Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Tantangan Market Intelligence di India

www.marketing.co.id – Seperti kita ketahui, kegiatan mata-mata tidak hanya dilakukan dalam film, atau di arena politik dan perang saja. Dalam dunia marketing dan bisnis pun, “kegiatan mata-mata” dilakukan tak kalah gencarnya. Di dunia tersebut kita mengenal aktivitas semacam ini dengan istilah keren market intelligence (MI). MI dilakukan oleh hampir semua perusahaan besar, termasuk juga banyak perusahaan di India.

Salah satu kunci sukses dalam melakukan MI adalah bagaimana kesiapan dalam hal kelengkapan data dan informasi yang diperlukan (data warehousing) untuk selanjutnya diolah dan menghasilkan suatu kesimpulan atau masukan. Langkah atau strategi selanjutnya akan sangat tergantung pada kesimpulan atau masukan tersebut. Kelengkapan data saja belum dianggap cukup tanpa disertai dengan kemudahan untuk mengakses dan mencari data-data yang diperlukan.

Sebagai suatu contoh, kita bisa melihat salah satu perusahaan terbesar dunia yang memfokuskan diri dalam bidang MI melalui data warehousing dan analisis perusahaan, yaitu Teradata. Teradata beroperasi di lebih dari 40 negara dan menawarkan solusi untuk pengambilan keputusan berdasarkan pengolahan data yang akurat dan konsisten untuk mengembangkan customer relationship.

Teradata mempunyai kemampuan untuk mengolah data menjadi informasi yang berguna. Kini Teradata mempunyai lebih dari 850 pelanggan dengan lebih dari 1.900 proyek yang tersebar di seluruh dunia, termasuk India. Khususnya di India, Teradata telah eksis sejak tahun 1991, dan kini berperan sebagai pusat riset dan pengembangan MI di Hyderabad dan Bungalore, serta konsultan di Mumbai.

Teradata melihat pasar yang besar dalam hal MI di India. Apa saja prospek yang dilihat Teradata di India, khususnya dalam bidang MI? Pertama, karena India telah melalui pertumbuhan ekonomi yang begitu dramatis dan Teradata telah menjadi salah satu bagian dari perkembangan ini. Mereka sangat optimistis dengan India dan melihat adanya pasar yang sangat besar dalam hal MI.

Dalam kondisi ekonomi yang booming di India, banyak pihak merasa mudah untuk menghasilkan uang. Suatu perusahaan telekomunikasi, misalnya, bisa mendapatkan izin untuk beroperasi, mendirikan menara-menara, membangun brand, dan mengembangkan bisnisnya. Dengan bertumbuhnya ekonomi, perusahaan-perusahaan pun banyak yang berkembang. Jika sudah demikian, kompetisi domestik maupun asing juga mulai memanas seiring semakin banyaknya pihak yang memasuki pasar. Persaingan dan kompetisi ini adalah lahan subur bagi pasar MI. Strategi melirik langkah kompetitor dan bahkan rencana-rencana kompetitor yang masih digodok pun menjadi sangat penting.

Di India, persaingan adalah pemicu pertumbuhan. Dalam pasar yang demikian kompetitif, perang harga atau strategi pricing agresif saja tidaklah cukup. Dalam banyak kasus, keahlian perusahaan dalam membaca pasar dan gerak-gerik pesaing menjadi competitive advantage mereka dibanding perusahaan lain. Walaupun awareness akan perlunya MI sangat tinggi, ternyata tingkat penerapan belum setinggi awareness-nya. Inilah sebab India masih menjadi pasar yang potensial bagi industri MI.

Teradata banyak mengurusi sektor swasta di India walaupun mereka juga melihat adanya pertumbuhan peluang di sektor pemerintah. Lebih sulit untuk membuka relasi bisnis dengan perusahaan-perusahaan pemerintah—tidak hanya di India, tapi juga di negara lain. Perusahaan-perusahaan pemerintah mempunyai prosedur yang lebih panjang dalam mengevaluasi pemasok-pemasok baru.

