Apa Sih Informasi Pribadi Yang Nggak Boleh Anda Share di  Internet?

Marketing.co.id – Berita Digital |  Jika Anda aktif bermain media sosial, pasti Anda bakal tahun tentang challenge yang isinya mengungkap hal-hal tentang data pribadi, seperti nama anak, saudara dekat, ibu kandung, nama panggilan, nama lengkap, status, tahun lahir, kota kelahiran, tempat sekolah anak dan lainnya. Anda harus hati-hati, hal tersebut bisa membuat data Anda rentan disalahgunakan.
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai perlindungan data pribadi dibuktikan dengan banyaknya orang yang rela melakukan apa saja asalkan bisa ikutan trending atau biar viral di jagat maya. Bahkan, ada orang-orang yang dengan mudahnya mengikuti Instagram Challenge yang isinya mengungkap tanda tangan. Tentunya hal ini membuat orang-orang yang memiliki niat jahat merasa dipermudah dalam mengambil kesempatan, bukan?
Kalau kita ingat, di Instagram juga ada yang iseng mengeluarkan challenge yang jelas-jelas meminta data penting seperti nama gadis ibu kandung, tempat tanggal lahir, alamat rumah, hingga yang cukup berbahaya, swafoto dengan KTP. Coba bayangkan, jika itu semua didapatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab, rekening bank bisa dibobol dan Anda juga bisa menjadi korban salah sasaran pinjaman online.
Menurut Presiden Direktur PT ITSEC Asia Andri Hutama Putra, tanggal lahir dan nama panjang (lengkap) merupakan informasi penting yang tidak boleh dibagikan di media sosial. Karena, itu bisa menjadi salah satu jalan serangan brute force – upaya untuk mendapatkan akses sebuah akun dengan menebak username dan password yang digunakan. “Apa yang ada dalam KTP adalah sebuah hal pribadi yang sangat privat!“, tegas Andri.
Survei literasi digital yang diukur dari 4 pilar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika membuktikan bahwa pada pilar keamanan digital (digital safety) mendapat skor paling rendah dalam pengukuran Indeks Literasi Digital Indonesia 2021.
Data tersebut, kata Andri, menunjukkan bahwa indeks literasi digital dalam segi keamanan masih perlu ditingkatkan. “Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua karena perkembangan digital ke arah yang semakin canggih juga diimbangi dengan ancaman siber yang semakin meningkat,“ ujar Andri.
Andri tidak heran jika masyarakat kurang peduli atau sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan teknologi dan menjaga keamanan informasi pribadi mereka di internet karena edukasi tentang keamanan digital belum menjadi hal utama yang saat ini dilakukan pemerintah. Namun, ini menjadi acuan bagi ITSEC Asia untuk membantu masyarakat agar mengetahui hal-hal dasar mengenai keamanan informasi pribadi.
Sebagai sektor privat, ITSEC Asia sangat mendukung pemerintah dan terus membantu para pelaku bisnis. Dengan maraknya digitalisasi, para pelaku bisnis saat ini sudah mulai fokus terhadap keamanan informasiyang ada dalam bisnis-bisnis mereka. Misalnya sektor financial, seluruh pelaku bisnis di sektor ini sudah mulai membuat security roadmap, dimana sebelumnya belum ada.
Dengan adanya roadmap ini, setiap tahunnya mereka mengetahui indeks mereka dimana dan targetnya kemana. Dengan begitu, mereka akan semakin meningkatkan keamanan informasi bisnisnya yang nantinya diharapkan akan meningkatkan literasi keamanan informasi di seluruh Indonesia.
“Peran kami di sini adalah membantu para pelaku bisnis untuk menghasilkan roadmap tersebut dan membantu mereka mencapai target yang diinginkan. Dari sisi masyarakat kami sudah mulai mengadakan e-raodshow dan seminar (webinar) ke kampus-kampus untuk mengedukasi tentang keamanan informasi pribadi,“ ujarnya. “Kami sangat mendukung pemerintah dan melihat para pelaku bisnis saat ini sudah terlihat mulai konsen dengan keamanan informasi bisnisnya.“

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here