Portal Lengkap Dunia Marketing

Artikel Riset

Tren Belanja Ritel di Asia Pasifik

Penjualan FMCG di Asia Pasifik tumbuh 11%, membalikkan penurunan yang terjadi pada tahun 2009.

Penjualan produk consumer goods naik 11% di Asia Pasifik pada kuartal pertama tahun 2010. Keadaan ini membaik dari penurunan yang terjadi di sebagian besar pasar pada tahun 2009, menurut Nielsen dari laporan “Retail dan Tren Belanja” yang terakhir. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh lima negara berkembang, dari 13 pasar yang dilaporkan. Vietnam memimpin dengan pertumbuhan sebesar 27%, diikuti oleh Filipina (+13%), Cina (+11%), Indonesia (+8%), dan Malaysia (+4%).

Sebagai akibat dari ekonomi yang melambat, hipermarket kehilangan 1% share-nya pada tahun 2009 di negara-negara seperti Korea dan Taiwan. Shoppers mengurangi belanja mereka di channel tersebut, bisa jadi untuk menghemat pengeluaran, dengan menghindari toko-toko besar di mana mereka akan tergoda oleh pengeluaran yang tidak perlu. Bahkan, shoppers beralih ke toko-toko yang lebih kecil, seperti supermarket dan minimarket.

Laporan ini juga memperlihatkan kemungkinan pertumbuhan bagi tren belanja yang lain, khususnya strategi multiformat, munculnya shopper pria, fokus pada nilai dan kenyamanan, dan channel belanja “out of store” yang merupakan faktor utama untuk kenaikan penjualan FMCG. Ketiga belas pasar yang ada dalam laporan tersebut adalah Australia, New Zealand, Cina, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, India, Indonesia, Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Hipermarket Menciptakan Stalls Sebagai Strategi Multiformat

Dengan melambatnya perekonomian di tahun 2009 yang menghambat pertumbuhan hipermarket, banyak negara mengalami pertumbuhan pada supermarket dan minimarket, toko-toko yang menawarkan kepada shoppers kenyamanan dalam berbelanja dengan biaya bepergian yang lebih rendah.

Di Korea, jumlah shoppers yang menggunakan supermarket sebagai tempat utama meningkat dari 17% menjadi 23%, membalikkan penurunan yang telah berlangsung selama 10 tahun. Kunjungan sering ke supermarket juga merupakan yang pertama kalinya setelah sekian tahun di Taiwan, Indonesia, dan Thailand, pasar-pasar yang memiliki pertumbuhan yang kuat di hipermarket.

Dengan riteler terus berinvestasi dalam format yang lebih kecil untuk menawarkan shoppers cara belanja yang lebih nyaman, hipermarket utama juga mulai beralih untuk memperluas usaha mereka ke wilayah yang lebih kecil dan tetap menikmati pengeluaran dari berbagai cara belanja shoppers.

Munculnya Shopper Pria di Asia Selatan dan Asia Tenggara

Perlahan tapi pasti, pria di wilayah Asia Pasifik muncul sebagai shopper utama untuk bahan pokok bagi keluarga mereka. Dalam jangka waktu 10 tahun, proporsi pria yang adalah shopper utama meningkat dari 14% menjadi 22%, rata-rata.

Pria cenderung menjadi shopper utama di Asia Selatan dan Asia Tenggara, dan sekarang menguasai lebih dari 25% dari shopper utama. Malaysia memimpin dengan 38%, diikuti oleh Filipina dan India.

Sementara di Korea dan Vietnam, masih tetap tradisional dengan wanita sebagai shopper utama. Walaupun ada sedikit perubahan di Korea, yang mungkin didorong oleh perkembangan hipermarket, hanya 11% pria yang mengaku sebagai shopper utama untuk keluarga mereka. Di Vietnam, persentasenya cenderung tetap rendah selama pasar tradisional tetap mendominasi penjualan bahan pokok.

Shoppers di Vietnam, Malaysia, Cina, dan India Fokus pada Promosi

Shoppers di wilayah Asia Pasifik bereaksi pada ekonomi yang melambat di tahun 2009 dengan menjadi lebih berfokus pada nilai, sebuah perilaku yang didorong oleh riteler yang melakukan berbagai kegiatan promosi di sebagian besar negara.

Di sepanjang wilayah, Vietnam, Malaysia, Cina, dan India memiliki persentase tertinggi untuk pencari promosi. Proporsi dari “pencari promosi” meningkat signifikan di tahun 2009, terutama di Vietnam (+13%) dan India (+10%).

Namun di Indonesia, shopper ternyata tidak terlalu terpengaruh oleh penawaran promosi. Mereka lebih memilih untuk membeli merek yang mereka percayai. Indonesia juga merupakan negara dengan proporsi shopper (81%) yang mengatakan bahwa mereka akan memilih toko yang nyaman (lokasi toko). Hal ini mungkin disebabkan pertumbuhan minimarket yang menjamur.

Menangkap Potensi dari Label Privat

Sementara konsep label privat masih belum terlalu berkembang di semua negara Asia, dengan hanya Hongkong memiliki bagian lebih dari 5%, share dari penjualan ini meningkat di sebagian besar negara di tahun 2008. Contohnya, label privat meningkat lebih dari 25% di Thailand, karena makin banyak shopper yang mencari value ketika membeli produk pokok.

Nielsen menganggap bahwa terdapat kesempatan jangka panjang bagi riteler untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang peduli akan value dan untuk membedakan diri mereka dengan menginvestasikan pada pengembangan produk label privat. Untuk menjamin bahwa kualitas produk tetap konsisten dan konsep pemasaran juga perlu dipikirkan karena shopper di Asia cenderung setia pada merek yang mereka gunakan.

Belanja “Out-of-store

Sebagai online shopper yang paling besar di dunia, 90% konsumen di Asia berniat untuk melakukan pembelian melalui online pada enam bulan mendatang, berdasarkan studi terakhir Nielsen mengenai online shopping. Studi tersebut juga mengindikasikan bahwa konsumen di Korea dan Cina paling banyak berbelanja online.

Tidak mengejutkan juga bahwa konsumen di Korea saat ini memimpin perubahan menuju belanja out of store. Sejumlah 4% dari shoppers saat ini mengatakan bahwa mereka menggunakan internet sebagai alat utama untuk berbelanja kebutuhan pokok, sementara 71% mengatakan bahwa mereka menggunakan internet secara teratur untuk memiliki bahan pokok dan kebutuhan perawatan pribadi, dan 30% menggunakan saluran belanja TV.

Nielsen merasa bahwa teknologi akan mengubah cara dan di mana shopper akan membelanjakan uang mereka dan berinteraksi dengan riteler. Apakah melalui belanja di televisi, riteler online, aplikasi telepon seluler, atau melalui media sosial, aplikasi dari teknologi akan menjadi wilayah yang akan mendorong perubahan pada 10 tahun mendatang.(Majalah MARKETING)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top