Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Tantangan dan Peluang Distributor Obat

Marketing.co.id – Perusahaan distributor obat nasional seperti PT Indofarma Global Medika menghadapi tantangan yang tidak ringan pasca diberlakukannya BPJS Kesehatan, namun tidak menutup kemungkinan adanya peluang dalam industri distributor obat yang belum tersentuh.

Diwawancarai di kantor PT Indofarma Global Medika (IGM) di Jalan Dr. Saharjo no. 45 Jakarta, Joko Purwanto, Head of Finance IGM, mengatakan IGM yang berdiri sejak tahun 2000-an, merupakan anak perusahaan BUMN farmasi yang fokus mendistribusikan farmasi atau obat-obatan dan makanan kesehatan.

Menginjak tahun 2012, masa pertama kali berlaku Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau kini lebih dikenal BPJS Kesehatan, IGM memenangkan lelang e-catalog. Sebagai pemenang lelang, IGM memasok kebutuhan obat untuk rumah sakit-rumah sakit di Indonesia. e-Catalog merupakan daftar obat-obatan beserta vendornya yang dapat digunakan rumah sakit dan melakukan klaim obat-obatan tersebut ke BPJS Kesehatan.

Baca juga: Solusi Langganan Obat Bagi Penderita Penyakit Kronis

Namun sayangnya, pengelolaan BPJS Kesehatan yang tidak mulus berdampak besar bagi vendor obat-obatan termasuk IGM. Sebesar 80,0% penjualan IGM adalah untuk pemenuhan kebutuhan pemerintah melalui BPJS Kesehatan. Tidak mulusnya pengelolaan BPJS berdampak pada cash flow BPJS. Hal ini dipicu banyaknya peserta BPJS Kesehatan yang menunggak pembayaran atau bahkan sudah tidak aktif lagi, sehingga berimbas pada keterlambatan rumah sakit melakukan pembayaran obat ke vendor obat.

Perkembangan Pendapatan Iuran, Klaim, dan Defisit BPJS (dalam triliun)

Sumber: BPJS Kesehatan (Note: tahun 2019-semester 1)

Seperti terlihat pada grafik di atas, klaim BPJS tumbuh rata-rata dua kali lebih dari 15% per tahun. Tahun 2014, klaim BPJS Rp42,6 triliun; meningkat menjadi Rp94,2 triliun pada tahun 2018. Kecenderungan jumlah klaim lebih besar dibandingkan pendapatan dari iuran menyebabkan defisit yang terus meningkat setiap tahunnya.

Terlepas dari permasalahan di atas, masih ada solusi untuk meningkatkan kontribusi sektor kesehatan, yakni melalui uluran tangan industri perbankan. Seperti diketahui, sektor perbankan perannya sangat krusial dalam memajukan perekonomian nasional di berbagai sektor. Layanan yang diberikan pun semakin canggih dan beragam.

Di industri kesehatan, salah satu yang potensial untuk digarap sektor perbankan yakni obat-obatan. Sebagai gambaran, pengeluaran terbesar rumah sakit adalah obat-obatan yang mencapai 40%–50% dari total pengeluaran operasional rumah sakit. Sehingga ketidakstabilan di sektor obat-obatan akan berdampak pada rantai operasional rumah sakit.

Melihat kondisi ini, merupakan sebuah celah bagi perbankan untuk mendukung industri kesehatan melalui dana talangan ke rumah sakit. Hingga saat ini, sudah banyak rumah sakit yang bekerja sama dengan perbankan melalui dana talangan. Dana talangan ini menjadi tren tersendiri yang muncul akibat tidak stabilnya cash flow BPJS Kesehatan. Melalui dana talangan, rumah sakit tetap dapat membiayai operational cost bulanan yang salah satu pengeluaran terbesarnya adalah obat-obatan.

Meskipun banyak perusahaan menawarkan jasa talangan, yang paling dibutuhkan yakni bank khusus untuk menyalurkan kredit ke industri ini. Menurut Mario Apriliansyah, Direktur IGM, sampai saat ini belum ada satu bank pun yang khusus menggarap sektor kesehatan atau mengulik peluang distributor obat. Mario memberi contoh BTN yang sukses melakukan specialty di bidang properti. “Harusnya mereka membaca, kenapa sekarang BTN kuat di properti karena mereka specialty bank di situ. Coba sekarang mana bank swasta yang specialty di kesehatan,” tandasnya.

Mario menambahkan, dukungan perbankan juga dibutuhkan untuk memberdayakan UKM yang menyediakan alat kesehatan sederhana seperti troli, masker, tempat infus, gunting, dan lainnya. Hal-hal ini tentunya perlu melihat dan mempelajari terlebih dahulu secara mendalam karakter dan potensi pasar sektor kesehatan.

Achmad Nur

Marketing.co.id | Portal Berita Marketing dan Berita Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top