Terus Menggali Ide Kreatif

[Reading Time Estimation: 3 minutes]

Marketing.co.id – Salah satu software lokal yang berhasil menuai sukses adalah Andal Software. Ini tak lepas dari kepemimpinan Indra Sosrodjojo. Apa yang dilakukannya?

indra_sosrodjojoPerkembangan kebutuhan software di Indonesia meningkat terus dari tahun ke tahun. Buktinya, di tahun 2012–2013 mengalami peningkatan yang signifikan yakni dari US$678 juta (2012) menjadi US$800 juta (2013).

Meskipun di Indonesia tidak ada data untuk software lokal, diperkirakan pemain software lokal mendapatkan kurang dari 20% dari total pengeluaran software tersebut. Ini dikarenakan banyak software dari luar yang mendominasi perusahaan besar dan juga nilai software dari luar jauh lebih besar dibanding dengan software lokal.

Menurut data Business Monitoring International, jumlah perusahaan yang belum menggunakan IT sebesar 30 hingga 35 juta perusahaan. Ini merupakan peluang yang cukup besar untuk digarap oleh perusahaan software lokal. Salah satu yang optimistis menggarap pasar software adalah Indra Sosrodjojo, Direktur Andal Software—salah satu trah keluarga Sosrodjojo, pemilik Sosro Group.

Mengapa Anda tertarik terjun ke bisnis software?

Saya mulai tertarik terhadap dunia IT sejak kuliah di Trisakti, Jurusan Elektronika. Saat itu, mulai kenal dengan komputer dan programming, lantas lebih jauh lagi saya tertarik dari sisi otomasinya. Setelah itu, saya melanjutkan kuliah di University of Bridgeport, Amerika Serikat, mengambil Business Administration dengan major Managerial Information System. Kemudian, tahun 1985, saya langsung membangun usaha dan mendirikan usaha software pada tahun 1988, dengan brand Andal Software.

Lantas, bagaimana cerita awal brand Andal Software sendiri?

Kembali pada tahun 1990-an, saat ingin masuk ke mass market, maka harus ada nama brand. Ketika itu, saya memikirkan nama brand haruslah mengacu pada reliable. Saya pun mencari arti dari kata reliable dan menemukan kata “handal”. Nah, karena diperuntukkan bagi penamaan brand, saya pun menghilangkan huruf “h” sehingga menjadi “Andal”.

Setelah membuat brand Andal, apa yang dilakukan selanjutnya?

Dahulu, saya membuat software secara custom, jadi berdasarkan permintaan. Cara ini bagus jika dilihat dari sisi growth dan caseflow. Tetapi, menurut saya, membuat software berdasarkan pemintaan tidak bisa menjadi industri. Padahal saat itu, saya menginginkan membangun sebuah industri, apalagi setelah menciptakan brand Andal Software dan melakukan branding. Saya yakin, seharusnya Andal Software bisa menjadi perusahaan dan brand software yang patut diperhitungkan.

Andal_SoftwareBagaimana perkembangan bisnis Anda sekarang ini?

Saya melihat perkembangan bisnis Andal Software masih on track. Ya, walaupun masih naik-turun, itu masih dalam kondisi yang normal. Sebelumnya, bisnis saya sempat jatuh pada tahun 2002 karena sifat produk software yang dibuat bersifat custom. Jadi, meski penjualan meningkat, butuh waktu lama untuk melakukan kustomisasi tersebut.

Bagaimana Anda menyelesaikan kondisi tersebut?

Setelah mengetahui permasalahan yang terjadi, saya pun membuat solusi untuk mengatasi kondisi tersebut. Hal yang dilakukan adalah membuat sebuah produk yang tidak harus melakukan kustomisasi. Akhirnya, dibuatlah produk baru dengan nama “Andal PayMaster” pada tahun 2004.

Bisa dikatakan, produk tersebut menjadi penyelamat bisnis karena pertumbuhan kian naik. Dari itulah, saya banyak belajar bahwa membuat produk custom tidak bisa menaikkan market secara signifikan. Jadi, harus ada produk lain selain yang bersifat custom.

***

Jumlah perusahaan IT di Indonesia lebih terbilang banyak. Dari jumlah itu, sekitar 200–300 perusahaan bermain di software dan 80% dari jumlah tersebut membuat software berdasarkan pesanan. Jumlah perusahaan yang membuat produk tidak lebih dari 20 perusahaan.

Andal Software sendiri mengawali perjalanan bisnis mulai dari membuat aplikasi sesuai pesanan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Sejak tahun 2001, Andal Software fokus pada aplikasi untuk human resources, penggajian karyawan, PPh 21, dan attendance yang bernama Andal Kharisma dan Andal PayMaster.

***

Bagaimana gaya kepemimpinan Anda?

Saya dibesarkan di keluarga industri. Saya pun melihat sendiri bagaimana cara mengelola karyawan industri yang konvensional berbeda dengan yang ada di perusahaan IT.

Pada industri IT, ide kreatif karyawan harus digali. Oleh karena itu, saya pun harus benar-benar mengatur bagaimana karyawan tersebut bisa bebas berekspresi, berkreasi, berdiskusi, bahkan melontarkan ide dan menyanggah ide lainnya. Untuk itu, saya sangat menghargai ide-ide kreatif yang muncul dari tim, yang disebut “Andalers”.

Apa target Anda pada masa mendatang?

Sepertinya, saya belum melakukan ekspansi ke software jenis lain. Ini dikarenakan software yang saya geluti masih memiliki potensi pasar yang sangat besar. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dalam lima tahun mendatang bisa lebih besar lagi. Hal yang dilakukan adalah mengubah model bisnis sehingga peluang tumbuh dan berkembang masih terbuka lebar.

FOTO: Asep Toni K.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here