Portal Lengkap Dunia Marketing

DIGITAL & TECHNOLOGY

SUN Energy & SV UGM Tandatangani MoU Kembangkan Teknologi Panel Surya

Marketing.co.id – Berita Teknologi I SUN Energy berkomitmen untuk  mendorong penggunaan energi surya, serta mengembangkan kolaborasi dengan pihak-pihak kompeten untuk mempercepat visi Indonesia dalam menciptakan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan dengan pemanfaatan tenaga surya. Menjawab itu, SUN Energy secara resmi melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.

SUN Energy

Garry Perdana, Direktur SUN Energy mengatakan, bahwa ini mengawali serangkaian kegiatan perayaan HUT ke-5 SUN Energy selama 1 bulan ke depan. Untuk itu, sesegera mungkin komitmen SUN Energy kepada SV UGM dapat dilaksanakan pada bulan ini.

“Adapun kerjasama ini terdiri dari empat poin, yaitu implementasi pembangunan PLTS sebagai energi alternatif di bangunan kampus, pengembangan Tempat Uji Kompetensi dan Lembaga Sertifikasi Profesi di sektor energi tenaga surya, peningkatan pengetahuan melalui kuliah umum dengan dosen tamu dari SUN Energy satu bulan sekali, penyerapan tenaga sumber daya manusia menjadi karyawan magang, hingga pengabdian masyarakat di daerah KKN,” ujar Garry.

Seperti diketahui, Pemerintah Indonesia dalam komitmennya sesuai Paris Agreement – sebuah kesepakatan global untuk menghadapi perubahan iklim, berupaya memenuhi target 23% bauran energi di tahun 2025. Komitmen untuk mewujudkan hal tersebut membutuhkan sinergi multi-stakeholders, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, BUMN, institusi pendidikan, serta perusahaan swasta. Perguruan tinggi sebagai stakeholders yang memiliki peranan penting dalam edukasi, penelitian dan pengembangan teknologi energi surya, diharapkan dapat mencetak generasi muda yang dapat mengembangkan energi hijau, khususnya tenaga surya sebagai alternatif sumber energi listrik.

Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) mrnambahkan, kerjasama antara SV UGM dan SUN Energy sesuai Tridharma perguruan tinggi dapat dilaksanakan secepatnya di tahun ini. Kegiatan belajar-mengajar yang menghadirkan dosen praktisi dari SUN Energy untuk mendukung pengembangan kurikulum baru mengenai energi baru dan terbarukan, pelaksanaan program pengabdian masyarakat di beberapa desa, hingga penelitian teknologi tenaga surya diharapkan bisa mencetak lulusan yang berkualitas dan siap kerja di industri masa depan sekaligus mendorong sumber daya manusia untuk terus meningkatkan pendidikan di bidang ini hingga jenjang yang tinggi.

Menurut Fabby Tumiwa, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mengatakan, “Setiap 1 GW akan membuka lapangan kerja hingga 20.000 – 30.000 dan transisi energi hijau ini diproyeksikan akan menciptakan 3,6 juta lapangan kerja hingga tahun 2050.”

Chrisnawan Anditya, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan KESDM menambahkan, demi menurunkan dampak emisi gas rumah kaca, penyediaan energi bersih melalui energi surya menjadi salah satu strategi yang paling mudah dan tepat saat ini. Berdasarkan grand strategi energi  nasional 2020 -2035, pemerintah mengharapkan tambahan pembangkit listrik energi baru terbarukan sebesar 38 GW dengan prioritas pada pembangkit listrik tenaga surya mengingat potensi tenaga surya yang berlimpah, kecepatan konstruksi dan harga yang semakin kompetitif.

“Pemerintah membutuhkan dukungan bersama, baik pelaku usaha, asosiasi, akademisi dan generasi muda. Keterlibatan akademisi maupun generasi muda melahirkan inovasi baik dalam pengembangan EBT, pemanfaatan energi surya dan sosialisasi kepada masyarakat. Kementrian ESDM menyambut baik kerjasama ini, serta berharap kegiatan ini dapat berkontribusi maksimal terhadap pengembangan EBT khsusunya tenaga surya dan juga menjadi insiatif bagi pendidikan tinggi lainnya,”ujar Chrisnawan.

Hal senada juga diungkapkan Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Urgensi penggunaan energi baru terbarukan sudah sangat terasa di Indonesia. Dia pun berharap, ini bisa dilakukan dengan 2.200 institusi lainnya, mulai dari Universitas, Institut, dan Politeknik.

“Kerjasama ini wujud nyata link and match antara industri dengan institusi pendidikan serta sebagai center of excellence dan project based learning bagi dosen dan mahasiswa untuk belajar langsung dari kasus nyata di industri,” tegas Wikan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top