India menawarkan begitu banyak peluang bisnis menggiurkan baik domestik maupun asing. Tetapi, tentu masih ada tantangan-tantangan yang dihadapi ketika melakukan MI di sana. India mempunyai pasar yang kompleks karena banyaknya keragaman suku bangsa, perbedaan antara perdesaan dengan perkotaan, eksisnya pasar besar yang tidak terorganisasi, serta adanya sistem administrasi dan hukum yang beragam. Lebih jauh lagi, India masih mengalami kekurangan dalam hal fasilitas infrastruktur, birokrasi, dan masih adanya korupsi yang mempersulit iklim bisnis pada umumnya.

Perusahaan-perusahaan asing yang sukses dalam menjalankan MI di India adalah perusahaan raksasa otomotif Hyundai yang mampu menyelami nuansa kompleks iklim bisnis di India. Hyundai sangat memahami kenyataan bahwa para konsumen India sangat concern terhadap biaya operasional yang harus mereka bayar seumur hidup mereka dengan memiliki mobil tersebut.

Berdasarkan aktivitas MI yang Hyundai jalankan, mereka membuat mobil yang sangat efisien dalam hal bahan bakar, mematok harga spare part yang terjangkau, dan mengadakan penyesuaian di sana-sini agar bisa beradaptasi dengan pasar konsumen India. Sebagai hasilnya, Hyundai cukup berjaya sebagai pemain yang mumpuni di pasar otomotif India.

Perusahaan LG juga bisa menjadi contoh suksesnya perusahaan asing di India. Tidak mengikuti pesaingnya yang lain, LG memilih untuk memproduksi mesin cuci berkapasitas 6 kilogram daripada 4,5 kilogram karena banyaknya rumah tangga besar di India. Oleh karena itu, MI sangatlah berperan dalam memahami kompetitor, sekaligus iklim persaingan bisnis di suatu pasar.

Salah satu kendala dalam melakukan MI di India adalah adanya pasar-pasar besar yang tidak terorganisasi, atau biasa juga disebut “pasar abu-abu” (grey market). Pasar-pasar ini dipenuhi oleh serangkaian produk yang sangat beragam, mulai dari produk elektronik sampai produk kosmetik. Pasar-pasar ini memanfaatkan kelemahan kebanyakan konsumen di India, yaitu sensitif terhadap harga. Di pasar-pasar ini, konsumen bisa mendapatkan potongan harga sebesar 20–25% lebih murah daripada di outlet resmi.

Pasar abu-abu berjaya khususnya dalam pasar ponsel. Banyak sekali produk ponsel yang dijual di pasar-pasar ini, mulai dari barang selundupan dan juga barang-barang yang dibawa oleh orang-orang dari luar masuk ke dalam. Karena semua transaksi yang terjadi di pasar tersebut tidak ada yang dilaporkan, sulit sekali mendapatkan data MI yang akurat tentang penjualan atau revenue yang dihasilkan dari pasar-pasar semacam itu.

Selain pasar abu-abu, ada juga sektor lain yang tak terorganisasi, menyerap sekitar 90% tenaga kerja India dan memberikan kontribusi sekitar 60% pada GDP India. Data tersebut didapat dari National Sample Survey Organization. Sektor-sektor ini mencakup bisnis-bisnis keluarga yang eksis dalam industri-industri seperti tekstil, otomotif, barang-barang engineering, produk makanan, dan lain-lain.

Banyak pihak sulit untuk melacak kompetitor atau mengenali pemasok yang dipakai, karena pasar tersebut banyak terpecah-pecah. Ambil contoh saja, jika suatu perusahaan aki mobil ingin melakukan MI untuk mempelajari pesaing dan kondisi pasar, maka itu adalah pekerjaan yang sangat menantang—mengingat hampir 90% dari pasar itu adalah pasar abu-abu.

Kondisi pasar yang sedemikian kompleks tersebut mendorong banyak pihak menempuh cara-cara yang boleh dibilang tidak etis dalam mengumpulkan data. Contohnya, jadi banyak transaksi “bawah meja” yang terjadi dengan pihak-pihak hukum atau pemerintah demi mendapatkan informasi yang diperlukan. Tindakan spionase ilegal pun kerap dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai kompetitor.

Dalam skenario ini, adalah tantangan tersendiri bagi perusahaan-perusahaan yang hendak melakukan MI dengan menempuh cara yang etis atau legal. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah bekerja sama dengan perusahaan atau mitra yang memang berpengalaman dan ahli dalam industri MI ini. (Ivan Mulyadi dari berbagai sumber)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top