Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Digital

PT Arah Tawarkan ECOFREN Untuk Atasi Limbah B3

Marketing – PT Arah Environmental Indonesia (PT Arah), penyedia solusi terpadu pengelolaan limbah dan sampah yang tersertifikasi, memperkenalkan ECOFREN, sebuah solusi pengelolaan limbah dan sampah secara terpadu khusus untuk segmen bisnis dan sarana komersial.

Solusi yang ditawarkan mencakup perencanaan, perlengkapan dan pengemasan, pengangkutan, pengolahan, pelatihan dan konsultasi, serta penempatan sumber daya manusia (managed service) dalam mengelola limbah secara tepat dan sesuai dengan standar pengendalian pencemaran lingkungan hidup.

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) tidak hanya bersumber dari segmen industri, tetapi juga berasal dari lingkungan tempat aktifitas keseharian seperti rumah/hunian, perkantoran, dan sarana komersial seperti mall dan lainnya. Limbah B3 yang banyak dijumpai dari segmen ini diantaranya terdiri atas limbah elektronik, baterai bekas, lampu bekas dan kemasan tinta (cartridges) bekas.

Berdasarkan penelitian International Telecommunication Union (ITU) bersama United Nations University (UNU), e-waste atau sampah elektronik, yang mencakup produk-produk yang dibuang dengan baterai atau colokan termasuk ponsel, laptop, televisi, lemari es dan mainan listrik terus meningkat.  Pada tahun 2016, jumlah e-waste diperkirakan mencapai 44,7 juta metrik ton, meningkat 8% atau 3,3 juta metrik ton dari tahun 2014. Ironisnya, hanya sekitar 20% atau 8,9 juta metrik ton dari semua e-waste yang didaur ulang di tahun yang sama.

Gufron Mahmud, Direktur Utama PT Arah  mengatakan, Arah sangat menaruh perhatian pada limbah B3, terutama mengenai awareness (pemahaman) akan limbah B3 yang dihasilkan serta sarana pengelolaannya.

Lebih jauh dia mengatakan, banyak masyarakat belum paham bahaya limbah B3 yang mereka hasilkan. Padahal dengan semakin masifnya penggunaan perangkat teknologi seperti ponsel, gadget dan perangkat elektronik lainnya, maka limbah B3 yang dihasilkan semakin banyak. Masyarakat juga masih banyak yang membuang baterai bekas, lampu bekas, tinta cartridges bekas, dan sampah elektronik lainnya ke dalam satu wadah bersama sampah bekas makanan atau sampah plastik.

“Padahal sampah harus dipilah pembuangannya untuk kemudian masing-masing jenis sampah dikelola dengan treatment yang berbeda. Di sisi lain, ada masyarakat yang sudah paham bahayanya namun mengalami kesulitan bagaimana menanganinya,” ungkap Gufron dalam acara peluncuran ECOFREN di Jakarta.

Dia menuturkan, pengelolaan sampah dan limbah B3 yang buruk tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, namun juga akan membahayakan manusia, lingkungan, dan makhluk hidup lainnya, dan berdampak pada generasi berikutnya. Itu sebabnya, pengelolaan sampah dan limbah B3, harus ditangani dengan baik dan benar.

“Dengan ECOFREN kami berinisiatif untuk mengedukasi dan membantu masyarakat dan para pelaku usaha dalam mengelola sampah dan limbah yang mereka hasilkan secara tepat dan sesuai dengan standar pengendalian pencemaran lingkungan hidup,” lanjut Gufron.

Layanan ECOFREN sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, yang jika tidak dikelola dengan baik akan sangat berbahaya.

(ki-ka): Gufron Mahmud, Direktur Utama PT Arah Environmental Indonesia, Rosa Ambarsari Kepala Seksi Pengelolaan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, dan Belmeier Raymond Wakil Kepala Sekolah Penabur Secondary Tanjung Duren

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 59 (1) menyatakan ‘Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya’.

Sanksi bagi yang melanggar diatur dalam pasal 103 UU tersebut, “Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Rosa Ambarsari, Kepala Seksi Pengelolaan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menjelaskan, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta DKI menaruh perhatian pada pengelolaan limbah B3. Pihaknya sudah menyediakan 6 lokasi pengolahan limba B3 dan punya truk khusus untuk mengangkut limbah B3. “Targetnya setiap Kecamatan di DKI memiliki satu pengolahan limbah B3,” tuturnya.

Edukasi mengenai limbah B3 perlu digencarkan di institusi pendidikan.  Salah satu sekolah yang cukup gencar mengedukasi siswa siswanya tentang limbah B3 adalah Sekolah Penabur Secondary Tanjung Duren.

Menurut Belmeier Raymond, Wakil Kepala Sekolah PENABUR Secondary Tanjung Duren, perlu pendekatan khusus untuk melakukan edukasi limbah B3 kepada generasi digital, antara lain dengan mengundang influencer seperti Selebgram dan Youtuber. “Sekarang bukan eranya kepala sekola berbicara di depan lapangan saat upacara,” tuturnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top