Portal Lengkap Dunia Marketing

LIFESTYLE

Sepatu Boot: Dari Pekerja, Fashion, Hingga Musik

Sebagai alas kaki, sepatu dibuat dengan tujuan melindungi kaki. Tapi siapa sangka, semakin lama begitu banyak jenis sepatu bermunculan dan menjadi tren di industri fashion. Tak terkecuali boot, yang banyak berevolusi dari sekadar alas kaki manjadi tren yang tak pernah usang.

sepatu boot

Boot tadinya memang diperuntukkan supaya sepatu bisa memberikan perlindungan ekstra pada kaki. Boot cenderung ditujukan untuk segmen pekerja dan militer. Oleh karena itu boot biasanya menutupi dan melindungi dari bawah kaki hingga ke pangkal paha, atau minimal sampai di sekitar lutut. Dari dulu fungsi dan model sepatu jenis ini disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya, walaupun ada juga pengaruh faktor budaya (kultur).

Bahan yang digunakan juga bervariasi, tetapi fungsi boot kurang lebih sama di berbagai pasar dan budaya, yaitu untuk melindungi kaki. Bahan yang digunakan kebanyakan tergantung dari fungsi boot, budaya setempat, serta iklim/cuaca. Pada zaman koboi dulu, bahan utama boot biasanya berupa kulit. Bahan campuran atau pengembangannya ada yang menggunakan sutera, katun, wol, kain tebal, atau bulu hewan, tergantung kebutuhan pemakainya untuk iklim udara dingin atau panas.

Pada zaman dulu, konsep boot berasal dari busana ala legging, sol (sandal), dan penutup mata kaki hingga betis yang dipakai secara terpisah. Lalu, mulai dari sekitar zaman pertengahan sampai Romawi, boot sudah mewakili simbol status atau pangkat kemiliteran. Para jenderal dan raja ada yang memakai boot dengan bahan, warna, dan ornamen tertentu. Ini bisa menjadi pembeda antara mereka dari kebanyakan populasi pada umumnya yang sering kali bertelanjang kaki atau memakai sepatu pendek/ceper.

Bahan kulit yang dari dulu sudah terkenal mahal, dipakai untuk boot yang hanya dikenakan oleh para personil militer berpangkat tinggi. Selain itu, ada juga raja atau senator yang memakai boot berbahan kulit, ditambah ornamen sulaman, permata, atau sol yang terbuat dari emas.

Tren Boot yang Bertahan Hingga Kini

Terutama sejak zaman koboi, boot lebih sering dipakai untuk medan berat seperti tanah, lumpur, atau salju, serta untuk mengendarai kuda dan berbagai hewan lainnya. Kini boot lebih sering dijumpai dan dipakai oleh orang-orang yang memang menggemarinya. Model sepatu ini pun masih umum dan lazim terlihat dipakai oleh berbagai generasi di berbagai tempat. Boot seakan kembali lagi ke fungsi dan modelnya, meski berbagai model yang spesifik tetap ditemui di kalangan militer tertentu atau aktivitas olahraga tertentu, seperti berkuda, polo, dan lainnya.

Model dan jenis boot yang ada sekarang banyak terpengaruh oleh budaya tahun 1990-an ke belakang, dimana pada umumnya boot digemari kaum muda. Kaum rebels yang muncul hampir bersamaan dengan era jeans, sering kali memasangkan busananya dengan boot model combat atau motorcycle boots.

Busana ini terinspirasi oleh para anak muda yang menggemari film The Wild One yang dibintangi Marlon Brando, atau Rebel Without a Cause yang dibintangi James Dean. Dari sini boot juga mulai dimodifikasi tak hanya mempunyai sol yang datar, tapi juga dilengkapi high heel, atau model ujung jari yang lancip. Model ini dikenal dengan nama Chelsea Boots atau yang mengingatkan kita pada grup band legendaris The Beatles, “Beatle Boots”.

Tren sepatu boot kian merambah industri fashion dan mulai meningkat sejak tahun 1960, ketika kaum wanita mulai banyak menggemari sepatu jenis ini. Para wanita pun tak sungkan lagi memakai boot yang memberikan kesan provokatif. Dari sini banyak jenis boot menjadi populer, seperti Go Go boots yang biasa dipadukan dengan rok mini, model retro, dan model front-lacing-granny-boots yang terkenal di kalangan Hippie. Model boot pun dengan cepat menganut paham unisex (bisa dipakai oleh pria maupun wanita) sejak tahun 1970-an, dimana banyak pria maupun wanita memakai chukka boots, cowboy boots, dan high-zip-up platform boots.

