Portal Lengkap Dunia Marketing

FINANCIAL SERVICES

[TIPS] Hidup Bebas Utang, Apakah Sesuatu yang Mustahil?

Marketing.co.id – Berita Financial | Banyak orang yang ingin hidup bebas dari utang. Namun, bagi yang sudah terlanjur terjerat utang, apakah keinginan tersebut dapat terwujud? Cita-cita bebas dari utang bisa digapai selama debitur tersebut memiliki komitmen tinggi dalam melakukan manajemen utangnya.

Pada awal Januari lalu, Lifepal menggelar program konsultasi keuangan dengan Certified Financial Planner (CFP®). Dari 500 orang partisipan dalam sesi tersebut, 89,34% partisipan dinyatakan memiliki jumlah total utang yang ideal, sedangkan terkait dengan besaran cicilan utang per bulan, 95,46% partisipan mengaku jumlah cicilan dinyatakan ideal.

Tidak selamanya utang selalu dianggap buruk. Pada umumnya, pandangan buruk terhadap utang muncul ketika seseorang tidak mampu membayar utang yang sudah mereka ajukan sebelumnya. Adapun beberapa hal yang akhirnya membuat seorang berutang adalah:

  • Untuk mengembangkan kegiatan produktif (bisnis, kerja sampingan, dan lain sebagainya)
  • Untuk meningkatkan nilai kekayaan (pembelian aset yang nilainya akan naik di masa depan)
  • Untuk kebutuhan likuiditas pembayaran
  • Untuk kebutuhan darurat

Berikut adalah beberapa cara yang harus dipahami debitur untuk mengelola utang.

Sah-sah saja berutang asalkan masih dalam ranah produktif

Dua karakteristik utang produktif adalah bisa meningkatkan penghasilan sekaligus nilai kekayaan kita di masa yang akan datang. Utang untuk modal usaha adalah bentuk utang produktif karena dapat memberikan leverage kepada peminjam dalam meningkatkan operasional bisnis dengan harapan meningkatkan profit dari peluang bisnis yang ada. Sementara itu, kredit pemilikan rumah (KPR) bisa membantu debitur dalam melakukan akumulasi aset. Mengingat harga properti terus mengalami pertumbuhan, maka seiring dengan berjalannya waktu, kekayaan bersih debitur yang bersangkutan akan bertambah.

Apakah utang konsumtif selalu buruk?

Ketika seseorang mengalami masalah likuiditas (kekurangan aset lancar) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka berutang tentu akan menjadi solusi. Hal itu sangat mungkin dialami oleh mereka yang bekerja paruh waktu. Di kala pembayaran dari pihak klien terlambat, maka besar kemungkinan mereka akan mengalami masalah likuiditas. Dalam hal ini, menggunakan kartu kredit terlebih dulu bisa dibenarkan asalkan utang tersebut langsung dilunasi setelah penghasilan diterima.

Salah satu contoh buruk utang konsumtif adalah utang untuk kebutuhan darurat seperti halnya utang untuk biaya berobat, maupun utang untuk menopang biaya hidup karena kehilangan penghasilan. Biaya berobat tentu bisa ditanggulangi dengan jaminan kesehatan, sementara itu pengeluaran biaya hidup bisa dimitigasi lewat dana darurat.

Cicilan utang per bulan maksimal 35% dari penghasilan tapi maksimal jumlah utang 50% dari aset

Penilaian kesehatan jumlah utang secara sederhana bisa dilakukan dari dua hal yaitu debt service ratio dan debt to asset ratio. Nilai debt service ratio (DSR) atau rasio pelunasan (cicilan) utang maksimal adalah 35% dari penghasilan.

Namun apa jadinya jika pihak bank atau pemberi kredit menyetujui permohonan cicilan senilai 50% dari penghasilan kita? Tetap saja, jumlah tersebut tidak ideal.

