Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Ad Madness

Perkuat Persepsi Lewat Customized “Angle” di TVC

www.marketing.co.idPemain layanan data di Indonesia tengah gencar berbicara soal kecepatan data. Hal ini membuat persepsi layanan data menjadi umum di mata customer. Semua berbicara paling murah dan paling cepat. AHA pun mengambil langkah berbeda dari sudut pandang lain, yakni mengambil tema iklan “Korban Buffering” untuk memenangkan customer mind share.

Salah satu aktivitas berinternet yang paling seru adalah streaming video lewat YouTube. Fenomena ini semakin nge-tren di kalangan anak muda yang merupakan bagian terbesar dari kaum Netizen (netter), terutama dengan  banyaknya artis baru yang melonjak ketenarannya lewat YouTube.

Salah satu pengalaman yang acap kali terjadi saat memutar YouTube adalah buffering, keadaan saat video terhenti dan di layar muncul ikon jam pasir, sehingga untuk menyelesaikan video tersebut user harus menunggu, dan terkadang dibuat frustasi. Nah, berangkat dari hal ini AHA sengaja mengerucutkan pesan komunikasinya pada isu “Korban Buffering”.

Hal ini sangat menarik diangkat sebagai ide kreatif dalam sebuah iklan, karena menggambarkan pengalaman nyata para netter pada saat buffering. “Tentunya agar lebih mengena, sebuah iklan harus bisa menangkap ekspresi frustasi netter tersebut, sehingga kami sengaja memperlihatkan talent dengan kepala yang muter-muter mengikuti jam pasir pada saat buffering,” ujar Rita Purnaeni, Head of Marketing, PR & CRM PT Bakrie Connectivity.

Melalui isu korban buffering, AHA ingin menyampaikan solusi lewat teknologi CDMA EVDO REV-A yang memiliki kemampuan kecepatan download hingga 3,1 Mbps dan upload hingga 1,8 Mbps. Ditambah lagi, AHA sebagai penyedia layanan internet pertama yang memiliki kerja sama dengan Google sebagai perusahaan penyedia layanan YouTube mempunyai jalur khusus dengan YouTube yang akan mengurangi jumlah “korban buffering” di Indonesia.

Durasi iklan “Korban Buffering AHA” selama 30 detik dipilih karena lebih memperkuat cerita pada efek buffering dimana talent tanpa disadari nampak kepalanya muter-muter mengikuti jam pasir dalam melakukan kegiatan lainnya. Rita menjelaskan, hal ini terkait slot commercial break yang sudah padat dan tantangan yang harus dihadapi, yaitu bagaimana membuat TV ad agar dapat mencuri perhatian sehingga unsur-unsur seperti pembuatan storyline dalam menyampaikan pesan sampai dengan eksekusi haruslah sesederhana mungkin, agar mudah diingat dan berelasi dengan target audience.

Iklan terbaru AHA yang mengangkat tema “Korban Buffering” tidak menggunakan ambassador, namun memakai orang awam sungguhan yang kerap merasakan kompromi dengan situasi buffering ini, sehingga diharapkan dapat lebih dekat dengan audience yang melihat iklan tersebut.

Menurut Rita, iklan yang efektif adalah iklan yang tidak hanya mengutamakan informasi produk sebagai pesan utama, tapi juga harus kombinasi dari pandangan customer. Setelah itu, masuk ke komunikasi, manfaat akhir produk untuk customer dan disampaikan dengan cara yang menarik. Patut diperhatikan pula penggalian audio dan sound sangat penting dalam iklan TV, selain storyline yang sederhana sehingga dapat dimengerti oleh target audience.

Respons masyarakat terhadap iklan terbaru AHA diakui Rita cukup positif. Hanya bila disangkutpautkan terhadap penjualan, ia belum bisa memberikan datanya. Keberhasilan iklan AHA dalam merebut mind share konsumen tidak lepas dari tangan-tangan kreatif lain yang membantu AHA, seperti beberapa agensi yang mengerti bagaimana mengomunikasikan teknologi dengan cara yang sederhana.

Salah satu karya AHA yang selalu terngiang di telinga adalah jingle AHA sendiri, yang diambil dari potongan lagu That’s the Way (I Like it). Dinyanyikan pertama kali oleh KC and the Sunshine Band, sebuah grup musik beraliran Punk, R&B, dan disko asal Amerika Serikat. Rita mengatakan, jingle tersebut sangat tepat dalam merepresentasikan produk AHA. “Selain mengandung unsur nama produk, di dalam liriknya, jingle tersebut juga sesuai dengan karakter target audience kami,” tandasnya.

Tantangan ke depan buat AHA, menurut Rita, ialah terus menemukan inovasi terbaru di tengah ketatnya persaingan layanan data saat ini. “Jika semua pemain telah berbicara paling cepat dan murah, maka kami harus mencari cara bagaimana agar merek AHA yang mendapat tempat di benak customer seterusnya sebagai modem terbaik,” ujar dia. (Andri Darmawan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top