Merek Pengangkat Image Boot

Jika merek Nike, Converse, atau Adidas terkenal dengan sepatu olahraganya, merek Dr. Martens juga punya cerita sendiri dalam kategori produk boot. Sepatu Dr. Martens yang pada awalnya didesain untuk keperluan ortopedi di tahun 1940-an, pada tahun 1970 diadopsi oleh budaya punk menjadi sepatu yang fashionable, yang menjadi populer hingga tahun 1990-an.

Seorang dokter militer Jerman bernama Klaus Martens mendesain boot yang dilengkapi lapisan sol berisi udara untuk dirinya sendiri setelah ia mengalami cedera akibat bermain ski. Paten desain sepatunya lalu dibeli oleh seorang pembuat sepatu dari Inggris, diubah sedikit namanya, lalu mulai diproduksi.

Sepatu Doc Martens yang tadinya dijual untuk segmen para pekerja kerah biru di UK, perlahan-lahan juga digemari oleh para bintang pop dan musisi Amerika yang melakukan touring ke UK. Mereka menilai Doc Martens lebih dari sisi fashion-nya dan bisa dipadukan dengan nuansa industri musik.

sepatu boot

Para musisi inilah yang mengangkat sepatu Doc Martens sehingga bisa punya pengaruh tersendiri dalam industri budaya pop. Kaum muda termasuk gadis remaja juga gemar membeli Doc Martens untuk kemudian dimodifikasi sendiri (biasanya dengan motif bunga-bunga).

Setelah sempat turun penjualannya pada tahun 2003, Doc Martens berhasil melakukan restrukturisasi serta menyegarkan kembali mereknya dengan berusaha menggaet para hipster atau orang-orang yang berpengaruh dalam industri musik dan budaya pop. Mulai tahun 2012, penjualan boot yang ikonik ini memasuki babak baru, plus para bintang pop sekelas Miley Cyrus dan Rihanna menjadi fansnya.

Beruntung Doc Martens bisa menarik dan diadopsi oleh industri musik, karena tanpa musik, boot Doc Martens hanya akan menjadi produk sepatu untuk para pekerja saja. Perpaduan antara fashion dan musiklah yang membuat Doc Martens bisa bertahan hingga sekarang, plus karena modelnya yang otentik dan berkesan praktis.

Selain Doc Martens, pasar boot juga diramaikan dengan merek Timberland. Jika menyebut merek Timberland, orang langsung teringat dengan boot yang berwarna kuning gandum dan bertekstur kulit.

Pada awalnya, Timberland berasal dari perusahaan produsen sepatu di Massachussets. Lalu pada pertengahan tahun 1950, perusahaan tersebut dibeli oleh seorang pembuat sepatu veteran yang juga seorang salesman, Nathan Swartz, yang kemudian menjadikannya sebagai bisnis keluarga. Mereka juga yang memperkenalkan teknik injection moulding yang bisa menyatukan sepatu dengan sol tanpa harus mengandalkan jahitan saja, dan menghasilkan sepatu yang hampir anti-air (waterproof).

Tahun 1969, mereka mulai memproduksi sepatu secara massal, dan pada tahun 1973 sepatu tersebut akhirnya disebut Timberland boot. Sementara kebanyakan boot lain berwarna gelap atau coklat, Timberland hadir dengan warna khasnya yang cenderung lebih muda, mirip warna karamel atau gandum. Desain dan warna yang kekuningan dengan cepat menjadi tren di mana-mana, yang sampai sekarang tetap menjadi trademark boot Timberland (warna kuning yang original).

Mirip dengan Doc Martens, boot Timberland (yang dikenal dengan sebutan “Timbs”) diam-diam juga telah menjadi bagian dari dress code umum para bintang musik dan penggemar gendre hip-hop, berkarakter kuat, praktis, dan juga sesuai dengan karakter musik terutama tahun 1990-an.

Doc Martens dan Timberland adalah dua contoh merek yang tak hanya mampu mengangkat citra boot yang tadinya hanya diperuntukkan bagi para pekerja, menjadi punya kelas tersendiri di industri fashion dan juga musik. Doc Martens, Timberland, beserta banyak lagi merek yang lain, telah menjadikan boot punya tempat sendiri di hati para penggemar budaya pop dunia.

Ivan Mulyadi

Boot yang tadinya hanya diperuntukkan bagi para pekerja, menjadi punya kelas tersendiri di industri fashion, musik, dan juga budaya pop dunia.”

MM.09.2017/W

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top