Maritim dan Pangan sebagai Ujung Tombak Perekonomian Indonesia

[Reading Time Estimation: 2 minutes]

Pengembangan perekonomian nasional perlu memberi perhatian pada upaya-upaya mempercepat pemerataan dan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memberi kesempatan pada lebih banyak pelaku usaha baru khususnya di sektor pangan dan maritim.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km persegi yang terdiri dari wilayah territorial sebesar 3,2 juta km persegi dan wilayah zona ekonomi ekslusif Indonesia (ZEEI) 2,7 juta km persegi. Selain itu, terdapat 17.504 pulau di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 81.000 km persegi.

agriif 2017Ketua Umum Himpunan Alumni IPB Bambang Hendroyono mengatakan, dengan cakupan yang demikian besar dan luas, tentu saja maritim Indonesia mengandung keanekaragaman alam laut yang potensial, baik hayati maupun non hayati.

Selain itu, dapat dilihat dengan beragamnya jenis komoditas pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, dan peternakan yang sudah sejak lama diusahakan sebagai sumber pangan dan pendapatan masyarakat.

“Sudah seharusnya sektor maritim dan pangan dijadikan sebagai ujung tombak perekonomian negara ini,”  tegasnya.

Untuk menjadikan pangan dan maritim sebagai ujung tombak perekonomian Indonesia, kata Bambang, industrialisasi merupakan kata kunci strategis sehingga perlu dirancang sebagai program nasional yang didukung seluruh komponen bangsa secara berkelanjutan.

industrialisasi meliputi pengembangan mindset industri baik di tingkat on farm maupun off farm; di tingkat nelayan, pemilik kapal, maupun pengelola industri hasil perikanan; di tingkat penanam kayu maupun industri pengolahan kayu; para peternak, rumah potong hewan, maupun industri pengolahan hewan ternak’ dan industrialisasi sektor pangan dan maritime lainnya.

kompetisi startup khusus pangan, maritim himpuniOleh karena itu, HA IPB merekomendasikan pengembangan konsep usaha bisnis terpadu yang mengikutsertakan segenap komponen bangsa untuk rakyat dan strata paling rendah sampai paling tinggi dibutuhkan pengembangan kewirausahaan dan pendirian perusahaan startup di sekitar pangan dan maritim.

Menurut Bambang, di era disruption economy saat ini, pengembangan startup atau usaha baru yang berbasiskan teknologi dan inovasi menjadi modal utama untuk menciptakan nilai tambah dan membangun daya saing.

Pengembangan startup, yang sedang digandrungi anak muda, perlu mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, inkubator, perusahaan besar maupun BUMN, perbankan, lembaga keuangan, media massa dan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here