PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk Masuk Jajaran 200 Best Companies Under A Billion

[Reading Time Estimation: 2 minutes]
Yusuf Hady (tengah-berbatik), Direktur Operasional PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk

MARKETING, Jakarta – Sejak didirikan tahun 1996, PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk (PT NIC) yang merupakan produsen roti dengan merek dagang Sari Roti, telah berkembang dengan sangat pesat. PT NIC saat ini memiliki lima pabrik yang berlokasi di Cikarang, Pasuruan, Semarang, dan Medan yang mampu memproduksi roti sebanyak 1,82 juta per hari. Sementara itu, kapasitas pendistribusian produk mencakup 24 ribu outlet yang tersebar didaerah Sumatera, Jawa sampai dengan Bali.

Selain kemampuan produksi dan distribusi, perkembangan PT NIC juga terlihat pada pergerakan nilai sahamnya. Sejak melakukan Initial Public Offering (IPO) dan terdaftar dengan nama ‘Roti’ di Bursa Efek Indonesia, PT NIC telah berhasil memberikan hingga 165 persen total pengembalian kepada para pemegang saham. Demikian diungkapkan Yusuf Hady, Direktur Operasional PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk saat ditemui dalam sebuah acara di Jakarta, Kamis (8/9) lalu.

Lebih lanjut dijelaskan, pencapaian ‘prestasi’ Sari Roti tersebut membuat PT NIC masuk kedalam jajaran 200 Best Under A Billion dari Majalah Forbes.  PT NIC terpilih dari 15 rbu perusahaan publik di Asia dan merupakan satu dari tiga perusahaan yang berasal dari Indonesia yang masuk dalam jajaran tersebut. Majalah Forbes, sambungnya, memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh perusahaan untuk masuk dalam 200 Best Under A Billion, yaitu harus memiliki pendapatan tahunan antara $ 5 juta dan $ 1 miliar serta diperdagangkan secara umum dilantai bursa dalam waktu minimal satu tahun. Selain hal tersebut, menurutnya, penilaian juga dilihat dari pertumbuhan laba, penjualan dan ROI (return of investment) selama 1-3 tahun sebelumnya. Perusahaan-perusahaan tersebut dinilai telah dikelola dengan baik, melalui volatilitas ekonomi yang dimulai pada tahun 2008. Perusahaan yang masuk ke dalam jajaran tersebut rata-rata memiliki nilai hutang sebesar 13 persen terhadap rasio ekuitas. Bahkan, 67 perusahaan yang masuk dalam daftar kali ini, sama sekali tidak memiliki hutang.

“Kami sangat bangga bisa masuk dalam jajaran 200 Best Under A Billion dari Majalah Forbes. Penghargaan ini kami raih setelah setahun menjadi perusahaan publik. Hal ini tidak lepas dari komitmen manajemen, investor, serta karyawan untuk selalu mengembangkan dan memberikan produk yang terbaik bagi masyarakat Indonesia,” tegas Yusuf Hady.

Tahun depan, sambungnya, PT NIC berencana untuk kembali membangun pabrik di beberapa daerah, yaitu Cibitung, Palembang, dan Makassar. Dengan penambahan tiga pabrik tersebut, diharapkan produksi roti bisa bertambah sekitar 800 ribu per hari. Untuk itu, diakuinya, pihaknya tengah mencari pinjaman perbankan Rp 100 miliar untuk membiayai pembangunan dua pabrik baru di Cibitung dan Palembang.

“Bank Central Asia (BCA) dan Bank Mandiri menjadi calon kuat debitur,” ungkapnya lagi.

Sebagi informasi, sejak berkiprah selama 15 tahun di industri roti, brand Sari Roti telah berkembang sebagai produsen roti terbesar di Indonesia dan telah meraih beragam penghargaan, antara lain ; Top Brand 2009-2011, Top Brand for Kids 2010-2011, Marketing Award 2010, Original Brand 2010 dan Rekor Bisnis 2011, serta sederet penghargaan lainnya. (Harry Tanoso/Majalah MARKETING)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here