Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Ad Madness

Ubah Fantasi Jadi Realitas

www.marketing.co.id – Siapa bilang bidadari hanya hidup di kahyangan? Dengan menggunakan teknologi augmented reality, AXE Provoke mampu menghadirkan bidadari cantik untuk konsumennya.

Bagi seorang pria, sosok perempuan idaman dengan kecantikan fisik paling sempurna mungkin baru bisa diwakilkan oleh bidadari dari nirwana. Sudah jelas kaum adam akan sangat senang apabila fantasi mereka tersebut bisa terwujud secara nyata.

Apakah ada yang bisa mendatangkan bidadari dari kahyangan? Meski hanya dalam bentuk hologram tiga dimensi (3D), AXE mampu mewujudkan sosok bidadari tersebut melalui campaign augmented reallitynya yang bertajuk “Bidadari Jatuh” (Angel Fallen).

Melalui teknologi augmented reality yang ditempatkan di sebuah kerumunan massa, terlihat seolah-olah seorang bidadari jatuh dari langit dan berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat yang melakukan interaksi tersebut bisa melihat keberadaan bidadari melalui big screen yang dipasang tepat di depan spot bidadari jatuh. Demikianlah yang terjadi di Cilandak Town Square, Jakarta, September lalu.

Campaign yang menarik minat pengunjung mal ini merupakan bagian dari launching varian baru dari AXE, yakni “Provoke”. Bisa jadi penggunaan teknologi augmented reality dalam varian AXE Provoke ini erat kaitannya dengan target konsumen dari AXE.

“AXE itu, kan, brand-nya sangat cool, muda, sangat modern, dan cenderung menjadi trendsetter, termasuk dalam hal teknologi. Hal ini sesuai dengan target audiens kami, yaitu pria usia 15–30 tahun yang sebagian di antaranya (15–24 tahun) memiliki karakteristik sangat menyukai gadget, selalu fun, energetic, adventured, charming, knowing girl, dan sebagian waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk main internet,” jelas Alexander Winata, Brand Manager AXE.

Sementara varian AXE Provoke, menurut Alex, dikembangkan dari parfum-parfum kelas dunia seperti Armani, Calvin Klein memiliki karakteristik yang sangat memikat. Bahkan, sampai bidadari pun tidak bisa menolak.

Pada dasarnya Alexander menjelaskan, campaign bidadari jatuh ini merupakan campaign global dari AXE dengan menggunakan augmented reality, hanya saja aplikasinya disesuaikan dengan market di masing-masing negara. Untuk Indonesia campaign ini dapat dinikmati di beberapa mal besar dan pusat keramaian di Jakarta, Bandung, Surabaya, serta beberapa kota di Sumatera.

“Sebagai praktisi brand kami harus melihat pada konsumen kami, yaitu dengan memberikan apa yang mereka butuhkan dengan cara yang fun dan sesuai dengan apa yang mereka mau. Jadi, bisa dilihat salah satu alasan wujud aspirasi kami dalam bentuk augmented reality adalah untuk mendukung fantasi tersebut menjadi reality sekaligus memberi kesempatan kepada konsumen kami untuk berinteraksi secara virtual dengan si bidadari,” kata Alexander lagi.

Menurutnya, keberadaan augmented reality merupakan hal yang baik untuk konsumen karena mereka tidak hanya dibombardir dengan iklan, tapi juga disuguhi aspek entertainment. Dari sisi konsumen teknologi yang tergolong baru dalam industri periklanan cukup menarik minat. Terbukti, gelaran campaign bidadari jatuh yang dilakukan di Citos mampu membuat mereka tergelitik untuk mencoba karena dirasa unik.

Augmented reality ini mampu membawa sensasi baru bagi konsumen. Nilai lebihnya adalah mereka bisa berinteraksi. Jadi, komunikasi tidak hanya satu arah, konsumen pun bisa meng-influence sesuatu sesuai dengan decision mereka. Konsumen bisa memiliki kontrol terhadap sesuatu. Ini seperti menggabungkan entertainment dan gamming,” papar Alexander.

Ternyata teknologi ini mendapat sambutan yang cukup baik bagi masyarakat Indonesia. Di 12 minggu setelah campaign perdana sekaligus peluncuran produknya, varian Provoke mampu menempati peringkat kedua terfavorit dari keseluruhan produk AXE.

Namun, pria lulusan The Ohio State University ini menggarisbawahi respons positif yang diperoleh bukan semata-mata buah keberhasilan dari augmented reality. Tapi, merupakan perpaduan dari aktivitas branding lainnya yang merupakan satu kesatuan.

Augmented reality bagi kami berperan sebagai talk ability di media sosial yang dipadukan dengan sampling serta berbagai kompetisi di media sosial. Tentunya, semua masih dalam satu campaign yang sama, yaitu bidadari jatuh,” ujar dia.

Di sisi lain, teknologi augmented reality yang masih tergolong baru di Indonesia mengakibatkan penggunaan yang masih jarang dan berdampak pada cost yang tinggi. Hal ini juga diakui oleh Alexander. Oleh sebab itu, ia menggunakan kolaborasi dari berbagai aktivitas branding dalam campaign-nya untuk mengoptimalkan awareness sekaligus mencapai target.

“Tentu saja, teknologi augmented reality ini sebenarnya memiliki biaya yang mahal dan prosesnya pun sangat susah. Akan tetapi, semua tergantung bagaimana kita menyiasatinya. Bagi kami, apabila hanya bergantung pada augmented reality hasilnya tidak akan imbang antara cost dengan aktif volume yang kami kejar. Maka dari itu, strategi yang kami lalukan adalah menjadikan augmented reality ini sebagai satu bagian  atau elemen pelengkap dari keseluruhan komponen. Jadi, intinya kami berusaha mengemas campaign segala elemen ini supaya tetap menarik dengan cost yang tidak terlalu tinggi, namun tepat sasaran,” paparnya.

Meskipun mengakui kendala terbesar dari pengembangan augmented reality adalah infrastruktur dan jaringan internet yang belum merata, Alexander masih akan menggunakan teknologi ini. Tentunya dengan mengikuti pergerakan dunia digital dan perilaku konsumen. “Augmented reality hanya salah satu alternatif kami, sedangkan di AXE, digital merupakan pilar penting yang menunjang aktivitas branding secara keseluruhan,” jelasnya. (Angelina Merlyana Ladjar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top