Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Salesmanship

Spirit Sales Person yang Bersyukur terhadap Kejengkelan

www.marketing.co.id – Pergantian tahun baru 2011 menjadi 2012 sudah berlalu, dan pergantian tahun baru Imlek pun sudah lewat. Dari email, Facebook, BBM, SMS, kartu ucapan selamat dan harapan, hampir dipastikan semuanya bernada positif, optimistis, dan inspiratif, walaupun bisa dikatakan susunan kalimatnya hasil copy-paste. Tidak sedikit nama “Abdullah” tertulis di akhir ucapan kiriman Zulkarnaen, karena kecerobohan pengirim lupa mengganti nama pengirim pesan asli. Di lain pihak, tidak sedikit kalangan yang kurang waras (maaf) mengatakan tahun yang baru sebagai tahun musibah atau tahun berat, tahun tiada harapan, dan seterusnya. Pesan bernada optimistis dan positif maupun pesimistis dan negatif, kedua kutub yang berbeda tersebut bertujuan sama, yaitu ingin menjadikan republik tercinta ini menjadi negara yang bermartabat, disegani dunia, punya jati diri, bebas dari  KKN.

Mari kita ambil contoh di awal dua tahun baru yang berdampingan, yaitu tahun baru internasional 1 Januari dan Imlek 23 Januari kemarin, apakah keadaan dan perilaku bangsa kita soal lapangan kerja yang tidak tuntas teratasi ini menjadi  suatu yang menarik untuk referensi sebagai tenaga penjual sejati. Bisa kita amati, saat sebuah kementerian membuka lowongan pekerjaan bagi pegawai negeri, begitu antusiasnya para pelamar—walau dengan sedikit harapan namanya bisa tertulis dalam pengumuman penerimaan. Hal ini karena filosofi mereka terbalik dari logika pada umumnya, yaitu “Kalau nggak diterima, ya nothing to loose.” Jika diterima itu adalah mukjizat, karena bisa menjadi pegawai negeri berarti banyak sekali keuntungan yang diperoleh, terlebih dalam jangka panjang. Seperti rasa aman langka di-PHK—kecuali kasus Gayus Tambunan, dapat bayaran sampai mati walau sudah tidak bekerja lagi, dan yang lebih luar biasa adalah bayaran sampai mati ini bisa diwariskan.

Terdapat kejadian sangat ironis bahwa ada calon pegawai negeri—sebutlah dia bernama “Mr. Buang Sial”—yang namanya tercantum dalam penerimaan calon pegawai negeri. Begitu gembira dan bersyukurnya dia dapat diterima, sebagai wujud syukur, diadakan acara potong kambing walau biayanya hasil dari berutang—dengan janji uang akan diganti setelah dia bekerja. Tidak lewat hitungan bulan, ada koreksi  nama  penerimaan calon pegawai negeri tersebut. Nama “Mr. Buang Sial” hilang dari daftar. Mau mengadu tidak bisa dengan alasan apa pun, mau protes tidak punya kemampuan, apalagi minta bantuan pengacara, jauh dari bayangan. Rasa kecewa pasti terjadi bukan karena gagal jadi pegawai negeri, tapi pusing 20 keliling membayar utang untuk syukuran. Kambing sudah terlanjur dibeli. Namanya juga tak mau menanggung malu dan demi gengsi, dengan segala kejengkelan yang terlanjur diterima, syukuran potong kambing pun tetap dilakukan. Dalam undangan, temanya ditulis “Bersyukur Atas Kejengkelan”.

Pesan moral yang dapat kita peroleh sebagai sales person, kita sering sekali menghadapi kejengkelan terhadap rekan, bawahan, atasan, maupun pelanggan. Namun, bagaimana kejengkelan/kepahitan/ketidaknyamanan yang kita peroleh itu tetap kita syukuri agar berubah menjadi suka cita, rasa gembira, optimistis dalam menghadapi kehidupan seutuhnya, menghadapi pelanggan dan lingkungan kerja sehingga dapat terjalin terus dengan baik, dan membuahkan hasil yang positif dari sebuah kejengkelan. Nasib kita bukan ditentukan oleh orang lain, melainkan ditentukan oleh diri kita sendiri. Jadi, pilihannya adalah mau tetap jengkel atau bersyukur? Syukur-syukur nggak jadi jengkel ya. (Mindiarto Djugorahardjo)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top