Portal Lengkap Dunia Marketing

UMKM

Usaha ikan hias dari Kepulauan Seribu

Masih ingat film Finding Nemo produksi Pixar? Film ini mengisahkan tentang seekor ikan kecil jenis clown fish, mencari anaknya yang hilang tidak jelas berada di samudera mana. Jenis clown fish (amphiprion melanopus) sendiri banyak hidup di wilayah perairan yang banyak unsur proteinnya –ini bisa didapatkan dari plankton-plankton yang ada. Salah satunya adalah di wilayah Kepulauan Seribu. Sayang, akhir-akhir ini wilayah perairan kepulauan tersebut tercemar oleh tumpahan minyak dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Namun, di sini kita bukan berbicara mengenai habitat maupun kehidupan ikan tersebut. Clown fish hanya merupakan salah satu jenis ikan hias yang banyak diperjualbelikan masyarakat. Mujahidi adalah satu di antara sekian banyak nelayan yang menekuni usaha tersebut. Pria berusia 35 tahun ini merupakan penduduk asli Pulau Panggang –pulau di gugusan Kepulauan Seribu, provinsi DKI Jakarta.

Usaha ikan hias ini telah dirintis Mujahidi sejak 15 tahun silam. Semula, ia masih dalam tahap belajar dengan cara ikut dengan orang lain selama 6 tahun. Tapi setelah merasa mampu, ia melanjutkan dengan berusaha sendiri. “Awalnya, saya dapat uang per bulan hanya 100 hingga 150 ribu rupiah. Kemudian setelah merasa cukup, saya mengembangkan usaha sendiri,“ ungkapnya..

Bermodal uang sekitar Rp 300 ribu, ayah seorang putri ini memulai usahanya. “Dulu uang segitu cukup-cukup aja untuk buka jualan ikan hias, sekarang paling sedikit harus ada tiga juta,“ papar Mujahidi. Kendala pertama yang ia jumpai adalah soal tabung oksigen. Dari dulu hingga kini, untuk mendapatkan satu tabung oksigen perlu membelinya dulu di darat. Untuk itu, pembeli harus menyediakan uang sebesar Rp 400 ribu untuk jaminan.

Bila pada awalnya ia masih mendapat bantuan dari keluarga, saat ini Pak Oge (panggilan akrabnya) telah memiliki tiga karyawan yang membantunya dalam berusaha. Selain itu, ikan-ikan hias laut ini ia dapatkan dari 15 orang nelayan asli pulau tersebut. Ikan-ikan itu  kemudian dibawanya ke Jakarta. Bisa dikatakan usahanya adalah sebagai distributor. Dari ke-15 nelayan tersebut, tiap minggu Mujahidi bisa mengumpulkan hingga 1.000 ekor ikan hias dari berbagai jenis. Sekedar catatan, di Kepulauan Seribu sendiri terdapat kurang lebih 250 jenis ikan hias yang berkembang.

Ikan-ikan itu dijual dengan harga yang berbeda-beda, tergantung jenisnya. Yang paling murah dengan harga Rp 1.000 adalah jenis betok jae-jae dan betok kondangan. Ikan betok itu berfungsi untuk mencuci aquarium. Bila ada lumut-lumut di pinggir kolam, bisa dia bersihkan. Oleh karena itu, jenis ikan betok paling banyak diekspor ke luar negeri. “Paling mahal ikan jenis kerapu terbang, namun kurang laku karena harganya itu. Paling laku ikan nemo (clown fish -red), juga ikan betok itu. Terbagus adalah jenis gyro pasir dan gyro tompel,“ papar Mujahidi. Pendistribusian ikan-ikan hias itu sendiri banyak dilempar ke jalan Sumenep. Namun, ada juga yang di ekspor ke beberapa negara Eropa dan Amerika. Dari usaha usahanya itu, Mujahidi mendapat penghasilan bersih antara 3–4 juta rupiah per bulan.

Kendala yang kini dihadapi adalah masalah birokrasi proses penjualan. Diakuinya, dalam mengurus proses ekspor itu, ia banyak terbentur tembok tebal birokrasi yang ada. “Masalah birokrasi di sana, saya tidak sanggup,“ ungkapnya. Selain itu, Mujahidi juga mengaku belum mau melakukan pinjaman atau pengajuan kredit ke bank mana pun. Agaknya ini disebabkan oleh kurang informasi tentang proses mendapatkan kredit. Mujahidi berharap ada investor yang mau menyuntikkan dana ke usahanya ini. Sebab ia punya obsesi membuat budidaya ikan kerapu, dan itu memerlukan dana hingga puluhan juta rupiah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top