Portal Lengkap Dunia Marketing

FINANCIAL SERVICES

[TIPS] Rentan Risiko, 88,66% Masyarakat Indonesia Tidak Terlindungi Secara Finansial

Unit Link

Ilustrasi Unit Link

Marketing.co.id – Berita Financial | Hidup memang tidak selamanya berjalan mulus, akan ada masanya di mana seseorang berhadapan dengan berbagai risiko hidup yang memaksa mereka mengeluarkan dana dalam jumlah besar. Berdasarkan data yang dihimpun Lifepal, terungkap fakta bahwa 88,66% masyarakat Indonesia belum mengalokasikan dana untuk manajemen risiko.

Pada awal Januari 2021, Lifepal menggelar program konsultasi keuangan dengan Certified Financial Planner (CFP®). Dari 500 orang partisipan, hanya 11,34% partisipan yang terlindungi oleh asuransi. Asuransi dalam hal ini adalah asuransi swasta, bukan termasuk jaminan kesehatan wajib dari pemerintah seperti BPJS Kesehatan.

Manajemen risiko sejatinya merupakan salah satu pokok penting dalam perencanaan keuangan. Hal ini pun wajib dipenuhi terlebih dulu, sebelum seseorang memusatkan perhatian untuk memenuhi tujuan jangka panjang.

Ketika seseorang tidak terlindungi, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan mengeluarkan dana yang lebih besar tatkala mereka berhadapan dengan risiko dalam hidup ini. Lantas risiko-risiko apa saja yang kiranya harus kita waspadai?

Mengenal dua jenis risiko yang berpotensi kita alami

Adapun risiko yang berpotensi dialami oleh individu maupun bisnis (perusahaan), ada dua yaitu:

  • Risiko spekulatif

Risiko yang satu ini memiliki tiga kemungkinan dalam hasilnya, yaitu untung, rugi, atau tidak ada perubahan sama sekali. Hal ini sering ditemui baik dalam dunia kerja, bisnis, atau investasi.

  • Risiko murni

Sedangkan risiko murni adalah risiko yang apabila terjadi dapat menyebabkan kerugian, dan jika tidak maka Anda tidak akan mengalami apapun. Risiko murni juga tidak melibatkan kemungkinan keuntungan di dalamnya. Risiko inilah yang bisa ditransfer ke perusahaan asuransi.

Dapatkah dana darurat diandalkan untuk memitigasi segala risiko hidup?

Salah satu risiko yang bisa diatasi dengan memiliki dana darurat adalah risiko hilangnya penghasilan bulanan “dalam jangka waktu tertentu,” sebut saja 3 bulan, 6 bulan, atau satu tahun.

Ketika seorang pencari nafkah meninggal dunia atau tidak lagi mampu bekerja karena kehilangan fungi anggota tubuh, maka keluarga tersebut akan kehilangan penghasilan rutin sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Jika peristiwa itu terjadi, bagaimana keluarga tersebut harus belanja bahan pokok setiap bulannya, membayar segala tagihan rumah, utang, hingga membiayai pendidikan sang anak?

Itu sebabnya, mengapa risiko hilangnya penghasilan harus ditransfer ke perusahaan asuransi. Transfer risiko adalah salah satu metode pengelolaan risiko. Tindakan ini ditujukan untuk memindahkan risiko ke “pihak yang lebih mampu mengelola risiko tersebut”, yaitu perusahaan asuransi. Dengan adanya asuransi, kita akan membayar premi dalam jumlah tertentu untuk memperoleh tanggungan jika risiko itu terjadi.

Tanpa manajemen risiko yang baik, kita bisa kehilangan aset

Tak hanya kesulitan dalam hidup, manajemen risiko juga akan membantu kita untuk melindungi seluruh aset kekayaan yang sudah kita kumpulkan. Menurut data Global Medical Trends Survey Report 2020 yang dipublikasikan Willis Towers Watson, kenaikan biaya medis secara gross di Indonesia bisa mencapai 11% per tahun. Ingat pula bahwa biaya perawatan penyakit kritis mencapai ratusan juta Rupiah.

Bayangkan saja, seorang penderita penyakit kritis yang tak memiliki jaminan kesehatan tentu akan sangat terbebani secara keuangan. Mereka bisa saja menjual aset-aset mereka untuk membayar biaya pengobatan yang tidak murah. Oleh karena itulah, kita wajib mempertimbangkan kepemilikan BPJS Kesehatan dan Asuransi Swasta. Jaminan kesehatan ini akan saling mengisi satu sama lain.

BPJS Kesehatan bisa menanggung seluruh jenis penyakit, namun sistem klaim berjenjang dan sistem rujukan dari faskes tingkat pertama tentu kurang cocok bagi mereka yang membutuhkan penanganan medis dalam waktu cepat. Ketahui pulalah, meski asuransi kesehatan swasta tidak mengcover seluruh jenis penyakit, Anda bisa mendapat kepraktisan dalam hal berobat.

Berapa besaran premi ideal yang harus kita bayar?

Pada intinya, makin lengkap manfaat asuransi yang kita ambil, makin tua usia tertanggung, makin tinggi risiko profesi kita, maka mahal pula premi asuransi yang harus dibayar. Premi asuransi adalah “biaya yang harus dikeluarkan” (cost) untuk melindungi kita dari segala risiko yang terjadi. Itu sebabnya, asuransi kerap disebut dengan istilah proteksi (perlindungan).

Adalah hal yang cerdas ketika kita mendapat produk dengan iuran premi murah dan uang pertanggungan atau manfaat yang besar. Adapun besaran premi yang ideal Anda bayarkan adalah 3-10% penghasilan bulanan.

Jika premi terlalu mahal, maka kita pun akan kesulitan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, membayar utang, dan berinvestasi. Namun jika premi terlalu murah, besar kemungkinan kita mengalami underinsured atau kurang terlindungi.

Itulah hal-hal yang harus Anda ketahui seputar risiko dan cara mengelolanya. Pada intinya, asuransi memang sangat dibutuhkan untuk memitigasi risiko yang tidak bisa diatasi dengan dana darurat.

Sangat penting pula bagi Anda untuk memilih perusahaan asuransi yang memiliki reputasi baik serta reputasi serta rekam jejak yang baik. Untuk menilai kesehatan sebuah perusahaan asuransi, maka risk based capital (RBC) menjadi salah satu tolak ukur dari kesehatan perusahaan asuransi itu. Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa tingkat RBC minimum yang harus dimiliki perusahaan asuransi maupun reasuransi adalah 120%.

Seandainya sebuah perusahaan asuransi memiliki RBC 300%, maka perusahaan asuransi yang bersangkutan bisa membayar “tiga kali lipat” dari seluruh utangnya. Tentu saja indikator RBC juga menunjukkan kemampuan perusahaan asuransi tersebut dalam membayar klaim.

Artikel ini ditulis dan dikirim oleh Aulia Akbar CFP®, financial educator dan periset Lifepal.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top