Portal Lengkap Dunia Marketing

CONSUMER GOODS

YYADU! Tekankan Pentingnya Single-Use Waste Management

Marketing.co.id – Berita Consumer Goods I Melanjutkan program tahun lalu, Yok Yok Ayok Daur Ulang! (YYADU!) – sebuah program inisiasi daur ulang keberlanjutan yang dibuat oleh PT Trinseo Materials Indonesia dan didukung oleh Kemasan Group, kembali melakukan edukasi mengenai kebijakan larangan plastik sekali pakai dari beberapa perspektif.

YYADU! Single-Use Waste Management

Mengusung tema “Apakah single-use plastic ban merupakan solusi dari masalah lingkungan di Indonesia?”, webinar edukasi ini dipandu oleh Hanggara Sukandar, Sustainability Director dari Responsible Care Indonesia; Doktor Jessica Hanafi, seorang pakar teknis ISO (International Organization of Standardization) dan juga Advisory Committee untuk UN Environment Life Cycle Initiative untuk Social LCA; Dr. Kardiana Dewi, Sp.KK, praktisi medis; Wahyudi Sulistya, Direktur Kemasan Group; dan Prispolly Lengkong Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia.

Wahyudi Sulistya, Direktur Kemasan Group menjelaskan, bahwa kebijakan tersebut akan berdampak pada aspek lain – seperti tenaga kerja di industri plastik di Indonesia. Belum lagi, dia mengklaim, belum ada pengganti plastik dari segi emisi karbon, fungsi, durabilitas, dan harga.

Baca juga: Targetkan 2021 Bebas Plastik Signify Mulai Gunakan Kertas Daur Ulang

“Setiap hari, kita ini menggunakan plastik karena membutuhkannya. Ketika larangan penggunaan single use untuk tas berbelanja disahkan, tas bungkusan pengganti yang saat ini menjadi opsi dan banyak digunakan untuk bungkusan, seperti spunbound ataupun paper bag pun juga memiliki lapisan plastik Polypropylene atau PP. Artinya, solusinya tidak bisa dilarang plastiknya, melainkan waste management,” tegas dia dalam membuka sesi webinar.

Saat berbicara dari aspek kesehatan dan medis, dr. Kardiana menjelaskan, di dunia medis sendiri penggunaan single-use disarankan untuk menjaga higienitas di tengah pandemi sehingga dapat meminimalisir resiko terpapar virus. Misal, dalam keseharian petugas medis yang mayoritas menggunakan alat single use – termasuk juga APD dan single-use surgical mask yang menjadi sangat krusial di masa pandemi ini.

“Sehingga, menjaga kesehatan di tengah pandemi Covid-19 dengan karakter kontaminasi silang tersebut, memang mengharuskan untuk ekstra higienis dan berhati-hati, terutama bagi mereka yang berkegiatan di luar rumah. Saat masuk ke rumah, kalau bisa barang yang dibawa dari luar tidak masuk ke dalam, dalam hal ini seperti tas belanja,” tambahnya.

dr. Kardiana juga memberikan tips untuk menjaga higienitas di tengah pandemi ini, yakni dengan cara menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, tepat dan benar. Seperti  diketahui Covid-19 dapat bertahan hidup di permukaan benda. Sehingga, harus lebih rajin membersihkan permukaan berbagai barang sehari-hari yang sering disentuh, rentan terkontaminasi atau berpotensi menjadi sumber penularan dengan menggunakan disinfektan.

Selain itu, ditambahkan Wahyudi, terjadi peningkatan dari permintaan kemasan single-use PS Foam. Hal ini berkaitan dengan regulasi PSBB dan larangan makan di tempat, sehingga makanan pesan-antar menjadi pilihan, dan PS Foam merupakan kemasan makanan yang secara fungsi memang dapat menjaga ketahanan suhu makanan dingin dan panas, sehingga makanan dari restoran bisa sampai ke tangan konsumen di rumah dengan kualitas yang baik. Selain itu, faktor higienitas dan kekhawatiran masyarakat juga dinilai dapat menjadi kontributor dari meningkatnya permintaan ini.

Menariknya, dari pemaparan Doktor Jessica Hanafi, mengenai cara menilai eco-friendly atau tidaknya sebuah barang yang harus dinilai secara holistik, tidak bisa hanya dinilai dari hilir saja atau dari biodegradable atau tidak. Penilaian potensi dampak lingkungan suatu produk dapat dilakukan melalui metode Life Cycle Assessment, yang standarnya sudah diadopsi menjadi SNI ISO 14040 dan 14044 pada tahun 2016 dan 2017.

Baca juga: Dorong Digitalisasi Bank Sampah, Unilever Berkolaborasi dengan Google My Business

“Berdasarkan beberapa studi LCA yang dikaji oleh UN Environment dalam publikasinya mengenai “Single-Use Plastic Bags and their alternatives: Recommendations from Life Cycle Assessment”, banyak parameter yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan terkait penggunaan atau pelarangan plastik karena banyak implikasi yang dapat terjadi yang juga mengakibatkan dampak lingkungan yang lebih berat,” papar dia.

Dia memaparkan, reusable bags yang dirancang untuk digunakan berkali-kali mempunyai dampak lingkungan yang lebih rendah daripada single-use plastic Polyethylene (PE) bag. Untuk material biodegradable dalam praktek manajemen limbahnya harus dikondisikan dalam penanganannya agar dapat terurai dalam sistem komposting.

Selain itu, menurut Doktor Jessica, solusi dari masalah sampah lingkungan bukanlah pelarangan, melainkan waste management. Sudah seharusnya terdapat tata kelola sampah yang baik dari hulu ke hilir. Ini bisa dicapai melalui kerjasama yang sinergis antara masyarakat, pemerintah, dan swasta.

“Seharusnya, TPA sudah tidak ada lagi. Harus punya mindset dan perencanaan tata kelola sampah yang terintegrasi. Sebagai contoh, saat ini IPI juga memiliki program waste management, yakni Kawasan Industri Pemulung (KIP) dan Kawasan Usaha Pemulung (KUP),” imbuh Prispolly.

Saat ini, program waste management IPI sudah berkontribusi dalam pengurangan sampah di TPST Bantar Gebang DKI Jakarta, dari 3,800 ton per hari menjadi 2,063 ton. Untuk itu, solusi dari permasalahan harus berkelanjutan, dan dapat terukur, yakni dengan waste management yang berkelanjutan.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Berita Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top