi. Untuk itu, kami mendaftarkan ciri khas Baby Scots adalah kotak-kotak tersebut dan menjadi diferensiasi dari dulu hingga kini,” ujar dia. Sementara terkait strategi campaign, Baby Scots lebih memilih program yang menyasar channel di seluruh Indonesia. Maklum saja, Baby Scots tidak menyasar segmen end user, jadi wajar jika campaign banyak dilakukan di toko-toko dan jaringan yang ada.

Soal tantangan, Andi mengakui ada pada potensi market yang kerap berubah-ubah. Untuk itu, Baby Scots mengantisipasi dengan terus melakukan penyesuaian terhadap perubahan tersebut. Misal pada segmen menegah atas yang bertumbuh sangat cepat dan daya beli pun besar, perubahan terjadi dari sisi pengetahuan. Tentunya ini merupakan tantangan tersendiri bagi Baby Scots agar diterima di karakteristik konsumen tersebut.

Foto: Asep Toni k

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top