Serangan Makin Kompleks, 90% Karyawan Keamanan Siber dan TI Alami Burnout dan Kelelahan

[Reading Time Estimation: 3 minutes]

serangan saiber cyber attack Burnout dan kelelahan yang dialami karyawan keamanan siber dan TI membuat mereka kurang teliti dalam menjalankan tugas dan menganggap ini sebagai penyebab terjadinya serangan siber pada Perusahaan.Burnout dan kelelahan yang dialami karyawan keamanan siber dan TI membuat mereka kurang teliti dalam menjalankan tugas dan menganggap ini sebagai penyebab terjadinya serangan siber pada Perusahaan.

Marketing.co.id – Berita Digital | Sophos dan Tech Research Asia (TRA) telah merilis hasil laporan keempat “Masa Depan Keamanan Siber di Asia Pasifik dan Jepang”. Dalam laporan tersebut ditemukan bahwa 90% responden yang merupakan karyawan keamanan siber dan TI, mengalami burnout dan kelelahan.

Dari laporan tersebut terungkap, karyawan merasakan burnout hampir di semua aspek operasi, dengan 30% di antaranya menyatakan bahwa perasaan burnout meningkat secara “signifikan” dalam 12 bulan terakhir. Sebanyak 41% responden merasa burnout membuat mereka “kurang teliti” dalam pekerjaan.

Bahkan, 17% dari mereka mengidentifikasi burnout dan kelelahan berkontribusi, atau bertanggung jawab secara langsung, atas terjadinya serangan siber pada perusahaan. Sementara itu, 17% perusahaan mengalami pelambatan dalam menanggapi insiden keamanan dibandingkan dengan rata-rata.

Penyebab burnout dan kelelahan pada karyawan keamanan siber dan TI

5 penyebab utama burnout dan kelelahan siber dalam laporan ini meliputi:

  • Kurangnya sumber daya yang tersedia untuk mendukung kegiatan keamanan siber
  • Aspek rutinitas karyawan terkait tugas yang monoton
  • Tekanan yang meningkat dari dewan maupun tim manajemen perusahaan
  • Peringatan terus-menerus dari alat dan sistem keamanan perusahaan
  • Peningkatan aktivitas ancaman dan adopsi teknologi baru yang mendorong terciptanya lingkungan yang menantang.

Dampak burnout dan kelelahan pada karyawan keamanan siber dan TI

Penemuan di laporan mengungkapkan bahwa di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ):

  • 41% karyawan merasa menjadi kurang teliti dalam perkerjaan mereka
  • 34% karyawan merasakan tingkat kecemasan yang meningkat jika mengalami pelanggaran atau serangan siber
  • 31% karyawan merasa sinis, acuh tak acuh, dan apatis terhadap kegiatan keamanan siber serta tanggung jawab mereka.
  • 30% karyawan menyatakan bahwa mereka ingin mengundurkan diri atau mengubah karier mereka, ddimana 23% dari karyawan yang disurvei telah mengubah karier atau mengundurkan diri.
  • 10% karyawan merasa bersalah karena tidak bisa berperan lebih untuk mendukung kegiatan keamanan siber

Aaron Bugal, Field CTO Sophos mengatakan, pada saat organisasi berjuang dengan kurangnya keahlian dalam bidang keamanan siber dan lingkungan serangan siber yang semakin kompleks, stabilitas dan kinerja karyawan memegang peranan yang krusial dalam memberikan pertahanan yang solid bagi bisnis.

“Burnout dan kelelahan kerap mengancam area-area ini, sehingga organisasi perlu meningkatkan dukungan yang tepat kepada karyawannya. Terutama ketika, menurut penelitian kami, 17% responden mengidentifikasi bahwa burnout dan kelelahan berkontribusi, bahkan bertanggung jawab secara  langsung, atas terjadinya serangan siber,” katanya.

Laporan ini juga memberikan wawasan relevan tentang stres siber yang dihadapi perusahaan dan hal apa saja yang perlu diubah. Meskipun tidak ada solusi yang mudah, mengubah pola pikir terhadap masalah tersebut akan berdampak signifikan dalam mengidentifikasi kebutuhan untuk mengembangkan bisnis yang tahan terhadap serangan siber.

Dewan dan eksekutif perusahaan perlu mendorong perubahan dan menuntut tanggung jawab dari para individu yang bertugas, guna mencapai tata kelola yang lebih baik terkait pendekatan keamanan siber. Namun, mereka perlu dengan jelas menyampaikan akuntabilitas dalam mengembangkan dan mempertahankan rencana, karena keamanan siber menjadi suatu hal interaktif – dan harus ada tim yang yang memberikan pengawasan yang memadai setiap saat.

Dampak burnout dan kelelahan karyawan keamanan siber dan TI pada operasional bisnis

Menurut laporan ini, terdapat empat area utama di mana burnout dan kelelahan karyawan keamanan siber dan TI memiliki dampak langsung pada operasi bisnis:

  • Kontribusi langsung terhadap serangan: 17% responden mengidentifikasi bahwa burnout atau kelelahan siber keamanan berkontribusi, bahkan bertanggung jawab langsung, atas terjadinya serangan siber
  • Respons lambat terhadap kejadian keamanan siber: 17% perusahaan mengalami waktu respons yang lebih lambat dari rata-rata dalam menanggapi insiden keamanan siber
  • Kehilangan produktivitas: perusahaan mengalami kehilangan produktivitas sebesar 4.1 jam per-minggu, dengan perusahaan di Filipina (4.6 jam per-minggu) dan Singapura (4.2 jam per-minggu) yang paling terdampak. Sedangkan India dan Jepang (keduanya dengan 3.6 jam per-minggu) yang paling sedikit terdampak.
  • Pengunduran diri dan perubahan karier: Dalam 23% perusahaan yang disurvei, stres dan burnout menjadi penyebab utama pengunduran diri karyawan di bidang keamanan siber dan TI. Karyawan di perusahaan Singapura dan India masing-masing berkontribusi 38% dan 31% dari jumlah aksi pengunduran diri tersebut. Perusahaan juga mencatat bahwa rata-rata 11% karyawan mereka telah “meninggalkan” posisi mereka sebagai karyawan keamanan siber atau TI karena stres atau burnout. Insiden ini paling banyak terjadi di Malaysia (28% perusahaan) dan Singapura (15%).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here