Cicilan utang yang terlalu banyak jelas bisa mengakibatkan menurunnya kualitas hidup. Jelas saja, kemampuan kita dalam mencukupi kebutuhan hidup per bulan akan terganggu. Belum lagi, kita akan semakin sulit menyisihkan uang untuk dana darurat, kebutuhan proteksi, hingga investasi jangka panjang. Lantas untuk debt to asset ratio, nilai wajar dari total utang tertunggak kita adalah maksimal 50% dari aset.

Apabila kita kehilangan penghasilan untuk membayar cicilannya, mau tidak mau kita harus melikuidasi aset-aset kita untuk membayar utang. Ketika total utang setara 70% dari nilai aset, maka sisa aset yang kita miliki setelah utang-utang tersebut dibayar lunas hanya 30% dari total nilai awal. Penyusutan nilai aset juga akan menggerus nilai kekayaan bersih Anda.

Bila kita mengalami masalah dalam utang, bagaimana jalan keluarnya?

Ketahui portofolio utang

Bukan hanya investasi yang memiliki portofolio, utang pun ada terutama jika seseorang memiliki banyak utang. Portofolio utang menunjukkan daftar utang tertunggak beserta cicilan yang dimiliki saat ini. Dengan memiliki portofolio utang, kita bisa mengukur apakah utang yang ada saat ini sudah melebihi batas wajar atau tidak. Pisahkan utang tersebut menjadi dua kategori, mana yang konsumtif dan produktif. Segera lunasi utang konsumtif Anda bila memiliki dana yang cukup.

Debt settlement/ Penyelesaian utang

Solusi kedua dalam penyelesaian utang bisa dilakukan dengan bernegosiasi dengan pihak kreditur. Debitur pun bisa diberikan keringanan seperti diskon utang, cicilan jangka panjang dan lain sebagainya. Namun patut diketahui pula bahwa hal itu hanya disetujui bila kreditur telah melakukan penilaian keuangan terhadap debitur mulai dari cash flow bulanan atau aset.

Debt consolidation/ Konsolidasi utang

Konsolidasi utang adalah menyatukan seluruh utang yang kita miliki menjadi satu bundel. Setelah utang-utang tersebut dikonsolidasikan, akan dihitung berapa cicilan yang dibayarkan oleh debitur setiap bulan yang sudah disesuaikan dengan pemasukannya.

Refinancing/ Pembiayaan kembali

Ketika debitur sudah kesulitan dalam membayar utangnya, maka mereka bisa menjaminkan asetnya untuk mendapatkan dana segar yang nantinya digunakan untuk membayar utang tertunggaknya. Setelah itu, mereka pun harus mengangsur pembayaran cicilan utang ke pihak yang memberikan dana segar dari proses refinancing ini.

Sekilas, hal ini hampir serupa dengan berutang untuk bayar utang atau yang kita kenal dengan istilah “gali lubang dan tutup lubang.” Tindakan ini bisa dilakukan ketika tidak ada lagi pilihan lain untuk melunasi tunggakan utang tersebut, dengan catatan seluruh dana yang kita dapat dari proses refinancing memang digunakan untuk membayar lunas utang tersebut.

Itulah hal-hal yang harus diketahui bagi setiap debitur yang ingin bebas dari jeratan utang. Ketika seseorang memiliki cicilan utang, maka akan ada pengeluaran pasif yang harus dibayarkan secara berkala. Jagalah kesehatan arus kas (cash flow) dengan baik.

Biasakan untuk membayar utang tepat pada waktunya dan menjaga konsumsi Anda. Menurunkan tingkat gaya hidup untuk sementara waktu adalah hal bijak yang baik dilakukan demi memperlancar pembayaran utang.Jangan pernah ragu pula untuk meminta bantuan para perencana keuangan bersertifikasi bila Anda terjerat utang.

Tips ini dibuat oleh Aulia Akbar CFP®, financial educator dan periset Lifepal

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top